Jakarta – Humas BRIN, Pemanfaatan data penginderaan jauh melalui Copernicus merupakan upaya kerja sama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dengan EU Copernicus, sebuah lembaga milik negara-negara anggota Uni Eropa yang memiliki fungsi dalam pengamatan Bumi dan lingkungannya. Kerja sama ini diwujudkan dengan menyelenggarakan Joint Workshop on Copernicus secara virtual, Rabu (16/03). Melalui gelaran workshop internasional bersama ini diharapkan menghasilkan rekomendasi yang mendorong terwujudnya kolaborasi potensial di masa depan dalam pemanfataan data penginderaan jauh dari topik utama dalam workshop ini, yaitu pertanian, lingkungan dan kehutanan, kelautan dan perikanan, serta otoritas penanggulangan bencana.

Dalam pidato pembukaannya, Kepala BRIN, Dr. Laksana Tri Handoko mengatakan, “Program antariksa Indonesia yang dipimpin oleh BRIN ingin meningkatkan kapasitas dalam penginderaan jauh dan pengaplikasiannya sejalan dengan EU Copernicus”. Dalam kesempatan ini Handoko mengajak kepada semua stakeholder potensial secara global untuk bergabung bersama mendorong percepatan program keantariksaan Indonesia. Handoko juga mengharapkan mulai hari ini Indonesia dan Uni Eropa dapat secara konkrit menjalin kerja sama di bidang program keantariksaan di bawah Perjanjian Kemitraan dan Kerja Sama Skema Fasilitas, yang telah dirintis oleh Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional yang sekarang menjadi Organisasi Riset Penerbangan dan Antariksa di bawah BRIN.

“Copernicus adalah sistem yang mengumpulkan data dalam jumlah yang besar dari satelit secara in-situ dan tersedia secara gratis untuk dimanfaatkan bersama, menyediakan informasi yang akurat, tepat waktu, dan mudah diakses. Informasi tersebut antara lain untuk meningkatkan kelestarian lingkungan, memahami dan mengurangi dampak perubahan iklim,” kata Vincent Piket, Duta Besar Uni Eropa untuk Indonesia dan Brunei Darussalam dalam pidato sambutannya. Ia berharap melalui Copernicus dapat terjalin hubungan yang kuat antara Uni Eropa dan Indonesia tidak hanya dalam bidang riset keantariksaan namun juga pada dampak perubahan iklim yang menjadi agenda besar global.

Kepala Organisasi Riset Penerbangan dan Antariksa, Dr. Robertus Heru menjelaskan dalam presentasinya bahwa secara dasar mengenai kerja sama antariksa di Indonesia yang terbagi menjadi kategori multilateral dan bilateral. Robertus Heru yang juga sebagai pembicara kunci mengungkapkan, Indonesia memiliki kesadaran betapa pentingnya teknologi keantariksaan sejak lama. Menurutnya, hal ini dibuktikan dengan bergabungnya Indonesia menjadi bagian dari anggota United Nations Committe on the Peaceful Uses of Outer Space (UNCOPUOS) sejak tahun 1973. Tiga tahun kemudian, UNCOPUOS berhasil meluncurkan satelit komunikasinya sendiri, Palapa-1.

“Agenda diplomasi Indonesia adalah untuk tujuan damai dan akses yang adil ke luar angkasa karena kami percaya, kunci dari penerapan antariksa yang keberlanjutan hanya dapat terjadi jika semua pihak berkomitmen untuk menggunakan luar angkasa untuk tujuan perdamaian,” tegasnya.

Lebih lanjut Robertus Heru mengungkapkan sejauh ini Indonesia sangat aktif dalam program Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) UN-SPIDER yang merupakan penyediaan informasi berbasis data antariksa dalam manajemen bencana dan reaksi terhadap keadaan darurat. Ke depannya satelit Indonesia juga akan berkontribusi untuk hal tersebut. (ra/ ed: drs)

Sebarkan