Siapa yang tak kenal dengan kopi? Hampir setiap orang tentunya mengenal kopi, terlebih saat ini industri kopi terus naik daun dan digandrungi kaum muda maupun tua. Dapat dilihat dari banyaknya coffee shop yang ada pada saat ini, kopi sedang menjadi tren di dalam negeri ataupun luar negeri.

Proses pembuatan kopi tentunya membutuhkan waktu yang panjang, mulai dari penanaman bibit, pemetikan biji, pemisahan biji sesuai kualitasnya, pengupasan kulit, perendaman, penjemuran, penggilingan hingga menjadi bubuk dan dapat diseduh dengan air panas untuk dinikmati. Untuk mendukung pengolahan kopi, OR PPT juga telah mengembangkan mesin sangrai kopi (coffee auto roasting) yang memiliki sejumlah kenggulan. Sebut saja  kematangan biji kopi yang merata, rasa dan aroma yang sempurna,  bersih dari kulit ari, serta kadar antioksidan yang masih cukup tinggi.

Proses penggilingan biji kopi menjadi salah satu fokus utama Pusat Teknologi Agroindustri (PTA) – Organisasi Riset dan Pengkajian dan PenerapanTeknologi (OR PPT) BRIN dalam mengangkat topik Rancang Bangun Mesin Sangrai Kopi Model Fluidisasi pada Webinar Teknologi Agroindustri ‘Riset Pascapanen Tanaman Bahan Baku Industri’, Rabu (12/1). Perekayasa Madya OR PPT Gigih Atmaji,  dalam paparannya menjelaskan tahapan sangrai yang mempunyai peranan sangat penting sebelum disajikan. Ia menambahkan, Model Fluidisasi memiliki hasil roasting yang seragam baik hasil dan konsistensinya. “Pemisahan kulit kopi sangat bagus dan konstruksi mesinnya hampir free maintenance,” ujarnya.

Fluidisasi sendiri adalah metode yang digunakan untuk dapat membuat kepadatan dengan udara bertekanan. Udara panas yang berkontakan dengan biji kopi membuat biji kopi berputar dan teraduk selama prosenya dengan perpindahan panas secara konveksi. Metode fluidisasi pada mesin sangrai belum banyak digunakan di Indonesia. Petani lokal kebanyakan sudah menggunakan mesin drum sejak lama untuk melakukan sangrai biji kopi.

Hal tersebut membuat mesin sangria fluidisasi belum terlalu dikenal oleh masyarakat luas. Sangrai kopi di pasaran umumnya masih menggunakan model drum dimana prosesnya sangat bergantung pada peran dan keahlian roaster/operator. Inovasi ini menghadirkan mesin sangrai model fluidisasi, yang mengaduk dan memanasi kopi dengan udara panas bertekanan, untuk memudahkan pengendalian suhu sangrai, dengan pengadukan biji kopi yang sempurna atau terfluidisasi. Mesin sangrai dilengkapi proses pengering awal dan pendinginan (tempering) otomatis, di mana udara panas (untuk pengeringan) dan udara dingin (untuk tempering) dapat dialirkan ke ruang sangrai secara otomatis dengan waktu yang bisa diatur.

Gigih menambahkan, hambatan yang ada mengapa belum digunakan secara luas di Indonesia adalah sulitnya mengenalkan mesin ini ke masyarakat. “Untuk itu kami membentuk unit bisnis sendiri dengan cara melakukan bagi hasil untuk para petani kopi di desa, dengan kesepakatan awal 70% untuk petani, 30% untuk pegiat kopi. Dari situlah mulai banyak petani yang tertarik pada mesin ini,” paparnya. “Selain itu juga kami juga ikut bergabung dikomunitas kopi baik WA Grup, Facebook ataupun pameran untuk memperkenalkan mesin fluidisasi ini lebih jauh.” tambahnya.

Mitra dari riset ini pada awalnya adalah Iptekda Sulawesi Barat yang bekerjasama dengan BPPT pada tahun 1999, seluruh dana didanai oleh pemda dengan dikerjakan oleh PTA OR PPT BRIN. Sejak kopi mulai menjadi tren, terjadilah permintaan kerja sama riset dari Pemda Jateng melalui proyek Balitbang. Terdapat empat unit yang telah didesign untuk mesin kapasitas lima kilogram.

Pada tahun 2005 riset ini medapat program Insinas untuk mendesign mesin 300 gr dengan tenaga listrik. Tahun berikutnya riset ini mendapatkan dana dari program ristek melalui DPTM (Deseminisi Produk Teknologi Masyarakat) sebesar 110 juta dimana riset hanya dilakukan oleh PTA OR PPT BRIN.

Mesin yang dibuat pada penelitian ini berkapasitas dua kilogram, ditempatkan untuk pertama kali di Temanggung, dan sukses. Inilah yang menjadi titik balik, yaitu mesin tersebut ditempatkan pada orang yang tepat dimana banyak masukan dari orang tersebut untuk perbaikan mesin kedepannya.  “Pada akhirnya orang mengenal mesin dengan baik dan terdapat input untuk dibuatkan mesin berkapasitas 3 kg yang akhirnya kami kembangkan untuk kebutuhan para petani kopi disana,” terangnya.

Selain di Temanggung, pengaplikasian mesin Fluidisasi ini telah digunakan di Wonosobo, Malang, Banyuwangi, Aceh hingga Sulawesi Barat. Ke depannya mesin kopi sangrai model fluidisasi ini akan dicoba menambahkan modul kontrol gas otomatis untuk burner sehingga dapat melakukan power maping selama proses sangria. Diharapkan alat tersebut diharapkan dapat menjadi contoh untuk dapat dikembangkan lebih lanjut dan membuka peluang usaha bagi UKMK. (ir, sj/ ed: drs)

Sebarkan