Surabaya – Humas BRIN. Adanya potensi tsunami akibat erupsi Gunung Anak Krakatau (GAK) perlu diwaspadai oleh masyarakat. Hal ini disampaikan oleh Widjo Kongko, Kepala Pusat Riset Teknologi Hidrodinamika (PRTH)-BRIN pada saat wawancara khusus bersama Semeidi Husrin, pada Rabu (27/04). Widjo dan Semeidi merupakan Periset BRIN sekaligus Pakar Tsunami yang tergabung dalam anggota Ikatan Ahli Tsunami Indonesia (IATSI).

Widjo menyampaikan bahwa dari data dan hasil pengamatan PVMBG-Badan Geologi, terdapat peningkatkan aktivitas GAK dari Waspada Level 2 ke Siaga Level 3. “Ini menunjukkan adanya potensi ke arah erupsi dan dapat berpotensi menimbulkan tsunami,” ungkap Widjo.

Terkait perkiraan besar kecilnya dampak tsunami, Widjo menuturkan tergantung dari pemicu sumbernya, yaitu seberapa besar aktivitas erupsi GAK dan volume longsoran kaldera atau lava yang dimuntahkannya. “Hasil kajian pemodelan tsunami yang telah dilakukan untuk kejadian erupsi akhir tahun 2018 lalu dapat dijadikan acuan untuk potensi tsunami ke depan apabila ada erupsi GAK, terutama untuk memprediksi waktu tiba tsunami di pantai dan perkiraan tingginya,” tambah Widjo.

Menurut Widjo, pemerintah telah berupaya untuk membuat program mitigasi tsunami dari tingkat hulu hingga hilir. Sebagai contoh, di tingkat hulu terdapat sistem peringatan dini apabila akan terjadi tsunami dan diseminasi untuk meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat.

Di tingkat hilir, sudah dilakukan penyiapan jalur evakuasi dan shelter atau tempat evakuasi beserta panduan perencanaan evakuasinya. Meskipun demikian, korban tsunami masih tetap ada seperti yang pernah terjadi di Selat Sunda diakhir tahun 2018.

Hal Ini menandakan program yang telah ada belum mencukupi, sehingga perlu ditingkatkan ke depannya. “Saya kira publik juga perlu mendapatkan informasi secara mendetail terkait dengan potensi ancaman tsunami di lokasi di mana mereka tinggal dan tentu saja informasi lainnya terkait dengan jalur evakuasi dan tempat evakuasi sementara,” jelas Widjo.

Terkait dengan penguatan sistem deteksi dini tsunami di Selat Sunda, menurut Semeidi, pemerintah telah memasang IDSL (Inexpensive Device for Sea Level measurement) di komplek Gunung Anak Krakatau. “Alat IDSL atau dalam bahasa Indonesia disebut PUMMA (Perangkat Ukur Murah untuk Muka Air Laut) merupakan hasil riset bersama dari (waktu itu) KKP, LIPI, UNILA dan Mitra Internasional JRC-EC yang telah dipasang di Selat Sunda, sesaat setelah kejadian tsunami tahun 2018”, jelas Semeidi.

Peralatan PUMMA ini sementara masih terpasang di Pulau Sebesi (Lampung) dan Marina Jambu (Pandeglang). Semeidi juga menjelaskan walaupun alat tersebut jauh dari komplek GAK, namun dalam 3 tahun terakhir terbukti memperlihatkan kinerja yang sangat baik. Kinerja yang dimaksud dapat dilihat dari berbagai parameter seperti kualitas data yang rapat, transmisi yang cepat (real-time), mampu memberikan peringatan (alert) jika ada anomali muka air (tsunami) dan dilengkapi dengan kamera CCTV untuk konfirmasi visual.

Dalam proses pemasangan IDSL/PUMMA di Kompleks GAK, BRIN dan BMKG bekerja sama dengan beberapa pihak. Diantaranya yaitu KKP, UNILA, BAKTI Kominfo, Telkomsel, Balawista dan lain-lain.  BAKTI Kominfo telah tuntas mockup sistem telekomunikasi satelit untuk Krakatau (Pulau Rakata). Sementara itu, Telkomsel telah tuntas membangun tower GSM di Sebesi sehingga Pulau Setung dan Panjang terkover GSM. “Dengan dukungan infrastruktur telekomunikasi dan infrastruktur terkait dari PT. Telkomsel dan BAKTI Kominfo yang dikoordinasikan oleh BMKG, sistem ini akan segera terwujud dan akan membantu BMKG dalam mendeteksi gelombang tinggi akibat aktivitas Gunung Anak Krakatau”, tutup Semeidi.

Hingga kini, BMKG bersama PVMBG Badan Geologi terus memonitor perkembangan aktivitas GAK dan muka air laut di Selat Sunda. Masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi gelombang tinggi/tsunami ini khususnya di malam hari. Masyarakat juga diharapkan tetap tenang dan tidak terpengaruh oleh isu yang tidak bertanggung jawab.  Pastikan informasi hanya bersumber dari Badan Geologi, BMKG, dan BPBD setempat. (aml/ed:sao)

Sebarkan