Jakarta – Humas BRIN, Indonesia merupakan negara dengan wilayah yang terdiri dari 60 hingga 70 persen laut dalam, dengan kedalaman lebih dari 200 meter. Dengan wilayah laut yang sangat luas, Indonesia menjadi salah satu laboratorium alam di dunia yang paling ideal dalam melakukan penelitian. Untuk mendukung riset dan inovasi kelautan, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memiliki program, yakni Fasilitasi Hari Layar.

Fasilitasi Hari Layar, merupakan program yang dapat memanfaatkan fasilitas kapal riset BRIN guna melakukan akuisisi data dan/atau koleksi spesimen yang memerlukan kapal riset. Program ini terbuka dan inklusif untuk para periset dari BRIN maupun di luar BRIN, dosen, dan mahasiswa.

Plt. Direktur Pengelolaan Armada Kapal Riset BRIN, Nugroho Dwi Hananto, mengatakan, selama ini, riset terkait kelautan Indonesia masih sangat kurang karena keterbatasan waktu berlayar dan akses fasilitas kapal riset, serta belum adanya kolaborasi antar periset. Menurutnya, skema pendanaan dan kolaborasi periset melalui Fasilitasi Hari Layar dapat memberikan terobosan riset kelautan, khususnya di Indonesia.

“Dulu kami (periset) hanya mendapatkan kesempatan berlayar selama 15 hari dari Jakarta ke Teluk Tomini, Sulawesi. Kemudian baru bisa berlayar lagi tahun depan selama 20 hari ke wilayah lainnya. Nah, dengan skema pendanaan Fasilitasi Hari Layar ini dapat memberikan kesempatan yang sama bagi semua periset, baik dari segi waktu maupun akses fasilitas kapal riset, dengan berkolaborasi antar periset,” ungkapnya, saat webinar Fasilitasi Hari Layar, secara daring, Rabu (22/12).

Lebih lanjut Nugroho memaparkan, BRIN memiliki armada Kapal Riset (KR) Baruna Jaya untuk mendukung riset samudra bagi periset Indonesia dan periset asing yang bekerja sama dengan periset Indonesia. Rencananya, armada KR Baruna Jaya I, III dan, VIII akan berlayar sebanyak 300 hari layar pada tahun 2022.

KR Baruna Jaya I dan III telah dilengkapi dengan peralatan Multibema Ecosounder, yang dapat mencapai kedalaman hingga 10 ribu meter untuk KR I dan 8 ribu meter untuk KR 3. Sehingga, para periset dapat memetakan seluruh lautan di Indonesia untuk melihat struktur-struktur spesifik, seperti gunung api, sumber gempa, sumber tsunami di bawah laut, palung, dan sebagainya.

“Dengan kita petakan, kita bisa melihat apakah ada keanekaragaman hayati di ekosistem ekstrim laut dalam,” tambahnya.

Selain itu, armada kapal riset dilengkapi dengan peralatan portable, seperti isaac klein midwater trawl, plankton net, sedimen grab, sedimen core, rock dredge, dan box core. Dengan peralatan ini, jelas Nugroho, para periset dapat melakukan riset geosains kelautan.

“Di Indonesia ada 295 patahan aktif, namun hanya sedikit yang bisa kita petakan, dan lebih sedikit lagi patahan di laut yang bisa kita petakan. Kenapa? Karena selama ini kita belum bisa melihat, dan saatnya dengan Fasilitasi Hari Layar ini kita bisa memetakan, dengan peralatan yang kita miliki,” tegasnya.

Fasilitasi Kapal Riset, lanjut Nugroho, juga terbuka untuk kalangan perguruan tinggi. Saat ini, terdapat lebih dari 80 fakultas ilmu kelautan dan ilmu kebumian di Indonesia, sehingga kolaborasi dengan perguruan tinggi sangat diperlukan untuk memanfaatkan armada kapal riset. Ia berharap pada akhirnya, riset dan inovasi kelautan dapat menghasilkan publikasi secara nasional dan internasional.

“Indonesia sampai saat ini belum menyerahkan Global Ocean Science Report. Mari kita gunakan Hari Layar ini untuk mengumpulkan data dan informasi yang dapat kita sampaikan kepada The Intergovernmental Oceanographic Commission of UNESCO (IOC-UNESCO), untuk mendukung United Nation Decade of Ocean Science for Sustainable development,” tandasnya.

Plt. Direktur Pendanaan Riset dan Inovasi, Hotmatua Daulay, mengatakan, tujuan dari pendanaan Fasilitasi Hari Layar ini adalah untuk terlaksananya akuisisi data dan/atau spesimen koleksi kelautan menggunakan kapal riset BRIN, yang diperlukan untuk melakukan riset multidisiplin.

Sehingga, program ini dapat menghasilkan temuan ilmiah signifikan dalam mengungkap keanekaragaman hayati dan non-hayati dalam skala makro, mikro, dan molekuler dan pemanfaatannya secara berkelanjutan, seperti untuk melakukan riset pesisir, lautan, dan samudera oleh para periset dan mitranya dalam bidang pemetaan dan geosains kelautan, oseanografi dan sains atmosfer, biologi laut dan perikanan.

Untuk memperoleh pendanaan dari kegiatan Fasilitas Hari Layar, para periset dapat mengusulkan proposal, baik secara individu maupun tim, melalui laman https://pendanaan-risnov.brin.go.id/.

Webinar Fasilitasi Hari Layar merupakan rangkaian dari kegiatan Webinar Fasilitasi dan Pendanaan Riset dan Inovasi (WALIDASI), yang digelar sejak Selasa hingga Jumat (21-24/12). Selain Webinar Fasilitasi Hari Layar, rangkaian webinar akan diisi dengan topik lain, yaitu Pendanaan Ekspedisi dan Eksplorasi, Fasilitasi Pengujian Produk Inovasi Kesehatan, Fasilitasi Pembentukan Pusat Kolaborasi Riset di Perguruan Tinggi atau Industri, Prioritas Riset Nasional dan Covid-19, Pendanaan Perusahaan Pemula Berbasis Riset, dan Akuisisi Pengetahuan Lokal (tnt).

Sebarkan