Jakarta – Humas BRIN. Kepala Organisasi Riset Penerbangan dan Antariksa (ORPA), Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Robertus Heru Triharjanto mengatakan, penginderaan jauh dimanfaatkan dalam berbagai bidang pembangunan, di antaranya dalam bidang aplikasi darat seperti perkebunan, kehutanan, pengamatan cadangan air, urban planning, penegakan hukum.

“Untuk aplikasi pesisir dan laut di antaranya pengamatan mangrove, terumbu karang, batimetri, penentuan Zona Potensi Penangkapan Ikan (ZPPI), pengamatan perubahan garis pantai. Sedangkan untuk aplikasi kebencanaan antara lain kebakaran hutan, pencemaran laut (oil spill), pengamatan banjir, penurunan muka tanah (land subsidence), dampak dari gempa, letusan gunung berapi, tsunami, dan sebagainya,” ujarnya saat membuka Acara BRIN  Bincang Penginderaan Jauh (BRINDER), Jumat (3/6) kemarin.

Robertus menjelaskan, dalam bidang Sustainable Development Goals (SDGs) yang sudah menjadi program dunia, pemanfaatan data penginderaan jauh juga membantu setidaknya 8 tema SDGs. Tema- tema yang dimaksud adalah tema ke 2,  Mengakhiri kelaparan (zero hunger); 5, Akses air bersih dan sanitasi (clean water and sanitation); 7, Energi bersih dan terjangkau (affordable and clean energy); 9, Industri, inovasi dan infrastruktur (industry, innovations, and infrastructure); 11, Kota dan komunitas yang berkelanjutan (sustainable cities and communities); 13, Penanganan perubahan iklim (climate action); 14, Menjaga ekosistem laut (life below water); dan nomor 15 yaitu Menjaga ekosistem darat (life on land).

“Setelah terintegrasi ke dalam BRIN, pelayanan teknologi penginderaan jauh akan semakin ditingkatkan. Termasuk di dalamnya, upaya diseminasi teknologi penginderaan jauh agar dimasa datang penginderaan jauh di Indonesia akan semakin melibatkan berbagai unsur di dalam masyarakat termasuk diantaranya dunia usaha,” tegasnya.

Sementara itu Plt Kepala Pusat Riset Penginderaan Jauh (PRPJ), Rahmat Arief selaku penanggung jawab dari kegiatan webinar BRINDER ini menyampaikan tujuan dari diselenggarakannya kegiatan webinar tersebut adalah pertama untuk meningkatkan wawasan, memasyarakatkan teknologi dan pemanfaatan penginderaan jauh kepada dunia luas khususnya sampai ke pelosok tanah air. Yang kedua mendiskusikan, berbagi pengetahuan dan sharing pengalaman tentang topik-topik hangat, dan sekaligus menjadikan wadah komunikasi di komunitas masyarakat penginderaan jauh baik nasional maupun internasional.

“Indonesia merupakan negara kepulauan yang sangat besar dengan luas lebih dari 1,9 juta km2 yg terdiri dari 17.000 pulau lebih. Hal tersebut merupakan potensi yang besar dari sisi Sumber Daya Alam baik di darat maupun di laut sebagai modal dalam pembangunan”, kata Rahmat Arief. Dia juga mengungkapkan mengenai kelebihan data citra penginderaan jauh dibandingkan data lainnya. “Pilihan data penginderaan jauh karena cakupannya yang luas, diperoleh dengan cepat, aktual dan faktual, hemat biaya waktu dan tenaga,” pungkasnya.

Sebagai informasi, sejumlah pakar hadir dalam webinar ini, dua di antaranya Prof. Dr. Ir. Bangun Muljo Sukojo, DEA, DESS (Guru Besar Departemen Teknik Geomatika, Fakultas Teknik Sipil, Perencanaan, dan Kebumian, Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Surabaya) dan Prof. Dr. Ir. Dony Kushardono, M.Eng., (Peneliti Ahli Utama BRIN). (ngd/rsa, ed: drs)

Sebarkan