Cianjur – Humas BRIN. “170 Tahun Hidup Berdampingan Dengan Alam Turut Mengembangkan Riset Dan Inovasi Nasionalmerupakan tema yang diangkat dalam webinar peringatan HUT Kebun Raya Cibodas (KRC), Senin, 11/4. Dalam kurun waktu 170 tahun, KRC telah mempunyai peran penting yang sangat strategis dalam usaha konservasi tumbuhan, penelitian, pendidikan, jasa lingkungan dan wisata.

Kegiatan riset di KRC sudah diinisiasi sejak tanaman Kina didatangkan ke Indonesia pada tahun 1852, yang pada saat itu dilakukan aklimatisasi terhadap tanaman yang didatangkan dari luar negeri. Kegiatan riset lainnya pada tahun 1890 terkait dengan ditemukannya Mikoriza oleh JM Jansen di KRC yang mempunyai peran penting untuk meningkatkan hasil panen tanaman pertanian. Sampai dengan sekarang berbagai kegiatan riset khususnya terkait dengan riset tumbuhan dataran tinggi basah terus dilakukan.

Kepala Organisasi Riset Ilmu Hayati dan Lingkungan BRIN, Iman Hidayat, menyampaikan bahwa konservasi dan penelitian tidak bisa dicapai dengan maksimal tanpa kolaborasi dengan berbagai stakeholder yang terkait. Sehingga KRC harus terus memperkuat dan meningkatkan kerja sama. Untuk saat ini kerja sama riset dan inovasi di KRC masih belum secara optimal didukung fasilitas riset yang memadai sesuai dengan perkembangan teknologi di bidang konservasi tumbuhan sehingga hal ini harus segera dibenahi.

“Membangun jejaring baru dalam kolaborasi riset dan inovasi di bidang konservasi tumbuhan dengan multi stakeholder harus terus dilakukan agar nilai kemanfatan KRC baik secara nasional maupun global akan dapat dirasakan oleh masyarakat dan juga terus meningkat” imbuhnya.

Selain diisi oleh berbagai pemaparan mengenai berbagai kegiatan riset yang telah dilaksanakan oleh KRC, dalam webinar tersebut para peneliti KRC juga turut mengajak para stakeholder (peneliti, mahasiswa, dan masyarakat) untuk melakukan kegiatan riset secara kolaborasi.

Hal ini sesuai dengan apa yang disampaikan oleh Kepala Kantor KRC, Fitri Kurniawati saat membuka acara webinar bahwa  BRIN telah menyiapkan berbagai skema untuk memfasilitasi aktivitas riset dan inovasi, kerja sama serta pengembangan capacity building, seperti skema open platform fasilitas riset, berbagai skema pendanaan riset, maupun skema pusat kolaborasi riset, sehingga jumlah kolaborasi riset di KRC diharapkan semakin meningkat. Peluang tersebut diharapkan bisa dimanfaatkan semaksimal mungkin oleh para stakeholder, khususnya perguruan tinggi.

Webinar peringatan HUT KRC sendiri menghadirkan para peneliti KRC yang berkompeten di bidangnya masing-masing. Seperti Andes Hamuraby Rozak, peneliti di bidang Ekologi dan Konservasi Hutan, yang memaparkan mengenai kemajuan riset terkait biomassa hutan dan peranannya dalam regulasi iklim, terutama kontribusi pohon berukuran besar terhadap keseimbangan karbon hutan. Kemudian hadir pula Decky Indrawan Junaedi yang bercerita tentang riset jenis-jenis tanaman eksotik invasif di KRC termasuk kenapa hal itu penting untuk dipelajari, diteliti, dan dikelola dilihat dari sudut pandang ancaman global dan sudut pandang kebun raya.

Paparan yang tidak kalah menarik disampaikan oleh Muhammad Imam Surya, yang menyampaikan mengenai besarnya sumber daya genetik tumbuhan yang dimiliki oleh Indonesia namun masih terbatasnya pemanfaatan dan pengembangannya yang mendorong kita untuk mengoptimalkannya. Narasumber lainnya yakni Wiguna Rahman mengangkat topik mengenai konservasi tumbuhan yang tidak hanya berfokus pada tumbuhan yang berstatus langka, endemik dan terancam kepunahan saja, namun juga tumbuhan yang memiliki potensi ekonomi juga perlu dilakukan konservasi. (NS, ed:aps)

Sebarkan