Yogyakarta, Humas BRIN. Pada awal 2022 lalu Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (Puslit Arkenas) yang membawahi Balai Arkeologi (Balar) di seluruh Indonesia resmi bergabung ke dalam Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Demikian halnya dengan Kantor Arkeologi Yogyakarta. Untuk kali pertama, Kepala BRIN Laksana Tri Handoko melakukan kunjungan ke Kantor Arkeologi Yogyakarta pada Kamis (24/3).

Tujuannya berkunjung adalah melihat aset serta memberikan apresiasi atas bergabungnya eks-Arkenas dengan komitmen penuh. Selain itu, Handoko juga menyampaikan terkait kinerja yang diharapkan BRIN. “Untuk melakukan kegiatan, semua tidak boleh menunggu DIPA (Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran). Kita bekerja bukan karena ada DIPA, tetapi karena ada kreativitas,” ungkapnya.

Lebih lanjut Handoko menjelaskan bahwa DIPA hanya sekedar membantu pada saat diperlukan anggaran, dan tidak semua riset memerlukan anggaran. “Saya yakin periset memiliki banyak data, tinggal bagaimana mengolah data yang ada untuk memproduksi knowledge,” ungkapnya. “… dan BRIN membebaskan periset untuk melakukan hal itu, yang kita lihat adalah kinerja secara murni berdasarkan output,” tambahnya.

Kepala BRIN juga berharap periset memiliki dedikasi serta motivasi secara mandiri. “Melakukan kolaborasi dan kerja sama penting untuk dilakukan, karena tidak mungkin periset akan bekerja sendiri. BRIN sudah menyediakan banyak skema untuk mengafirmasi dalam proses kolaborasi, termasuk bagaimana mencari orang-orang yang bisa menjadi mitra,” jelasnya lebih lanjut. Skema dimaksud antara lain adalah Visiting Professor, yaitumendatangkan orang asing dan juga orang Indonesia yang mempunyai kepakaran sesuai bidangnya untuk diajak bekerja sama. Juga dapat dilakukan dengan skema Postdoctoral.

Sementara itu, Plt. Kepala Organisasi Riset Arkeologi, Bahasa, dan Sastra Herry Jogaswara dalam kesempatan terpisah menyampaikan harapan khususnya bagi periset bidang Arkeologi. Ia berharap periset Arkeologi dapat menghasilkan banyak publikasi Internasional. Sebab menurutnya, hal tersebut dapat menunjukkan posisi periset Indonesia di kancah global. “Jika dulu Arkeolog harus melakukan berbagai hal, maka sekarang Arkeolog hanya melakukan riset, hal-hal lainnya akan ditangani oleh unit lain di BRIN,” jelasnya. Menurutnya, Arkeologi Indonesia seharusnya bisa menjadi yang terbaik minimal di Asia Tenggara, karena Indonesia memiliki keberagaman serta sejarah yang panjang.

Kunjungan Kepala BRIN di Kantor Arkeologi Yogyakarta ini sekaligus menjadi kesempatan bagi periset untuk berdialog secara langsung. “Ini kesempatan yang baik untuk dapat berdiskusi, berkomunikasi, menyampaikan dinamika riset Arkeologi yang memiliki spesifikasi khusus, karena tidak semua negara memiliki data Arkeologi selengkap di Indonesia,” ujar Sugeng Riyanto, Kepala Kantor Arkelogi Yogyakarta.  (tek, ksa/ ed: drs)

Sebarkan