Cibinong, Humas BRIN. Berbagai fasilitas infrastruktur riset disediakan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) untuk menunjang kinerja para sivitasnya maupun kepentingan masyarakat luas. Salah satunya Indonesia Culture Collection (InaCC) yang merupakan pusat penyimpananan koleksi mikroorganisme Indonesia.

InaCC dicanangkan oleh Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono pada tanggal 24 Mei 2007 dan diresmikan oleh Wakil Presiden RI Boediono pada 11 September 2013. Saat itu InaCC masih dikelola Pusat Penelitian Biologi – LIPI. Terletak di Kompleks Cibinong Science Center – Botanical Garden (CSC-BG), Kabupaten Bogor, kini InaCC dikelola oleh Direktorat Pengelolaan Koleksi Ilmiah, Kedeputian Bidang Infrastruktur Riset dan Inovasi – BRIN.

Plt. Direktur Pengelolaan Koleksi Ilmiah-BRIN, Hendro Wicaksono mengatakan bahwa secara umum sistem manajemen pengelolaan koleksi di InaCC meliputi kegiatan menyimpan, distribusi, dan layanan jasa terkait mikroorganisme. “Pengelolaan sistem manajemen di InaCC diterapkan berdasarkan standar yang diterapkan oleh World Federation for Culture Collection (WFCC) dan diintegrasikan dengan system manajemen ISO 9001:2015,” ungkapnya.

Dirinya menjelaskan, koleksi InaCC saat ini menyimpan sebanyak kurang lebih 5900 koleksi mikroorganisme yang berasal dari 7 taksa yaitu arkea, bakterifaga, bakteri, aktinomisetes, mikroalga, khamir, dan kapang.  

Lima Layanan Fasilitas InaCC

Fasilitas layanan InaCC antara lain laboratorium, ruang penyimpanan mikroorganisme (deep freezer, ampul L-dry, nitrogen cair), ruang preparasi, ruang dokumentasi/database dan ruang pelayanan publik. Peralatan modern untuk menunjang kegiatan telah tersedia di gedung ini meliputi MALDI-TOFF, genetic analyzer, PCR-thermal cycler, real-time PCR, GC-MS, HPLC, Varioskan, scaning electron microscope, epifluorescents microscope, and barcoding system storage.

Fasilitas tersebut mendukung aktivitas layanan InaCC yaitu kegiatan menyimpan, kegiatan penelitian, jasa pelayanan. InaCC melayani pelanggan Indonesia maupun internasional dalam mengidentifikasi mikroorganisme dan analisis mikrobiologi lainnya. InaCC berperan antara lain: Pertama, Center for microbial preservation, yakni menyediakan tempat dan fasilitas penyimpanan sumberdaya mikroorganisme referensi dan hasil eksplorasi.

Kedua, Center for patented microbial preservation, yakni menyediakan tempat dan fasilitas penyimpanan sumberdaya mikroorganisme untuk kepentingan paten (international depository authority, IDA). Ketiga, Center for microbial access, yaitu menyediakan tempat dan fasilitas pengaksesan sumberdaya mikroorganisme referensi yang digunakan dalam kegiatan penelitian, akademik dan sektor industri/perekonomian. Keempat, Center for research on microbial exploration, yaitu menyediakan tempat dan fasilitas untuk kegiatan penelitian eksplorasi sumberdaya mikroorganisme. Kelima, Center for training on microorganisms handling, yakni menyediakan tempat dan fasilitas untuk kegiatan pelatihan/training. Keenam, Center for public awareness on microbial roles and bioprospects; menyediakan tempat dan fasilitas untuk kegiatan penyadartahuan sumberdaya mikroorganisme.

Hendro berharap, akses pemanfaataan mikroorganisme di InaCC terus meningkat khususnya untuk kepentingan bioteknologi, energi, pangan, pakan, pertanian, kesehatan, serta lingkungan. “Pemanfaatan diharapkan selaras dengan perundang-undangan dan komitmen internasional, serta keamanan keselamatan lingkungan. “Ke depan, BRIN melakukan pengaturan tata kelola akses, pelindungan, pemanfaatan, distribusi, Material Transfer Agreement (MTA), system dan informasi elektronik, pangkalan data mikroorganisme, serta pembinaan dan pengawasannya,” ungkapnya.

Sementara Arif Nurkanto sebagai Ketua Kelompok Penelitian Biosistematika dan Evolusi Mikroorganisme dari Pusat Riset Biologi BRIN mengungkapkan, InaCC berperan penting dalam penempatan mikroba/penyimpanan dalam kondisi hidup dan viable (terutama mikroba Indonesia) yang disiolasi dari berbagai macam sumber, yang merepresentasikan kenaekaragaman hayati Indonesia.

“Koleksi mikroba tersebut selain sebagai referensi dan studi ilmiah, juga berperan dalam bioprospeksi,” terangnya. “Karena mikroba merupakan penghasil bahan aktif obat, enzim-enzim penting, agen buiremidiasi, fermented food, biokontrol, material dan serat, dan fungsi-fungsi lain,” tambahnya.

Arif berharap, InaCC akan menjadi salah satu pusat koleksi dan referensi dunia yang terlengkap. Di samping itu, InaCC diharapkan menjadi center dari riset bioprospeksi mikroba. “Dengan disahkannya Perpres Nomor 1 tahun 2021 tentang pengelolaan mikroba, maka InaCC akan menjadi fasilitas riset baik dalam penyimpanan, regulasi, dan pembinaan terkait koleksi mikroba,” pungkasnya.  (shf ed sl)

Sebarkan