Malang, Humas BRIN. Pemberdayaan dan peningkatan ekonomi masyarakat terus digalakkan pemerintah termasuk Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) terutama saat pandemi melanda negeri. Bermitrakan Komisi VII DPR RI, beragam kegiatan aplikasi ilmu pengetahuan dan teknologi serta inovasi yang menjadi core competence BRIN dihelat di berbagai daerah di Indonesia.  Salah satu kegiatannya berwujud “Bakti Teknologi Hari Kebangkitan Teknologi Nasional (Hakteknas): Pelatihan Pengemasan Produk UMKM” di Kota Malang, pada Sabtu (13/11).

Anggota Komisi VII DPR RI, Ali Ahmad mengatakan bahwa Indonesia dapat bertahan dari situasi minus ke plus bukan hanya peran korporat tapi juga UMKM. “Banyak korporat yang hancur, tapi UMKM bangkit kembali. Ayo Malang bangkit dengan UMKM yang ada!” seru Ali Ahmad penuh semangat.

Dirinya berharap bahwa kemitraan dengan BRIN yang berwujud pelatihan, tidak hanya melatih tapi seyogyanya dapat mengetahui juga keinginan dan kebutuhan teman-teman UMKM. “Jadi tidak hanya melatih dan mengemas tapi selanjutnya didukung mesin-mesin dan teknologi untuk kebangkitan UMKM,” tutur Ali.

Ali Ahmad yang merupakan  legislator PKB DPR RI dari dapil Malang Raya mendorong penggiat UMKM tak hanya mendapatkan pengesahan produk dari BPOM saja tapi juga mendapatkan pendanaan dari perbankan. “Pelatihan hari ini adalah awal dari bangkitnya teman-teman UMKM hingga nantinya produknya target ekspor,” ucapnya.

Dalam kesempatan yang sama, Kepala Organisasi Riset Bidang Ilmu Pengetahuan Teknik BRIN, Dr. Eng. Agus Haryono menjelaskan bahwa beberapa lembaga atau badan yang selama ini mandiri sebagai  lembaga  pemerintah non kementerian seperti LIPI, BATAN, BPPT, LAPAN, dan ex-Kemristek sekarang sudah bergabung menjadi satu kesatuan dalam BRIN. “Kami berharap ekosistem penelitian,  pengembangan dan penerapan IPTEK dan juga hasil-hasil litbang bisa semakin baik dan mendukung pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat,” ujarnya.

“Indonesia akan bertransformasi menjadi negara yang menggunakan inovasi sebagai basis perekonomiannya. Kita perlu membumikan hasil riset dan inovasi sehingga dapat bermanfaat bagi masyarakat, mengurangi ketergantungan impor dan menambah nilai tambah dari suatu produk. Dan Bakti Inovasi BRIN ini diselenggarakan bertujuan mengidentifikasi program dan kegiatan yang mendukung pelaksanaan Program Desa Berinovasi sebagai salah satu strategi dalam menanggulangi dampak Pandemi Covid-19 dan langkah pemulihan ekonomi nasional,” terang Agus.

Agus mengatakan bahwa di masa pandemi Covid-19 permintaan riset pengalengan meningkat signifikan karena UMKM harus memasarkan produk mereka secara online untuk mempertahankan siklus usahanya. “Sebelum pandemi Covid-19, beberapa produk makanan telah menggunakan teknologi pengalengan BRIN antara lain Gudeg Bu Tjitro, Empal Gentong H. Apud, Gudeg Andrawinaloka, dan lain sebagainya yang telah menjadi produk oleh-oleh baru dan memiliki keawetan lebih dari satu tahun,” rincinya

“BRIN melalui Balai Penelitian Teknologi Bahan Alam (BPTBA) pada bulan Agustus 2020 lalu secara resmi mulai melaksanakan program pra riset gratis (peluncuran program di bulan Juni 2020) untuk 100 UKM serta percepatan izin edar melalui kerja sama dengan sejumlah pihak, antara lain dinas koperasi DIY, Disperindag DIY, dan BPOM dan sangat terbuka untuk kerja sama dengan pemda lainnya, termasuk Jawa Timur,” terang Agus.

Sementara itu Asep Nurhikmat, selaku narasumber pelatihan dari BRIN, mengungkapkan selama pandemi sampai Oktober 2021, sudah sekitar 520 jenis masakan tradisional berhasil dikarakterisasi, 120 UKM yang terbina dan sekitar 35 makanan dalam kemasan kaleng telah keluar ijin edarnya, sementara 25 makanan masih proses di BPOM.

Dalam paparannya Asep yang merupakan Peneliti Ahli Madya bidang Pengemasan BPTBA BRIN mengungkapkan beberapa kendala UMKM di tanah air kepada para peserta pelatihan di Kota Malang. “Menurut saya kendala UMKM itu pertama kurang sabar walaupun tak semuanya. Kedua, kurang informasi atau maunya hanya menerima informasi. Ketiga, tidak atau kurang melihat kekuatan sendiri atau memutuskan pasar duluan tanpa melihat kemampuan produksi alias step by step skala produksi. Keempat, cukup puas dengan segala macam pelatihan. Kelima, terkesan hanya mencari gratisan saja namun ketika siap untuk produksi banyak yang masih tanya-tanya. Terakhir adalah alasan modal sehingga produksi jalan ditempat,” rincinya.

Saat pemaparan materi, Asep langsung menilai dan menganalisis kelebihan dan kekurangan kemasan produk UMKM peserta pelatihan secara interaktif sehingga membuat antusias para peserta. Tak urung beberapa peserta mengantri untuk dievaluasi kemasan produk UKM-nya. Contohnya salah satu produk UMKM yang dievaluasi adalah kemasan kopi bubuk. Asep memberi gambaran bahwa orang sudah paham warna kopi jadi sebaiknya kemasannya tidak harus transparan. “Alangkah lebih baik kemasannya yang diperbaiki namun tetap menunjukkan isi dan jenis kopi yang dipasarkan,” tutur Asep.

Asep juga memberikan masukan untuk kemasan kardus produk UKM. “Sebaiknya kemasan produk makanan ringan dibungkus kardus khusus alih-alih dibungkus kardus rokok bekas yang membuat orang menduga isi kardus adalah rokok padahal isinya makanan ringan. Akhirnya kardus dilempar sana-sini hingga makanan ringan di dalamnya jadi rusak,” ungkapnya.

Tak hanya kemasan yang dievaluasi Asep, produk UMKM tak luput diberi masukan seperti sebuah produk sambal dalam botol agar tak hanya bertahan tiga bulan tapi hingga enam bulan. Begitu pula produk kopi, Asep memberi tips agar minum kopi tak membuat kembung perut akibat air kopi yang dingin.

Sebagai informasi, pelatihan pengemasan produk UMKM di Kota Malang ini berlangsung dari pagi hingga sore dengan sangat interaktif, diikuti 50 pelaku UMKM yang berasal dari Kota Malang dan sekitarnya. Hadir pula beberapa mahasiswa penyuluh, dan Tim Ahli Ali Ahmad dari Komisi VII DPR RI. (sl)