Jakarta – Humas BRIN. Indonesia melalui Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menghadiri the 19th ASEAN Ministerial Meeting on Science, Technology, and Innovation (AMMSTI-19). Pertemuan tersebut antara lain membahas komitmen negara-negara anggota ASEAN untuk meningkatkan kerja sama dalam pemanfaatan Sains, Teknologi, dan Inovasi (STI) dalam mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs) 2030, dan mempercepat ekonomi rendah karbon melalui revolusi industri 4.0 (4IR).

Pada pertemuan tersebut, delegasi Indonesia menekankan pentingnya peran STI didalam mencapai SDGs 2030, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, dan pemanfaatan STI dalam pembangunan industri.

“Revolusi Industri 4.0 tidak hanya sebagai alat untuk mempercepat ekonomi rendah karbon, tetapi juga menjadi bagian penting dalam strategi pengembangan industri,” kata Deputi Bidang Fasilitasi Riset dan Inovasi, yang diwakili oleh Sekretaris Deputi Bidang Kebijakan Riset dan Inovasi BRIN, Yudho Baskoro, yang hadir pada pertemuan tersebut, secara daring, Kamis (16/06).

AMMSTI-19 menyepakati enam Prioritas Tahunan 2023, yang menjadi prioritas ASEAN Committee on Science, Technology, and Innovation (COSTI), 3 diantaranya akan dipimpin oleh Indonesia. Yang pertama adalah membangun Pusat Manajemen Teknologi ASEAN (Tahap II) akan dipimpin oleh Kamboja dan Indonesia. Kemudian pelaksanaan kegiatan “Workshop on the Implementation of Artificial Intelligence on Energy Security, Agriculture, Cyber Security and Creative Industry 2023. Indonesia juga menjadi leader dalam pengembangan peta Jalan ASEAN untuk Ekonomi Biru.

Sebagai informasi, mengacu pada The 11th Informal ASEAN Ministerial Meeting on Science, Technology and Innovation (IAMMSTI-11) tanggal 17 Juni 2021 lalu, pertemuan ini menggarisbawahi pentingnya pembentukan “Platform for STI Information Sharing” khususnya terkait riset dan pengembangan Covid-19. Pada pertemuan tersebut disepakati bahwa Indonesia akan memimpin program ini dengan tujuan untuk mengubah strategi dan rencana terbaru dalam menghadapi pandemi di masing – masing negara anggota ASEAN.

Pertemuan IAMMSTI-11 juga menekankan peran kunci STI dalam transformasi industri dan menyambut baik pengembangan berkelanjutan dari Strategi Kolaborasi pada revolusi industri 4.0 (4IR) di ASEAN, serta pengembangan sumber daya manusia pada rangkaian kegiatan 4IR. Dalam hal ini, Indonesia menjadi leader pada rangkaian kegiatan workshop implementasi kecerdasan buatan (artificial intelligence) periode 2022–2024.

AMMSTI-19 juga membahas terkait ASEAN Plan of Action on Science, Technology, and Innovation (APASTI) 2026 – 2035, yang akan memasukkan tren dan perkembangan STI terkini, sejalan dengan dorongan ASEAN untuk mempromosikan penggunaan teknologi 4IR. Selain itu, juga mengupayakan agar inovasi menjadi arus utama dan terintegrasi dengan pertumbuhan ekonomi. Hal ini sejalan dengan sasaran strategis BRIN yang bertujuan untuk meningkatkan produktivitas invensi dan inovasi untuk memperkuat transformasi ekonomi yang berdaya saing dan berkelanjutan.

Kendati masih melalui pandemi COVID-19, STI perlu dimanfaatkan lebih lanjut untuk memastikan semua negara-negara anggota ASEAN dapat mencapai SDGs secara bersama-sama. ASEAN telah dipengaruhi oleh tekanan lingkungan yang sangat besar akibat pemanasan global, urbanisasi, penggundulan hutan, kelangkaan air, penangkapan ikan yang berlebihan, dan polusi.

Teknologi 4IR, seperti kecerdasan buatan, pembelajaran mesin, Internet of Things, big data, blockchain, dan robotika dapat membantu mengatasi masalah ini, dan mengarahkan kawasan ASEAN ke ekonomi rendah karbon. Penerapan teknologi 4IR juga dapat membantu kita membuka peluang ekonomi bagi kawasan dan meningkatkan kehidupan dan mata pencaharian warga ASEAN.

Pertemuan ini diselenggarakan secara virtual, dan diketuai oleh H.E. Profesor Huynh Thanh Dat, Menteri Sains dan Teknologi, Vietnam. Selain itu, pertemuan ASEAN COSTI ke-81 dan pertemuan terkait lainnya diadakan dari 13 hingga 16 Juni 2022, secara virtual, bersamaan dengan AMMSTI-19 (tnt).

Sebarkan