Jakarta – Humas BRIN, Pengembangan vaksin merah putih di Indonesia menunjukkan hasil yang menggembirakan. Bibit vaksin hasil penelitian Universitas Airlangga (Unair) berhasil melewati uji praklinis, sekaligus menjadi titik awal kemandirian nasional di bidang kesehatan khususnya dalam penyediaan vaksin.

Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Laksana Tri Handoko memberikan apresiasi kepada tim peneliti dari Universitas Airlangga yang telah berhasil menyelesaikan uji praklinis terhadap vaksin merah putih yang tengah dikembangkan. Sebagai lembaga riset, BRIN berkomitmen dalam memberikan fasilitasi pengembangan vaksin di Indonesia.

“BRIN mengucapkan apresiasi yang tinggi kepada tim Unair yang sudah sampai pada tahap yang luar biasa yakni menyelesaikan hingga uji praklinis. BRIN terus mendukung seluruh tim pengembang vaksin dengan berbagai metode di Indonesia,” kata Handoko pada dialog dengan salah satu stasiun TV Swasta, Kamis (11/11).

Dalam proses pengembangan vaksin, lanjut Handoko, banyak mendapatkan rintangan dan tantangan mulai dari penyediaan hewan coba berupa mencit atau makaka. Saat ini BRIN berusaha menyediakan fasilitas pengembangan vaksin, dan diharapkan pada semester pertama tahun 2022 fasilitas tersebut sudah siap digunakan.

“Fasilitas penelitian yang dimiliki BRIN bersifat terbuka yang artinya dapat dimanfaatkan tidak hanya oleh peneliti dari BRIN namun oleh peneliti dari luar seperti industri dan lainnya,” tambah Handoko.

Upaya ini dilakukan BRIN, dengan harapan permasalahan yang selama ini dihadapi oleh para pengembang vaksin dapat teratasi dengan baik. Lebih lanjut Handoko berharap nantinya fasilitas itu tidak hanya dimanfaatkan untuk pengembangan vaksin covid saja namun juga untuk vaksin yang lainnya.

“Dalam hal ini brin mendukung pengembangan vaksin mulai dari riset awal hingga uji praklinis. Kita harus meningkatkan penguasaan pengembang vaksin dengan berbagai metode dalam rangka meningkatkan ketahanan nasional di bidang kesehatan dalam jangka panjang,” lanjutnya.

Peneliti Unair, Ni Nyoman Tri Puspaningsih mengatakan, setelah dilakukan uji praklinis, tahapan berikutnya akan dilakukan uji klinis dalam tiga tahap. Tahap pertama akan dilakukan pada Desember 2021 dengan melibatkan 100 orang relawan.

“Pada tahap pertama ini bertujuan untuk melihat aspek keamanan vaksin,” kata Ni Nyoman.

Tahapan selanjutnya akan dilakukan dengan melibatkan 400 orang relawan yang bertujuan untuk melihat ketahanan atau imunitas tubuh manusia setelah dilakukan vaksin pada tahap dua ini. Tahap ketiga akan melibatkan 3000 orang relawan dengan tujuan melihat tingkat efikasi vaksin.

Bagi masyarakat Indonesia, pelaksanaan uji klinis vaksin merah putih tidak menutup kemungkinan adanya kekhawatiran terhadap kegagalan pengujian. Untuk itulah Ni Nyoman memastikan bahwa pelaksanaan uji klinis vaksin merah putih telah mematuhi standar operasional prosedur dan kode etik yang berlaku.

“Mereka yang menjadi relawan uji klinis, sebelumnya akan dilakukan pengecekan kondisi kesehatannya di laboratorium oleh tim dokter. Dan berdasarkan hasil uji praklinis yang dilakukan pada hewan coba yang menunjukkan hasil efikasi di atas 90%, maka diharapkan kekhawatiran dapat dikurangi,” pungkasnya. (Pur)