Jakarta – Humas BRIN. Salah satu produk pangan yang terkenal dari Provinsi Bali adalah Jeruk Bali. Sayangnya, tanaman Jeruk Bali terancam punah akibat serangan virus CVPD di tahun 80an.

Gubernur Bali, I Wayan Koster, menyatakan, hingga saat ini, kondisi tersebut belum bisa dipulihkan. Pihaknya melalui Badan Riset dan Inovasi Daerah – Bali telah berkolaborasi dengan perguruan tinggi dan lembaga riset lainnya dalam melakukan penelitian untuk mengembalikan potensi sumber pangan tersebut.

“Kami bekerja sama dengan Universitas Udayana dan lembaga riset lainnya agar Jeruk Bali ini bisa dikembalikan, apakah tanahnya yang sudah rusak karena virus, atau sebab-sebab lainnya. Tujuan kami adalah Bali harus daulat pangan dan kami pastikan itu bisa dilakukan,” tegas Koster, dalam Talkshow Pembentukan Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA), di Kantor BRIN, Jakarta, Rabu (20/04).

Menanggapi permasalahan tersebut, Kepala Organisasi Riset Pertanian dan Pangan, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Puji Lestari, menyatakan, siap membantu untuk mencari solusi dengan sumber daya dan kepakaran yang ada di BRIN.

 “Karena BRIN adalah pusatnya riset dan inovasi, kami Insha Allah membantu untuk mencari solusi terkait komoditas maupun produktivitas, biotic dan abiotic stress tanaman, bersama dengan daerah untuk menyelesaikan masalah,” ungkapnya.

Bali tercatat sebagai provinsi pertama yang membentuk Badan Riset dan Inovasi Daerah, sejak diberlakukannya UU Nomor 11 Tahun 2019. Namun saat itu, penamaannya masih menggunakan singkatan BARI.

“BARI saya bentuk melalui Peraturan Daerah Nomor 7 tahun 2019, jadi sudah merupakan perangkat daerah yang berdiri sendiri. Tugas utamanya adalah melakukan riset mengenai kebijakan pembangunan daerah Bali,” terang Koster.

Namun saat ini, lanjut Koster, dengan terbitnya Peraturan Presiden Nomor 78 Tahun 2021 tentang BRIN, yang didalamnya juga mengatur BRIDA, pihaknya akan melakukan penyesuaian tupoksi terkait Badan Riset dan Inovasi Daerah.

Selain Jeruk Bali, Bali juga berfokus pada sumber-sumber pangan lainnya. Diakui Koster, Bali harus bertahan untuk memenuhi kebutuhan pangan warganya ditengah sumber daya yang terbatas dan dinamika pembangunan.

Karena itu, riset dilakukan dari hulu hingga hilir. Bali punya sumber pangan unggul, seperti beras bali, jagung, umbi-umbian, buah-buahan, dan sayur-sayuran.

“Tapi diantara sumber pangan itu, kami harus meningkatkan produktivitas dan kualitas pangan untuk memenuhi kebutuhan warga. Bali melakukan riset tidak hanya dari sisi kualitas tapi juga sehat,” tutur Koster.

Selain itu, BARI juga diamanatkan untuk mengelola Kekayaan Intelektual (KI) menjadi produk-produk masyarakat Bali di bidang budaya dan pertanian, kesehatan, dan kelautan.

“Sejak saya dilantik pada tahun 2018, dan dibentuk BARI pada tahun 2019, 197 KI merupakan produk budaya dan juga indikasi geografis untuk wilayah kopi, garam, dan hasil perkebunan lainnya, yang dapat meningkatkan nilai ekonomi dari hasil pertanian dan produk budaya oleh para pengrajin masyarakat Bali,” ungkapnya.

Fokus riset lainnya yang dilakukan ialah transformasi ekonomi, yang disebut dengan Ekonomi Kerthi Bali. Selama ini, kata Koster, perekonomian Bali sangat bergantung pada sektor pariwisata, namun rentan krisis akibat faktor eksternal.

Faktor keamanan seperti kasus Bom Bali, bencana alam seperti erupsi Gunung Agung, akan sangat berdampak terhadap perekonomian Bali.

“Kami sudah harus memikirkan strategi baru dengan melakukan transformasi ekonomi untuk menyeimbangkan struktur dan fundamental perekonomian Bali agar menjadi lebih suistanable, ramah lingkungan, berkualitas, bernilai tambah, tangguh dan berkelanjutan,” kata Koster (tnt).

Sebarkan