Jakarta – Humas BRIN, Akselerasi ekosistem riset dan inovasi pada teknologi penerbangan dan antariksa akan mewujudkan kemandirian indonesia dalam kancah kedirgantaraan internasional. Hal itu disampaikan Plt. Kepala Organisasi Riset Penerbangan dan Antariksa (ORPA), Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Erna Sri Adiningsih pada acara rangkaian Webinar Riset #1, Senin (13/12).

Erna menjelaskan, ORPA yang sebelumnya bernama Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) menjadi satu-satunya organisasi riset di bidang penerbangan dan antariksa di Indonesia. ORPA mempunyai tugas melakukan penelitian dan pengembangan kedirgantaraan dan pemanfaatannya serta penyelenggaraan keantariksaan. 

“Lingkup dari tugas ini meliputi teknologi satelit, teknologi roket, teknologi pesawat, sains antariksa dan atmosfir, dan penginderaan jarak jauh,” kata Erna.

Agar akselerasi ekosistem riset khususnya di bidang teknologi penerbangan dan antariksa segera terwujud, ORPA diberikan mandat oleh pimpinan BRIN untuk mengawal pelaksanaan Rumah Program Keantariksaan. Di dalam rumah program inilah, seluruh kegiatan penelitian dan pengembangan terkait penerbangan dan antariksa dilaksanakan.

“Untuk melaksanakan rumah program ini, diberikan alokasi anggaran sebesar 75M dengan target 7 model, 50 purwarupa, dan target output tambahan 60 kekayaan intelektual, 200 publikasi internasional, dan 4 desain industri,” tambah Erna.

Erna menyebutkan, selama tahun 2021 banyak capaian yang telah dihasilkan oleh ORPA, salah satunya di bidang satelit, dimana ORPA telah berhasil mengembangkan satelit dan sudah diluncurkan yakni seri A3. Untuk seri A4, saat ini sedang dalam penyelesaian akhir di laboratorium yang ada di pusat teknologi satelit, dan diharapkan tahun depan satelit ini bisa diluncurkan.

Melalui penelitian dan pengembangan satelit ini, terbuka lebar kesempatan bagi para periset untuk melakukan berbagai perbaikan terhadap kinerja satelit tersebut. “Hal ini menjadi dasar kita untuk tahun depan harus membuat strategi yang lebih advance bukan hanya untuk satelit eksperimental tapi juga untuk satelit operasional dan dapat mengurangi ketergantungan kita kepada pihak asing,” ujarnya.

Selama ini tutur Erna, Indonesia bekerja sama dengan luar negeri untuk mendapatkan data satelit yang digunakan untuk berbagai keperluan misalnya mitigasi bencana alam dan sebagainya. Oleh karena itu, perlu segera mengambil langkah percepatan diantaranya meningkatkan program kerja sama roket dua tingkat, merencanakan uji terbang satelit RX-200TC dan pembangunan gedung laboratorium mixing propelan.

Selain itu, yang terpenting menurut Erna, selama lima tahun mendatang pihaknya telah menetapkan arah riset tahun 2022 – 2026 terkait penguasaan kemandirian kedirgantaraan. Di tahun 2022 akan fokus mengembangkan satelit untuk misi remote sensing, misi keantariksaan dan atmosfer.

“Penguatan riset ini akan terus dilanjutkan, dan setidaknya di tahun 2024 diharapkan telah ada satelit untuk operasional dan roket untuk pengorbit satelit. Dengan demikian misi untuk telekomunikasi dan penginderaan jarak jauh dapat dipenuhi oleh bangsa Indonesia sendiri,” ungkapnya. 

Arah riset 2022 – 2026 ini sudah ada di dalam Peraturan Presiden Nomor 45 Tahun 2017 tentang Rencana Induk Penyelenggaraan Keantariksaan. “Intinya bangsa Indonesia ingin mewujudkan bahwa satelit kita bangun sendiri, diluncurkan dengan roket sendiri, dan dari bumi Indonesia,” pungkas Erna. (pur)

Sebarkan