Cibinong, Humas BRIN. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melalui Pusat Riset Bioteknologi, menggelar “The 8th-International Symposium of Innovative Bioproduction Indonesia on Biotechnology and Bioengineering (ISIBIO) 2021” secara virtual, 15-17 November 2021. Symposium ini membahas platform global tentang keanekaragaman hayati dan bioteknologi.

Keanekaragaman hayati merupakan elemen penting dalam pembangunan berkelanjutan dari kesejahteraan manusia yang mendukung fungsi ekosistem dan memberikan layanan ekosistem termasuk pemurnian air, siklus nutrisi, penyerapan karbon, degradasi polutan, pengaturan iklim. Melalui penerapan teknologi maju, keanekaragaman hayati juga menyediakan produk alam dan turunan sintetiknya seperti obat-obatan, makanan, serat, energi, dan produk berbasis hayati lainnya (bioproduk).

Bioteknologi merupakan sarana yang tepat untuk mempercepat pengembangan produk-produk inovatif yang berasal dari bio-kimia. Berbagi informasi dan pengetahuan tentang pemutakhiran penelitian keanekaragaman hayati dan bioteknologi dalam platform ilmiah diperlukan untuk mendorong hasil-hasil inovatif dari sumber daya hayati.

“Mengembangkan Kebun Raya Indonesia bekerjasama dengan pemerintah daerah setempat merupakan langkah nyata dalam melaksakan konservasi ex-situ yang selaras dengan perubahan iklim global yang menjadi tanggung jawab kita bersama. Selain itu untuk pengembangan ekonomi berbasis keanekaragaman hayati dalam bentuk obat produk kimia dan farmasi dan saat ini kita mempunyai produknya. Ini menjadi tantangan dalam menghadapi perkembangan ekonomi,” ungkap Plt. Kepala Organisasi Riset Ilmu Pengetahuan Hayati BRIN, Iman Hidayat.

Pada kesempatan yang sama, Plt. Kepala Pusat Riset Bioteknologi BRIN, Ratih Asmana Ningrum mengatakan, keanekaragaman hayati sangat penting bagi kehidupan kita yaitu untuk ekonomi, pendukung kehidupan ekologi, rekreasi, dan ilmiah budaya. “Kerusakan apapun dalam kondisi keanekaragaman hayati dapat membahayakan semua nilai kehidupan dan pengaruhnya terhadap manusia,” ungkapnya.

“Kami mengalami masalah yang sangat serius terkait dengan perubahan iklim yang merupakan salah satu tantangan terbesar saat ini. Semua dampak perubahan iklim berdampak pada semua aspek penting kehidupan pangan dan kesehatan kita. Dunia perlu memangkas laju emisi gas rumah kaca sekitar 27 miliar metrik ton per tahun,” tegasnya.

Sebagai bentuk apresiasi, makalah pada simposium ini akan dipublikasikan dalam International Proceeding yang diterbitkan dalam AIP Conference Proceedings (SCOPUS Indexed). “Dalam simposium ini menyuguhkan talk show menarik tentang masa depan perusahaan rintisan bioteknologi di Indonesia dan Program Kampus Merdeka dalam rangka berbagi informasi tentang peluang program nasional tentang bioteknologi dan keanekaragaman hayati,” jelas Asep Bayu selaku Ketua ISIBIO 2021.

Dirinya menambahkan bahwa pembicara kegiatan ini berasal dari Indonesia, Malaysia, Saudi Arabia, Jepang, Belanda, dan Amerika dengan 107 peserta dari berbagai kalangan universitas dan akademisi. “Tahun ini simposium terselenggara atas kerja sama Indonesia Biotechnology Consortium (IBC) dan PT. ITS. Forum ini menyediakan platform untuk dialog akademis tentang isu-isu terkini di bidang keanekaragaman hayati dan bioteknologi”, tambahnya.

Sebagai informasi tujuan dari 8th-ISIBIO 2021 adalah untuk menyediakan forum global untuk pertukaran pembaruan terkini tentang penelitian keanekaragaman hayati dan bioteknologi. Memberikan wawasan dan informasi terbaru dari bidang bioteknologi yang disampaikan oleh pembicara dari instansi pemerintah, industri bioteknologi, serta akademisi dari universitas terkenal di seluruh dunia yang membahas topik keanekaragaman hayati, ekologi, dan ilmu lingkungan, bioteknologi pertanian, bioteknologi pangan, biorefinery (bahan kimia berbasis bio, bioenergi, bioproses, air limbah perawatan), bioprospecting (produk alami, biomaterial), produk biologi kesehatan (obat, vaksin, biosimilar), bioinformatika, bioindustri dan bioekonomi. (yl ed sl)