Jakarta – Humas BRIN. “Selama ini ASEAN telah memainkan peran sentral dalam mempromosikan kerja sama regional. ASEAN adalah penyelenggara utama dari berbagai forum regional yang telah berkontribusi untuk meningkatkan pemahaman, perdamaian dan stabilitas di Kawasan Indo-Pasifik. Namun, secara internal dan eksternal ada beberapa tantangan yang dihadapi untuk mewujudkan sentralitas ASEAN, “ jelas Dewi Fortuna Anwar, Peneliti di Pusat Penelitian Politik Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), saat menyampaikan paparannya pada Webinar yang berjudul Deepening cooperation with ASEAN toward the realization of a “Free and Open Indo-Pacific.

“Keragaman negara-negara anggota ASEAN yang memiliki sistem politik, pandangan strategis, dan tingkat perkembangan ekonomi yang berbeda merupakan tantangan besar bagi kekompakan dan solidaritas ASEAN,” ujar Dewi. “Selain itu krisis domestik yang ada pada negara-negara anggota tertentu, juga sangat mungkin mengurangi kemampuan mereka untuk fokus pada isu-isu regional,” tambahnya.


Di sisi eksternal, Dewi menyebutkan bahwa dominasi ekonomi Cina yang meningkat dan kebijakan luar negeri yang tegas telah menantang otonomi strategis ASEAN. Beberapa negara anggota ASEAN, ia mengungkapkan, telah menjadi tergantung secara ekonomi pada Cina, ini membuat mereka lebih rentan terhadap tekanan untuk tidak bertindak melawan kepentingan Cina, khususnya pada masalah Laut Cina Selatan.


Mengenai posisi Jepang untuk ASEAN menurut Dewi, Jepang telah memainkan peran penting dalam mendukung negara-negara ASEAN dan institusi ASEAN. “Pada awal perkembangan ASEAN, Jepang memegang peran sebagai pendukung ekonomi utama ASEAN sedangkan Amerika Serikat sebagai penjamin keamanan,” urainya.


Membuka webinar Duta Besar Jepang untuk Asean, Chiba Akira, menyampaikan keprihatinannya atas konflik yang terjadi antara Rusia dan Ukraina. “Dinamika politik dan keamanan di seluruh dunia telah berubah dengan cepat, perhatian dunia saat ini ada pada invasi Rusia ke Ukraina,” kata Akira. “Walaupun secara geografis letaknya berjauhan dari konflik, namun adanya konflik tersebut merupakan ancaman bagi kedamaian dunia, termasuk Indo Pasifik,” sambungnya.


Akira juga mengatakan, hampir setengah abad Jepang telah bekerja sama dengan ASEAN. “Kami terus meningkatkan berbagai kerja sama untuk mewujudkan perdamaian, stabilitas, dan kemakmuran di kawasan berdasarkan tatanan internasional yang berbasis aturan,” tuturnya.


Dijelaskan Akira, terlepas dari dinamika perubahan Indo-Pasifik, Jepang dengan tegas menekankan pentingnya Sentralitas dan persatuan ASEAN, dan menetapkan ASEAN sebagai inti dari Indo-Pasifik yang Bebas dan Terbuka (Free and Open Indo-Pacific – FOIP). Pernyataan Bersama KTT ASEAN-Jepang ke-23 tentang kerja sama tentang “ASEAN Outlook on the Indo-Pacific (AOIP)” pada tahun 2020 lebih lanjut menjelaskan bahwa FOIP Jepang dan AOIP memiliki banyak prinsip dasar yang sama.


“Dengan dasar pernyataan ini, Jepang berjanji bekerja sama dengan ASEAN untuk mendorong kerja sama yang akan berkontribusi pada prinsip-prinsip yang ditetapkan dalam AOIP,” tambahnya. “Saat ini dalam rangka peringatan 50 tahun persahabatan dan kerja sama pada tahun 2023, Jepang sedang mencari cara untuk meningkatkan hubungan ke tingkat yang baru, dan bersama-sama dengan ASEAN, memulai babak baru kemitraan kita,” pungkasnya. (sw/ ed: drs)

Sebarkan