Cibinong – Humas BRIN. Kendali mutu atau Quality Control (QC) menjadi aspek penting dalam produksi bioproduk. Tujuannya untuk memastikan kualitas sesuai standar, layak dipasarkan dan sesuai dengan harapan pelanggan. Untuk membahas lebih lanjut terkait bioproses QC, Konsorsium Bioteknologi Indonesia (KBI) bekerjasama dengan BRIN dan Its Science Indonesia (ITS) menyelenggarakan webinar bertajuk Bioproses Quality Control for Innovative Biological Products Development pada Rabu (18/5).

“Webinar ini merupakan webinar kedua yang diselenggarakan oleh KBI. Saya berharap kesempatan ini menjadi ajang transfer ilmu, dan memunculkan ide-ide dan inovasi lainnya dalam bidang bioproses quality control pada pengembangan biologi inovatif yang berguna bagi Indonesia,” ungkap Kepala Organisasi Riset Kesehatan (ORK) Ni Luh Putu Indi Dharmayanti saat membuka webinar.

Dalam kesempatan yang sama, Masteria Yunovilsa Putra selaku Kepala Pusat Riset Vaksin dan Obat BRIN  menjelaskan QC menjadi tahapan penting dalam pembuatan bioproduk. “Untuk memastian produk yang dihasilkan berkualitas, maka kita harus memperhatikan component control, dukungan fasilitas, batch record control, process control, testing product dan aspek audit,” ungkap Masteria dalam paparannya sebagai salah satu narsumber dalam webinar.

Dirinya menambahkan dalam QC terdapat dua tahapan, yaitu downstream dan upstream. Tahapan downstream menjadi tahap akhir dalam pembuatan produk. Tahap pemurnian, seleksi teknologi terjadi di tahap downsteam. Hampir 50% tahapan downstream terjadi dalam bioproses untuk menciptakan produk yang murni dan tidak terkontaminasi.

“Tahap downstream meliputi tiga tahapan yaitu primary recovery stages, intermediated recovery and final purifications stages. QC sangat berhubungan dengan produk yang kita gunakan, misal kita ingin memproduksi bioproduk herbal, maka akan dilakukan upaya ekstrak mikroorganisme yang mengacu pada pharmacopeial yang terkait denga aspek OC.  Hal ini terkait cara kita mengindentifikasi substansinya untuk kemurnian material,” imbuh Masteria.

Saat ini Virus -like Particles (VLPs) adalah model QC. Quality assessment-nya menggunakan teknologi nano. Model VLPs ini pernah digunakan pada vaksin rekombinan hepatitis virus (HBV) pada tahun 1986. “VLPs bisa menekan versality dan scalability. Versality dapat digunakan pada masa pandemik seperti yang kita alami saat ini, sedangkan scalabiity dapat dikembangkan dengan lebih mudah,” ungkap Masteria.

Saat ini teknologi QC- VLPs dapat dalam bentuk Transmission Elektron MIicroscopy (TEM), Scanning  Electron Microscopy (SEM), cyro-TEM, Super Resolution Fluorescence Microscopy (SRFM), Nanoparticle Trekking Analysis (NTA) dan  Flow Virometry.

“Untuk TEM prinsip utamanya adalah membedakan antara virus asli dan replikasinya, sedangkan teknologi terbaru cyro-TEM dengan proses cryonegic lebih memudahkan upaya penentuan struktur protein. Prinsipnya indikator yang dilihat dalam QC adalah cell identity, cell viability, microbiology, tumorigenicity, dan biological effectiveness,” ungkap Masteria. (sa ed. sl)

Sebarkan