Jakarta, Humas BRIN – Dukungan hasil riset dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menjadi bagian penting dalam merumuskan kebijakan pembangunan nasional dalam bidang pangan dan pertanian. Hal ini karena masih banyak permasalahan dan tantangan di bidang pangan. Seperti praktek pertanian yang masih di bawah standar, pengembangan pertanian modern dan penggunaan teknologi melalui smart farming, peningkatan kualitas benih, hingga pengaruh perubahan iklim pada produksi pangan.

Plt Direktur Pembangunan Lingkungan Hidup, Kemaritiman, Sumber Daya Alam dan Ketenaganukliran Deputi Bidang Kebijakan Pembangunan, Muhammad Abdul Kholiq menjelaskan sesuai dengan amanat UU Sisnas Iptek, BRIN berperan sebagai pendukung utama dalam Science Based Policy. Sehingga hubungan antara BRIN dan Bappenas sangat erat.

“BRIN bertugas memberikan rekomendasi penyusunan perencanaan kebijakan pembangunan nasional. Sedangkan Bappenas bertugas dalam perumusan kebijakan pembangunan nasional. Tentu ke depan BRIN erat kerjasama dengan Bappenas,” jelasnya dalam Focus Group Discussion (FGD) bidang pangan dan pertanian, Rabu (30/3).

Menurut Kholiq terdapat beberapa isu-isu strategis yang dibahas dalam FGD ini, sebagaimana telah disampaikan dalam Forum Komunikasi Riset dan Inovasi (FKRI) tahun lalu. Di antaranya Bappenas saat ini sedang mulai menyusun RPJP 2025-2045 menyongsong Indonesia Emas dan RPJMN 2025-2029 dalam membangun Digital, Blue and Green Economy. Di mana BRIN juga terlibat memberikan masukan dari hasil litbangjirap. Selain itu, BRIN juga mulai mempersiapkan tentang kajian-kajian Ibu Kota Negara (IKN), untuk penyusunan masterplan IKN baru.

Dijelaskan Kholiq secara garis besar, dari dua isu strategis tersebut pihaknya membagi per kelompok bidang. Khusus untuk bidang pangan dan pertanian, BRIN berupaya untuk membangun Green Economy melalui smart farming dan circular economy untuk sektor pangan dan pertanian. “Dalam membangun Green Economy, kita ingin memastikan ekonomi yang berkelanjutan dengan memperhatikan kelestarian lingkungan, ekonomi rendah karbon, energi baru terbarukan dan ketenaganukliran. Sementara melalui circular economy kita ingin mengurangi ekstraksi sumber daya alam, memanfaatkan limbah/sampah menjadi putaran ekonomi baru,” ulasnya.

Selanjutnya, BRIN juga terlibat dalam kajian percepatan masterplan IKN Baru. Salah satu kajian penting yaitu mengenai ketahanan pangan di IKN Baru, industri pangan dan pengolahan hasil pertanian di kawasan pendukung IKN baru. “Target output dari FGD Bidang Pangan dan Pertanian ini diharapkan dapat menghasilkan 1 policy paper, 1 policy brief/memo, 2 Karya Tulis Ilmiah Internasional (KTI), dan 1 KTI Nasional,” sebutnya.

Noor Avianto Koordinator Pangan dan Pertanian Direktorat Pangan dan Pertanian Bappenas menjelaskan berdasarkan Perpres 18/2020 tentang RPJMN 2020-2024. Ada dua prioritas bidang pangan dan pertanian yaitu program peningkatan ketersedian akses dan kualitas konsumsi pangan serta program peningkatan nilai tambah, lapangan kerja, dan investasi di sektor riil dan industrialisasi. “Dukungan BRIN sangat penting dalam agenda modernasisasi dan digitalisasi pertanian. Selain juga inovasi teknologi dalam praktek budidaya pertanian yang tepat sesuai dengan daerahnya dan lahan dalam meningkatkan produktivitas pangan,” ungkapnya.

Menurutnya, penguatan substansi pangan dan pertanian sangat membutuhkan hasil riset dan inovasi. Di antaranya untuk dapat melakukan resiliensi bencana dan pengelolaan lahan, benih tahan iklim, pupuk, pakan dan pestisida, pertanian presisi dan rendah karbon, pengeloahan pangan dan pangan olahan, produk turunan dari pangan dan social engineering petani dan kelembagaan petani.

“Ini penting untuk mendorong produktivitas dari sisi teknologi. Kita juga ingin mendorong petani milenial bisa masuk dengan teknologi dan nantinya bisa menggantikan tenaga kerja yang saat ini kuantitasnya menurun,” ungkapnya.

Muh Takdir Mulyadi, Direktur Perlindungan Tanaman Pangan Kementerian Pertanian menyebutkan ada tiga komoditas strategis nasional, yaitu padi, jagung dan kedelai. Dari ketiga komoditas tersebut masih perlu ditingkatkan produktivitasnya. Selain juga penggunaan pupuk kimia dan pestisida yang harus mulai dicermati.

“Saya rasa teman teman peneliti di BRIN sudah sangat paham terkait dengan bagaimana rekomendasi yang dilaksanakan ini untuk mengubah mainset petani agar tidak menggunakan pupuk kimia yang berlebihan. Kita harapkan ada rekomendasi dan kajian dari BRIN agar tidak harus seperti sekarang, di samping penggunaan pupuk hayati atau organik. Kemudian bagaimana penggunaan pestisida bisa dikurangi agar bisa menurunkan biaya produksinya bagi petani,” jelasnya.

Di sisi lain, Kementan juga menyebutkan banyak lahan yang perlu dioptimalkan seperti lahan rawa dan lembap. Hanya saja permasalahan ada di kesuburan tanah. “Ini juga peluang dan tantangan peneliti untuk menyiapkan bahan bagaimana meningkatkan dan memanfaatkan pertanian di lahan lahan marginal dalam rangka menjaga pangan kita,” tambahnya. (jml)

Sebarkan