Bandung-Humas BRIN. Kita pasti sering mendengar mengenai fenomena Blood Moon dan Super Blood Moon, bagaimana dengan fenomena Bulan Merah Jambu atau Pink Moon? Andi Pangerang, Peneliti Pusat Riset Antariksa BRIN, mengungkapkan bahwa menurut almanak petani di Amerika Serikat, purnama di bulan April ini bertepatan dengan tumbuhnya bunga phlox atau semacam Geranium yang berwarna merah jambu.

“Bunga ini (phlox) hanya tumbuh di benua Amerika, sehingga warna pink bukan merujuk pada purnama yang berwarna pink melainkan fenomena musim yang mencirikan purnama tersebut. Setiap purnama memiliki namanya masing-masing disesuaikan dengan musim yang terjadi saat itu,” melalui wawancara secara daring pada Jumat (15/4).

Puncak terjadinya Pink Moon ini pada Minggu (17/4) sekitar pukul 01.54.58 WIB atau 02.54.58 WITA atau 03.54.58 WIT, sehingga fenomena ini dapat disaksikan sejak Sabtu malam, sekitar 16-18 menit sebelum Matahari terbenam,” tegasnya.

Andi menjelaskan, untuk kota Merauke, Pink Moon sudah dapat disaksikan sejak pukul 17.17 WIT sedangkan di kota Sabang, Pink Moon baru dapat disaksikan sejak pukul 18.30 WIB. Pink Moon dapat disaksikan selama 12 jam 12 menit (kota Sabang) hingga 12 jam 32 menit (kota Merauke).

Pink Moon ini, juga disebut sebagai Purnama Paskah karena beriringan dengan Hari Raya Paskah Minggu bagi umat Kristiani maupun Hari Raya Pesakh bagi umat Yahudi. Pink Moon dapat disaksikan di seluruh Indonesia sejak Sabtu (16/4) pukul 17.17 WIT hingga pukul 06.49 WIT keesokan harinya untuk lokasi paling awal (kota Merauke), dan sejak pukul 18.30 WIB hingga pukul 18.42 WIB keesokan harinya untuk lokasi paling akhir (kota Sabang). Arahnya dari timur ke barat, transit di zenit untuk lintang 7°-8°LS, di selatan untuk 6°LU-7°LS dan di utara untuk 8°-11°LS.

Pink Moon terjadi setiap bulan April sedangkan purnama paskah terjadi setiap menjelang hari raya paskah dan tidak selalu jatuh bertepatan dengan Pink Moon, bisa juga bertepatan dengan Worm Moon di bulan Maret (cw, ed. kg). 

Sebarkan