Jakarta – Humas BRIN. “BRIN akan dengan senang hati membantu untuk mendukung proses pengembangan sektor pertanian Sumatera Barat agar lebih maju lagi, untuk pupuk organic hayati BRIN memang sudah cukup lama mengembangkan itu juga yang paska panen untuk berbagai kasus, berbagai metode juga termasuk mengelola paska panen untuk fortifikasi, stunting dan lain sebagainya,” jelas Kepala BRIN, Laksana Tri Handoko, dalam kesempatan audiensi dengan Gubernur Sumatera Barat di Aula Inovasi Gedung BRIN, Thamrin, Jakarta (8/4).


“Kami merasa tertantang untuk menyiapkan teknologi – teknologi yang dibutuhkan terkait dengan kebutuhan di sektor pertanian, pangan dan lainnya yang dibutuhkan oleh provinsi Sumatera Barat,” ungkap Handoko.
Gubernur Sumatra Barat (Sumbar), Mahyeldi Ansharullah, mengatakan potensi pertanian di daerahnya sangat besar. Di tahun 2021 pertanian merupakan sektor unggulan Sumbar yang menyumbang Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) hingga 21 persen. “Dalam masa covid kemarin pertanian menjadi salah satu bidang yang tidak terdampak dari pandemi,” kata Mahyeldi.


Dirinya mengatakan, Sumatera barat juga menyuplai tanaman hortikulturanya ke provinsi sekitarnya, “Kami juga menyuplai tanaman hortikultura ke provinsi sekitar seperti, Riau, Kepri, dan provinsi tetangga kita yaitu Jambi,” ungkap Mahyeldi.


“Sektor pertanian, kehutanan dan perikanan menjadi penyumbang terbesar PDRB Sumatera sebesar 23,16%, disusul dengan sektor perdagangan besar dan eceran seperti reparasi mobil dan sepeda motor sebesar 15,31 %, kemudian sektor transportasi dan pergudangan sebesar 12,66 %,” jelas Mahyeldi dalam paparannya.
“Alasan kami hadir disini salah satunya antara lain ingin mendapatkan teknologi untuk mengembangkan pupuk organik, sekarang ini kami di Sumatera Barat mengambil kebijakan untuk Aparatur Sipil Negara (ASN) provinsi agar mengkonsumsi produk organik hal ini dalam rangka untuk mendorong pertanian organik, ” tambah Mahyeldi.


“Selain itu di bidang pertanian kami juga membutuhkan teknologi untuk mengganti pestisida sintetis dengan pestisida botani sebagai pengendali hama, serta teknologi untuk pengolahan minyak atsiri dan teknologi untuk memperbanyak bibit dan benih melalui kultur jaringan maupun teknologi perbanyak lainnya,” jelas Mahyeldi.


“Di bidang pangan, kami membutuhkan teknologi sederhana yang dapat mendeteksi kandungan formalin dan bahan berbahaya pada bahan dan produk makanan olahan, teknologi coating untuk produk segar tanaman agar dapat disimpan pada jangka waktu yang lebih lama dan teknologi pengeringan produk tanaman atau bahan makanan yang tidak tergantung pada cuaca,” pungkas Mahyedi.


Kepala Organisasi Riset Pertanian dan Pangan, Puji Lestari menjelaskan, “Terkait dengan membantu percepatan program unggulan di Sumatera Barat, terutama yang terkait dengan komoditas – komoditas pertanian dan pangan, BRIN siap dengan teknologinya. Aplikasinya nanti akan langsung didampingi dengan ahlinya, selain itu juga ada beberapa teknologi yang sedang dalam proses penelitian dan pengembangan jadi nanti bisa dikolaborasikan”.


Dijelaskan Puji, untuk pupuk organik cair sudah dikembangkan di BRIN sebagian yang sudah dipatenkan nanti akan coba diaplikasikan pada komoditas sayur misalnya dengan beberapa metode aplikasi. Terkait dengan pupuk organik padat kita juga sudah mempunyai produknya, ini sudah dapat diaplikasikan untuk meningkatkan produktivitas tanah. Terkait dengan perbaikan struktur fisika, biologi dan kimia tanah akhirnya nanti bisa meningkatkan produktivitas tanaman.


“Kami juga telah mengembangkan teknologi pengolahan minyak atsiri, ada dua teknologi yang pertama ekstraksi untuk penyulingan minyak atsiri dan yang kedua pemurnian untuk minyak atsirinya. Untuk melihat proses pengolahannya bisa visit ke laboratorium kami di Puspiptek, Serpong,” jelas Puji.


“BRIN juga mempunyai teknologi dan keahlian dalam perbanyak bibit secara kultur jaringan, teknologi ini tergantung jenis atau genotype tapi insya Allah selama ini kami coba dibeberapa varietas yang agak sulit dan bisa dilakukan, fasilitas yang digunakan pun tidak begitu membutuhkan peralatan yang sangat mahal,” pungkasnya. (set/ed:drs)

Sebarkan