Serpong – Humas BRIN. Asisten Deputi Peningkatan Daya Saing, Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Kemenkomarves), Dedy Miharja menyatakan, terkait Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional Tahun 2020-2024, ada 2 hal yang menjadi perhatian tentang konsumsi ikan dan ekspor hasil perikanan, yaitu target peningkatan konsumsi dan ekspor dari tahun 2020 ke 2024.

Karena itu, pihaknya bersama perwakilan dari Kementerian Pertanian, Kementerian Perindustrian, Kementerian Perikanan, BAPETEN, dan PT. Perindo, berkunjung ke Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Tangerang Selatan, Senin (30/05). Kunjungan ini membahas tindak lanjut pemanfaatan teknologi iradiasi, untuk menjamin kualitas ekspor produk kelautan dan perikanan di Indonesia.

Dirinya menyebut, akan diupayakan membangun 3 fasilitas iradiasi di Indonesia, untuk menjaga kualitas ekspor kelautan dan perikanan. “Lokasi sudah kita rencanakan di 3 titik, yaitu di Surabaya, Sulawesi, dan Medan. PT. Perindo sudah siap untuk 2 titik, yaitu yang di Sulawesi dan di Medan,” ungkapnya.

Saat ini, terang Dedy, masih ada masalah untuk ekspor ikan. “Kita harus bisa menjaga mutu atau kualitasnya. Contohnya, ekspor ikan kita yang banyak ditolak oleh Tiongkok, salah satunya terkait dengan Covid-19, dimana kontainer tidak lolos tes PCR,” ujar Dedy.

Karena itu, sambung Dedy, pihaknya akan menggunakan teknologi iradiasi yang dimiliki BRIN, yaitu fasilitas Iradiator Gamma Merah Putih (IGMP), sebagai role model dalam membangun fasilitas iradiasi di Indonesia.

“Ada 3 hal yang menjadi pertimbangan. Pertama, SDM sudah ada, kemudian peralatan sudah ada di BRIN, dan ketiga adalah pengalaman,” tuturnya.

Plt. Kepala Organisasi Riset Tenaga Nuklir BRIN, Rohadi Awaludin, mengatakan, saat ini, BRIN terus mengembangkan teknologi terkait ketenaganukliran, salah satunya teknologi iradiasi atau iradiator.

“Iradiasi nuklir memiliki energi tinggi, sehingga kami mempelajari karakter dan potensi yang dimilikinya. Pemanfaatannya terkait di berbagai bidang, seperti di bidang pertanian, kelautan, pangan yang terkait dengan pengawetan makanan, dan lain sebagainya,” jelas Rohadi.

Namun demikian, menurut Rohadi, yang tidak kalah penting adalah memastikan sisi keselamatannya. “Maka dari BAPETEN yang memastikan, teknologi yang diterapkan aman atau tidak untuk digunakan,” tambahnya.

Rohadi berharap, para stakeholder yang hadir dapat melihat secara langsung teknologi iradiasi yang ada di BRIN, agar pemanfaatan teknologi iradiasi dapat memberikan dampak langsung yang lebih baik bagi perekonomian Indonesia.

“Sudah ada contoh aplikasi iradiasi dari fasilitas IGMP yang bisa kita lihat. Seperti apa pengoperasiannya dan bagaimana nilai ekonominya. Mudah-mudahan, teknologi nuklir dapat mendukung perekonomian nasional dan masyarakat mendapatkan manfaatnya. Tentu daya saing kita dengan negara-negara lain bisa lebih meningkat,” harapnya.

Dalam kesempatan yang sama, Plt. Direktur Penguatan Kemitraan Infrastruktur dan Inovasi BRIN, Salim Mustofa, memberikan pemaparan terkait profil IGMP. “Pengelolaan IGMP berada dibawah Deputi Infrastruktur Riset dan Inovasi, dimana seluruh infrastruktur BRIN yang ada di Indonesia dikelola oleh kedeputian tersebut,” ujar Salim.

Disampaikan oleh Salim, IGMP dibangun pada tahun 2016 pada saat masih dalam pengelolaan BATAN, kemudian diresmikan oleh Wakil Presiden saat itu, Yusuf Kalla, pada tahun 2017. Kemudian tahun 2022, IGMP diserahkan ke BRIN, dan mulai Juni 2022 akan dikelola bersama oleh swasta dan BRIN.

“Banyak produk yang disterilisasi di tempat kita. Ada produk kesehatan, seperti sterilisasi sarung tangan, kasa, dan lain-lain. Ada pula produk yang di pasteurisasi, seperti bubuk cabai, ikan asin, dan banyak lagi,” jelas Salim.

Rombongan pengunjung juga berkesempatan melihat langsung fasilitas IGMP yang berlokasi di Kawasan Puspiptek Serpong, Tangerang Selatan, untuk mengetahui lebih detail terkait fasilitas dan proses iradiasi bekerja. (yrt, la/ed:my, tnt)

Sebarkan