Jakarta – Humas BRIN, Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Laksana Tri Handoko, mengatakan, secara umum ekosistem riset di Indonesia belum ideal, hal ini bisa dilihat dari masih banyaknya periset yang mengalami kesulitan yang disebabkan berbagai keterbatasan. Integrasi lembaga riset ke dalam BRIN diharapkan mampu memperbaiki ekosistem riset di Indonesia. 

“Keterbatasan yang dirasakan para periset itu diantaranya kepakaran para periset, infrastruktur seperti peralatan dan laboratorium yang belum memadai, dan penganggaran,” ujar Handoko, Jakarta, Selasa (18/01/2022).

Semua keterbatasan ini lanjut Handoko dapat diminimalisir dengan pengintegrasian seluruh entitas penelitian di Indonesia. Integrasi yang diamanatkan Peraturan Presiden Nomor 78 Tahun 2021 meliputi seluruh sumber daya riset, yakni SDM, infrastruktur, dan pendanaan.

Melalui integrasi ini, tegas Handoko, diharapkan mampu menjadi solusi atas permasalah fundamental yang selama ini dihadapi Indonesia di bidang riset. “Masalah fundamental riset di Indonesia selama ini adalah critical mass yang rendah, maka dengan integrasi ini kita mempunyai SDM yang cukup, infrastruktur yang lengkap dan pendanaan yang besar,” tegasnya.

Selain itu, integrasi merupakan salah satu upaya dalam rangka memperbaiki ekosistem riset di Indonesia agar menjadi ideal. Memperbaiki ekosistem riset tidak sekedar meningkatkan jumlah penelitian yang unggul tetapi bagaimana mencetak sebanyak mungkin orang yang bisa terlibat di dalam riset.

“Periset itu bukan eksklusif ilmuan saja, tapi setiap orang sebenarnya bisa jadi periset, dengan begitu kita bisa mendapatkan banyak inovasi yang dihasilkan. Namun kita tidak boleh fokus pada produk karena kalau hanya fokus ke produk nanti sifatnya jadi jangka pendek strateginya” tambahnya.

Terkait pendanaan riset di Indonesia, Handoko mengaku sebenarnya dana riset itu cukup besar, hanya saja tercecer di banyak lembaga/kementerian sehingga pembagiannya  kecil dan tidak bisa menghasilkan produk yang maksimal. Kendati demikian, hal yang terpenting selain pendanaan dalam riset adalah kualitas SDM dan infrastruktur.

“Dengan SDM riset dan infrastruktur yang baik, maka kita dapat menarik pendanaan dari mitra baik dalam maupun luar negeri melalui berbagai skema kolaborasi,” ujarnya.

Penelitian vaksin menjadi fokus BRIN

Pandemi covid-19 yang tak kunjung usai ini, menuntut BRIN beserta institusi lainnya untuk segera melakukan penelitian penyediaan vaksin covid. Vaksin merah putih menjadi salah satu jenis vaksin yang diharapkan menjadi vaksin yang dihasilkan oleh anak bangsa.

Ia berharap, pengembangan vaksin merah putih segera selesai dan dapat dimanfaatkan oleh masyarakat. Meski diakui bahwa untuk membuat vaksin bukanlah pekerjaan yang mudah, mengingat selama Indonesia belum banyak periset yang mempunyai pengalaman di bidang vaksin.

“Target mempunyai vaksin merah putih itu nomor satu, tetapi ada yang jauh lebih penting yaitu bagaimana menciptakan kapasitas periset yang mampu  mengembangkan vaksin secara mandiri,” tuturnya.

Kemampuan mengembangkan vaksin secara mandiri ini menurut Handoko akan menjadi modal yang penting, mengingat selama ini vaksin yang beredar di Indonesia merupakan lisensi dari produk luar negeri. Inilah yang menjadi fokus dan pembelajaran bagi BRIN untuk meningkatkan kapasitas para periset dalam pengembangan vaksin. (pur)

Sebarkan