Riau – Humas BRIN, Dalam rangka upaya pencegahan bencana asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Riau Tahun 2022, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menggelar Operasi Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC). Pelaksanaan operasi TMC di Provinsi Riau merupakan tindaklanjut dari arahan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) saat memimpin Rapat Koordinasi Teknis Pengendalian Karhutla dan Antisipasi Musim Kemarau Tahun 2022 yang diselenggarakan secara daring pada tanggal 8 Maret 2022. Salah satu poin penting yang dihasilkan dalam rapat tersebut yaitu perlunya segera dilakukan upaya pembasahan lahan gambut dengan memanfaatkan TMC di sejumlah wilayah provinsi rawan karhutla di Pulau Sumatera dan Kalimantan, guna menekan risiko kejadian bencana karhutla menjelang musim kemarau.

Dalam rapat tersebut, pihak Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengingatkan adanya potensi bencana karhutla tahun 2022 yang lebih tinggi dibanding tahun-tahun sebelumnya dengan pertimbangan perkiraan musim kemarau tahun ini diperkirakan dominan bersifat normal, bahkan sebagian kecil bersifat di bawah normal. Sebelumnya, Gubernur Riau melalui Keputusan Gubernur Nomor: KPPS 653/III/2022 tanggal 21 Maret 2022 juga telah mengeluarkan status Siaga Darurat Bencana Kebakaran Hutan dan Lahan di Provinsi Riau tahun 2022.

Menindaklanjuti kedua hal tersebut, rencana pelaksanaan operasi TMC di Provinsi Riau kemudian dimatangkan dan dibahas kembali dalam Rapat Koordinasi berikutnya pada tanggal 6 April 2022 yang terselenggara di kantor Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan dipimpin oleh Kepala BNPB. Dalam rapat tersebut, BRIN diminta untuk segera menyiapkan pelaksanaan operasi TMC di Provinsi Riau, mengingat wilayah Riau merupakan wilayah yang paling rawan dibandingkan wilayah lainnya berdasarkan pantauan data titik api dari KLHK.

Plt. Deputi Infrastruktur Riset dan Inovasi BRIN, Yan Rianto, menyatakan bahwa bencana kabut asap karhutla perlu mendapat perhatian khusus dari Pemerintah Indonesia karena sifat kejadiannya umumnya berlangsung dalam periode yang cukup panjang dan kerap menimbulkan banyak kerugian dalam skala yang cukup luas. “Selain merusak keanekaragaman hayati dalam ekosistem hutan, dampak negatif kabut asap lainnya adalah terganggunya lalu lintas transportasi udara serta lumpuhnya berbagai aktivitas ekonomi dan sosial masyarakat di daerah terdampak bencana. Oleh karena itu perlu diambil langkah-langkah mitigasi untuk mereduksi resiko bencana kebakaran hutan dan lahan akibat kemunculan titik api di sejumlah wilayah provinsi rawan bencana, salah satunya melalui upaya TMC.” ujar Yan.

Plt. Direktur Penguatan dan Kemitraan, Infrastruktur Riset dan Inovasi, Salim Mustofa mengatakan, pelaksanaan TMC di Riau rencananya akan berlangsung selama 15 hari dengan dukungan anggaran dari KLHK yang menggandeng PT RAPP (Riau Andalan Pulp and Paper) untuk membiayai pelaksanaan TMC di Provinsi Riau kali ini.

“Pelaksanaan TMC di Provinsi Riau kali ini merupakan awal dari sejumlah rencana operasi TMC di beberapa provinsi rawan bencana karhutla lainnya. Selain Riau, selanjutnya kami juga berencana melakukan operasi TMC di sejumlah provinsi rawan bencana karhutla dan menjadi prioritas restorasi gambut lainnya, seperti Provinsi Sumatera Selatan – Jambi, dan juga Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah. Rencana jadwal pelaksanaan di provinsi-provinsi tersebut masih kami koordinasikan dengan KLHK, BNPB, BRGM dan BMKG” jelas Salim.

Koordinator lapangan operasi TMC di Provinsi Riau, Chandra Fadhilah merinci pelaksanaan TMC. “Tim akan memulai operasi TMC di Provinsi Riau hari ini (14/04) dengan dukungan 1 Unit Pesawat Casa 212-200 beserta kru penerbang dari Skadron 4 TNI-AU Lanud Abdulrachman Saleh Malang,” ujar Chandra.

Dikatakan Candra, pelaksanaan operasi TMC akan dikendalikan dari Pos komando (Posko) operasi TMC berlokasi di Lanud Roesmin Nurjadin Pekanbaru. “Selain personil yang bertugas di Posko, kami juga menempatkan personil di Pos Meteorologi di Dumai dan Pelalawan untuk memberikan laporan data cuaca, visual pertumbuhan awan dan kondisi lapangan setiap jamnya ke Posko untuk dianalisa, guna menentukan strategi penyemaian awan setiap harinya” tambah Chandra.

Koordinator Laboratorium Pengelolaan TMC BRIN, Budi Harsoyo, mengatakan bahwa operasi TMC dalam beberapa tahun terakhir telah menjadi solusi permanen dalam upaya pengendalian bencana karhutla di indonesia. “Berkaca dari pengalaman kejadian El Nino di tahun 2019 yang mengakibatkan bencana karhutla yang cukup masif, dimana saat itu TMC dilakukan untuk tujuan pemadaman (fire suppression), maka pelaksanaan TMC di tahun-tahun setelahnya dilakukan lebih awal untuk tujuan pembasahan lahan gambut (re-wetting). Target Operasi TMC kali ini adalah untuk menjaga tinggi muka air tanah gambut agar tetap berada di batas atas ambang batas (treshold) kekeringan, sehingga lahan gambut tidak mudah terbakar dan potensi kejadian karhutla dapat dikurangi,” kata Budi.

Kegiatan TMC di Provinsi Riau secara simbolis dibuka oleh Direktur Dukungan Sumber Daya Darurat BNPB, Rustian, yang berkesempatan hadir langsung di Posko TMC  di Lanud Roesmin Nurjaddin, Pekanbaru, Riau, Kamis (14/04/2022). “Permasalahan karhutla menjadi tanggungjawab bersama, sebagaimana arahan Presiden RI yang tertuang dalam Instruksi Presiden Nomor 3 Tahun 2020 mengenai pencegahan Karhutla. TMC merupakan salah satu upaya yang telah rutin dilakukan untuk tujuan pencegahan bencana karhutla di Indonesia. BNPB akan terus bekerjasama dengan KLHK, BRIN, BMKG, BRGM dan sejumlah pihak terkait untuk bersama-sama menangani permasalahan bencana karhutla di Indonesia,” ujar Rustian dalam sambutannya saat membuka acara launching operasi TMC di Provinsi Riau. (BDH,RYP).

Sebarkan