Semarang – Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Laksana Tri Handoko hadir sebagai narasumber Tokoh Inspiratif dalam acara Festival Inovasi dan Budaya Organisasi BPJS Kesehatan Tahun 2021, Jumat (29/10). Menurut Kepala BRIN dalam mewujudkan dunia riset yang baik, inovasi harus berjalan beriringan bersamaan dengan kepemimpinan yang kuat. Handoko mencontohkan dengan kondisi BRIN saat ini yang harus mengintegrasikan 5 (lima) entitas besar, yaitu Kemenristek, BATAN, LIPI, LAPAN, dan BPPT. “Inovasi perlu dibarengi dengan leadership yang kuat agar dapat berjalan dengan baik dan tepat, sehingga tidak akan menimbulkan problem ke depannya dalam upaya mewujudkan dunia riset yang unggul,” terang Kepala BRIN.

Pada kesempatan ini juga, Handoko mengungkapkan alasan Presiden Jokowi memutuskan untuk menggabungkan 5 entitas besar riset menjadi BRIN. Handoko menyebutkan Presiden menginginkan adanya pusat riset dan pusat data yang dinaungi oleh satu lembaga, sehingga akan menghasilkan kebijakan yang bersifat lintas sektoral. “Jadi ada beberapa hal sebenarnya yang disampaikan oleh Pak Jokowi yang saya ingat sejak sebelum dilantik tahun 2014, salah satunya ini (riset dan data) semua ada dimana-mana bahkan untuk objek yang sebenarnya sama. Disitulah perlunya ada pembuat rekomendasi kebijakan yang sifatnya lintas sektoral, itulah mengapa hal tersebut menjadi salah satu tugas utama BRIN,” ujar Handoko.

Handoko melanjutkan Sumber Daya Manusia (SDM) yang unggul adalah hal terpenting dalam suatu tahapan peningkatan riset di Indonesia, sehingga ini menjadi tugas BRIN untuk mencari SDM periset yang ada di dalam dan di luar negeri. “Jadi tadi saya sampaikan bahwa input riset itu cuma tiga yaitu SDM unggul, Infrastruktur, dan anggaran. SDM unggul itu 70% kontribusinya, itu sebabnya kita siapkan banyak skema dari Pendidikan Tinggi untuk kita bisa menjaring talenta-talenta SDM unggul calon periset masa depan, sekaligus juga menciptakan wadah bagi generasi muda (calon periset) yang sudah terdidik baik di dalam maupun di luar negeri dengan pendidikan yang tinggi itu bisa kembali kemudian bekerja di Indonesia,” tambahnya.

Pada hari yang sama, agenda Kepala BRIN dilanjutkan dengan melakukan kunjungan ke fasilitas riset yang berada di Universitas Sebelas Maret (UNS). Kepala BRIN berkesempatan mengunjungi ruangan Startup Lectro dan Unit Produksi baterai lithium ion UNS. “BRIN mengelola semua layanan riset secara nasional termasuk membuat kebijakanya. Kalau dari anggaran, kami mengelola semua APBN layanan riset ditambah pelayanan riset yang bersumber dari dana abadi termasuk dana abadi pendidikan.” tutur Handoko

Dana riset yang akan dikelola oleh BRIN bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Semua itu akan difokuskan kepada peningkatan infrastruktur riset yang pemakaiannya akan dibuka untuk seluruh masyarakat ilmiah Indonesia, termasuk perguruan tinggi. Sedangkan untuk dana riset yang bersumber dari dana abadi akan dikompetisikan secara terbuka berlaku baik bagi pelaku usaha, periset di dalam dan luar BRIN, komunitas maupun dosen di perguruan tinggi.

Terakhir, Kepala BRIN menyampaikan kesan-kesannya setelah meninjau fasilitas riset di UNS. Handoko menyampaikan bahwa fasilitas riset ini merupakan sebuah awal yang baik, namun demikian ia juga menyebutkan pentingnya peningkatan pada fasilitas tersebut kedepannya. “Ini inisiatif yang bagus dan cukup maju, tentunya banyak peluang untuk improve lagi khususnya terkait testing untuk baterai yang berkapasitas besar dan juga terkait dengan bahan baku mentahnya, hal ini juga menjadi bagian dalam perencanaan kami di BRIN,” imbuhnya.

Biro Komunikasi Publik, Umum, dan Kesekretariatan
Badan Riset dan Inovasi Nasional