Jakarta, Humas BRIN, Lima tahun belakangan, kecerdasan artifisial (Artificial Intellegence/ AI) telah memberikan manfaat luas bagi kehidupan. Hal ini dipicu oleh berbagai terobosan pada ranah aplikasi AI itu sendiri.

Perekayasa Ahli Utama, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Hammam Riza Jusuf, menekankan, kecerdasan artifisal menjadi lompatan inovasi teknologi menuju masa depan Indonesia.

“Siapa yang memimpin AI pada 2030, akan memimpin dunia hingga 2100. AI menjadi unsur peningkatan daya saing sebuah negara,” ungkap Hammam saat memberikan orasi ilmiah, pada Sidang Terbuka Senat Universitas Syiah Kuala (USK) Dalam Rangka Pengukuhan Profesor, di Banda Aceh, Senin (21/02).

Pria yang baru dikukuhkan sebagai Profesor Tidak Tetap bidang kecerdasan artifisal di USK ini mengatakan bahwa, negara-negara dunia sedang berlomba untuk menguasai dunia melalui kecerdasan AI.

Dirinya menerangkan, aplikasi AI dikelompokkan menjadi 3 jenis, yaitu pembelajaran mesin (machine learning), penglihatan computer (computer vision), dan pemrosesan bahasa alami (natural language processing).

Berbagai negara, termasuk Indonesia, telah membuat strategi nasional kecerdasan artifisial. Tahun 2020 lalu, BRIN (sebelumnya BPPT) bersama quad helix dari berbagai institusi pemerintah, universitas – termasuk USK, komunitas, dan industri, telah berhasil merumuskan Strategi Nasional Kecerdasan Artifisial Indonesia 2020 – 2045.

“Rumusan ini menjadi arah kebijakan nasional untuk kesiapsiagaan dan perencanaan nasional agar mampu memanfaatkan secara optimal perkembangan teknologi AI di tanah air,” ungkap Hammam.

Selama berkarir di bidang AI, beberapa hasil kajian pria yang memulai karirnya sejak tahun 1987 ini sudah berhasil diterapkan, diantaranya pemrosesan bahasa alami atau (natural language processing) dalam penerjemahan mesin (machine translation), dan pengenalan wicara (speak recognition).

Kemudian pemanfaatan kecerdasan artifisal untuk reduksi risiko bencana banjir, kebakaran hutan dan lahan, hingga inovasi teknologi kecerdasan artifisial untuk penanggulangan Covid-19, dan isu kesehatan secara keseluruhan.

Rektor USK, Samsul Rizal, mengatakan, semua sektor, termasuk perguruan tinggi, harus bergerak bersama melakukan pengembangan kecerdasan artifisial. Kajian ini juga dapat mendorong USK untuk lebih memaksimalkan perannya dalam menyiapkan sumber daya manusia yang memiliki kompetensi di bidang kecerdasan artifisial dan berdaya saing global.

Sebagai informasi, USK telah membuka program magister kecerdasan buatan di jurusan Informatika, Fakultas MIPA pada tahun lalu.

“Kita semua berharap, bahwa kontribusi dari Prof Hammam sebagai Profesor Tidak Tetap atau Profesor Kehormatan di USK akan memudahkan universitas ini dalam memainkan perannya,” ungkap Samsul Rizal (tnt).

Sebarkan