Yogyakarta. Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Laksana Tri Handoko meresmikan Politeknik Teknologi Nuklir Indonesia yang disingkat Poltek Nuklir, Sabtu (30/10). Berada di Jl. Babarsari Yogyakarta, Poltek Nuklir merupakan perubahan dari Sekolah Tinggi Teknologi Nuklir (STTN). STTN telah mengikuti proses perubahan regulasi dalam beberapa tahun terakhir. Undang-Undang Nomor 12 tahun 2012 pasal 59 menjadi dasar perubahan STTN dari bentuk Sekolah Tinggi menjadi Politeknik. Hal tersebut juga menyesuaikan dengan Peraturan Pemerintah Nomor 4 tahun 2014 tentang Penyelenggaraan Pendidikan Tinggi dan Pengelolaan Pendidikan Tinggi serta Permenristekdikti Nomor 54 tahun 2018 tentang Penyelenggaraan Program Diploma dalam Sistem Terbuka pada Perguruan Tinggi.

Perubahan nama dan lembaga telah dilalui dengan keluarnya rekomendasi dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 3752/D/OT/2020 tanggal 30 Desember 2020. Sedangkan persetujuan perubahan bentuk dari Sekolah Tinggi ke Politeknik sudah diterbitkan oleh Kemenpan RB Nomor B/642/M.KT.01/2021 tanggal 29 Juni 2021. Hal ini ini juga untuk menindaklanjuti Peraturan BRIN No 13/2021 yang telah diundangkan sejak 28 Oktober 2021.

Handoko menjelaskan, hal ini merupakan milestone ke-3 bagi pendidikan vokasi yang berdiri sejak 1985 dan berubah menjadi STTN pada 2001. Dengan transformasi ini, diharapkan Poltek Nuklir menjadi pusat pendidikan vokasi terkait teknologi nuklir tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di regional.

Untuk itu, BRIN bersama segenap pimpinan di Poltek Nuklir  mencanangkan 4 target yaitu (1) peningkatan status akreditasi menjadi A dari akreditasi B saat ini, (2) penambahan kapasitas menjadi 1.000 mahasiswa dari 400 mahasiswa, (3) penambahan jumlah prodi yang mengikuti perubahan/kebutuhan zaman serta menyelenggarakan S2 dan S3 Terapan, serta (4) peningkatan kualitas melalui penguatan global engagement dengan pendidikan tinggi dan institusi riset sejenis di Luar Negeri.

Lebih lanjut Handoko menjelaskan, bahwa untuk mencapai target tersebut BRIN akan mendukung secara total melalui beberapa kebijakan konkrit antara lain: Pembebasan biaya masuk dan UKT bagi seluruh mahasiswa Poltek Nuklir mulai semester depan, penyediaan asrama bagi mahasiswa pada tahun pertama dan kedua, revitalisasi dan integrasi infrastruktur serta program pendidikan dan riset dengan BRIN Babarsari, peningkatan kuantitas, dan kualitas dosen dengan percepatan peningkatan kualifikasi melalui S2/S3 by-research, peningkatan mobilitas SDM antara Poltek dan BRIN dalam bentuk sebagai asisten periset (reserch assistantship) di BRIN Babarsari dan fasilitas nuklir lain; mobilisasi periset BRIN menjadi dosen di Poltek; mobilisasi pensiunan menjadi Dosen, dan seluruh dosen maupun mahasiswa wajib menguasai bahasa Inggris secara aktif.

“Itu sebabnya dari awal dengan uang masuk dan kuliah yang digratiskan, dan harus bekerja bersama dengan periset, harapannya mahasiswa mempunyai feeling bagaimana menangani nuklir dengan baik, sehingga menghasilkan lulusan Poltek Nuklir yang solid dan menjadi lulusan terbaik dalam bidang tertentu,” ungkap Kepala BRIN.

Deputi SDM IPTEK BRIN, Edy Giri Rachman Putra menyebut adanya perubahan status ini akan menjadi tantangan baru baik dalam sistem pembelajaran maupun penguatan SDM.  “Tantangan ke depan adalah bagaimana melakukan antisipasi lingkungan strategis baik internal maupun eksternal, bagaimana pembelajaran mampu menghasilkan dan mampu menguatkan SDM yang unggul di bidang teknologi nuklir, dan menjadikan lulusan berdaya saing global,” tegasnya.

Selain itu, Edy Giri berpesan kepada para pejabat yang juga dilantik pada hari yang sama dengan peresmian Poltek, agar mampu meletakan dasar kuat sebagai Perguruan Tinggi Vokasi Nuklir satu-satunya di Indonesia dan sangat jarang di negara lain ini. Upaya menguatkan jejaring serta implementasi kerjasama dalam mengembangkan Nuclear Teaching Laboratory / Nuclear Teacing Industry bersama stakeholder dari dalam dan luar negeri juga penting, serta mampu bersinergi untuk mengubah paradigma; semangat; budaya; visi – cita cita menjadikan Poltek Nuklir mengglobal sesuai visi misi Politeknik Teknologi Nuklir Indonesia.

Sementara itu, Muhtadan selaku plt Direktur Poltek Nuklir menyampaikan bahwa perubahan bentuk STTN menjadi Politeknik Teknologi Nuklir Indonesia merupakan momentum baru sebagai perguruan tinggi vokasi dalam bidang teknologi nuklir. “Kedepan Poltek Nuklir akan semakin fokus dalam mencetak SDM iptek nuklir yang memiliki kompetensi spesifik serta kompetitif dengan beberapa langkah strategis untuk mencapai target tersebut,” ungkapnya.

Beberapa langkah strategis tersebut adalah meningkatan implementasi sistem penjaminan mutu yang melampaui SN Dikti, pengelolaan berbasis IT, peningkatan kualitas dosen, serta output penelitian dosen dan mahasiswa untuk meningkatkan nilai akreditasi. Kemudian melakukan promosi dan sosialisasi ke sekolah untuk meningkatkan animo pendaftaran dengan menawarkan fasilitas bebas uang kuliah serta kesempatan beasiswa studi lanjut hingga S3 bagi lulusan Poltek Nuklir. Langkah strategis ini juga telah didukung oleh BRIN sehingga diharapkan implementasi langkah-langkah strategis ini nantinya mampu memberikan pencapaian target secara optimal.  

Biro Komunikasi Publik, Umum dan Kesekretariatan
Badan Riset dan Inovasi Nasional