SIARAN PERS

BADAN RISET DAN INOVASI NASIONAL

NO:  014/SP/HM/BKPUK/I/2022

Beberapa kalangan beranggapan bahwa anggaran riset di Indonesia pasca integrasi BRIN menjadi turun. Anggaran riset sebesar 272 milyar dianggap jauh lebih kecil ketimbang sebelum berintegrasi dengan BRIN. Kepala BRIN, Laksana Tri Handoko menjelaskan bahwa anggaran tersebut hanya untuk belanja bahan riset, selebihnya akan dibebankan pada anggaran yang terdapat di Kedeputian dan Sekretariat Utama.

Jakarta, 7 Februari 2022, Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Laksana Tri Handoko dalam Apel Pagi, Senin (07/02) menegaskan, Interpretasi terhadap anggaran riset di BRIN hanya 272 milyar, itu salah besar. Karena besaran anggaran tersebut dialokasikan hanya untuk bahan riset, yang didistribusikan langsung ke pusat riset. 

“Anggaran yang langsung diterima oleh Pusat Riset memang tidak besar, hanya sekitar 272 milyar, tapi jangan lupa, anggaran itu hanya untuk beli bahan riset, tidak untuk yang lain seperti raker, rakor, gaji pegawai, bayar listrik dan lainnya,” jelas Handoko. 

Menurutnya, banyak yang berpendapat bahwa anggaran riset menjadi turun, mengingat selama ini anggaran yang diterima oleh lembaga riset itu hanya untuk riset. Nyatanya di dalam anggaran tersebut terdapat banyak komponen seperti gaji pegawai, biaya operasional, dan lainnya.

Handoko menjelaskan, anggaran BRIN saat ini masih berasal dari eks. 5 entitas utama riset sebelumnya yakni BATAN, LIPI, BPPT, LAPAN, Kemenristek dengan total 6,096 trilyun. Anggaran tersebut bersumber dari rupiah murni, SBSN, Penerimaan Negara Bukan Pajak, dan pinjaman luar negeri.

Selain anggaran untuk belanja bahan riset tersebut, ada anggaran yang dikelola oleh Deputi SDM Iptek sebesar 188 milyar. Anggaran ini dimanfaatkan untuk membiayai research assistant, profesor tamu, postdoc, yang selama ini tidak bisa dilakukan.

”Anggaran di Kedeputian SDM Iptek antaranya untuk membiayai profesor tamu, postdoc, research assistant, mahasiswa S2/S3 program degree by-research, dan lainnya,” sebutnya.

Selain itu terdapat anggaran yang dikelola oleh Deputi Bidang Infrastruktur Riset dan Inovasi yakni sebesar 2,168 triliun. Anggaran ini diperuntukkan pembangunan dan perawatan infrastruktur untuk keperluan riset.

Penganggaran lainnya dikelola oleh Deputi Fasilitasi Riset dan Inovasi sebesar 189 milyar. Anggaran ini diperuntukkan memberikan fasilitas kepada para periset untuk melakukan berbagai kegiatan risetnya dengan memanfaatkan fasilitas riset yang dimiliki BRIN.

 “Anggaran ini dialokasikan untuk aneka hibah riset, seperti hari layar, ekspedisi, uji produk, akuisisi pengetahuan lokal, pusat kolaborasi riset, dan lainnya. Selain itu, ia menyebutkan, ada juga 650 milyar untuk hibah Prioritas Riset Nasional dan riset COVID-19. Semua hibah ini dibuka dengan sistem kompetisi terbuka untuk semua pihak termasuk kampus dan industri,” ungkapnya.

Handoko menambahkan, setidaknya ada 250 milyar di Sekretariat Utama untuk anggaran operasional. Salah satunya biaya infrastruktur dasar, seperti membayar listrik, internet, berlanggan jurnal dan utilitas lainnya. Selain itu, terdapat alokasi 2,25 trilyun untuk belanja pegawai (gaji dan tunjangan) untuk seluruh sivitas BRIN.

“Berbeda dengan sebelumnya, di mana setiap pusat dialokasikan anggaran yang kelihatannya besar, tetapi mereka harus menanggung semua hal di atas. Sehingga anggaran tersebar kecil-kecil, dan tidak memiliki daya belanja,” tandasnya.

Misalnya, ia menyebutkan, satu pusat mendapat alokasi 50 milyar, tapi itu termasuk untuk belanja pegawai dan lain sebagainya. Sehingga mereka tidak mungkin beli alat yang harganya 35 milyar. “Dengan sistem sekarang kami memiliki daya belanja yang tinggi, membeli alat untuk mendukung riset seharga 150 milyar juga bisa,” pungkasnya.

Keterangan lebih lanjut

Dyah Rachmawati Sugianto (Koordinator Komunikasi Publik)

Purnomo (PIC Hubungan Media BRIN)

Sebarkan