Jakarta – Humas BRIN. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melalui Organisasi Riset Ilmu Pengetahuan Sosial dan Humaniora (OR IPSH) berfokus pada penelitian terkait keindonesiaan dan dinamika kontemporer yang terjadi ditengah masyarakat. Plt. Kepala OR IPSH, Ahmad Najib Burhani, mengatakan, aspek keberlanjutan (continuity) dan perubahan (change) menjadi arah riset dan inovasi ilmu pengetahuan sosial dan humaniora menuju 2045.

“Aspek continuity adalah apa yang perlu tetap ada, perlu dipertahankan, dipelihara, menjadi pijakan bagi keberadaan bangsa ini, sebagai identitas dan jati diri bangsa hingga tahun 2045 dan seterusnya, yaitu “ke-Indonesia-an” itu sendiri. “Sementara aspek change mengacu kepada berbagai perubahan masyarakat yang harus direspon dengan cepat dan tepat oleh peneliti, yang disebut dengan “dinamika kontemporer”, seperti disrupsi digital, disrupsi pandemi, disrupsi milenial, dan sebagainya,” jelas Ahmad Najib, dalam Webinar Riset BRIN #2, secara daring, Selasa (14/12).

Ia menuturkan, tujuan utama dari kajian riset dan inovasi dalam ilmu pengetahuan sosial dan humaniora adalah untuk masa depan dari kemanusiaan itu sendiri. Indonesia, lanjut Ahmad Najib, memiliki 746 bahasa yang dapat menjadi “laboratorium riset” terbesar ke-2 di dunia untuk penelitian bahasa, serta beragam agama, budaya, dinamika sosial, dan politik.

“Penelitian yang kita miliki mencoba untuk menjadikan kita semua menjadi bangsa yang berfikir kritis dan kreatif dalam melihat berbagai persoalan, memiliki empati, rasa keingintahuan, fleksibilitas, kemampuan berdaptasi, sehingga kita memiliki empati, semangat, daya juang yang tinggi, dan daya saing yang kuat dengan negara lain,”ungkapnya.

Dengan luasnya lingkup penelitian ilmu pengetahuan sosial dan humaniora, lanjut Ahmad Najib, ada beberapa hal yang perlu menjadi fokus penelitian dalam jangka pendek, diantaranya penelitian terkait Indonesia Timur. “Penelitian Indonesia Timur perlu segera dilakukan terutama Papua. Jangan sampai kita kedahuluan peneliti asing dalam meneliti diri kita sendiri sebagai bangsa, itu yang menjadi tantangan,” ujarnya.

Selain itu, penelitian terkait masyarakat digital dan ekonomi syariah menjadi fokus riset dan inovasi ilmu pengetahuan sosial dan humaniora dalam waktu dekat. “Bagaimana kita memandang ekonomi Indonesia ketika berhadapan dengan ekonomi syariah industri, sehingga kita bisa menempatkan diri dalam kompetensi dan bangsa Indonesia tidak hanya menjadi pangsa pasar, tetapi menjadi produsen dari diri kita sendiri,” pungkasnya.

Webinar Riset BRIN #2 merupakan rangkaian dari kegiatan BRIN Reflection and Outlook yang bertujuan untuk menapaki kembali capaian riset yang telah dicapai, sekaligus menunjukkan potensi riset berdaya guna di masa mendatang. Webinar Riset BRIN #2 juga menghadirkan 2 narasumber lainnya, yaitu Plt. Kepala Organisasi Riset Tenaga Nuklir, Agus Sumaryanto, dan Plt. Kepala Organisasi Riset Ilmu Pengetahuan Hayati, Iman Hidayat (tnt).

Sebarkan