Jakarta – Humas BRIN, Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Laksana Tri Handoko, mengajak generasi muda agar mau jadi periset. Menurutnya, tidak harus menjadi ilmuwan untuk menjadi periset. Periset, adalah perilaku seorang profesional untuk peka terhadap permasalahan yang ada, dan kreatif untuk menemukan solusi.

“Periset itu adalah proses berpikir, berkreasi, peka, dan sensitif sehingga bisa menemukan masalah dan kemudian kreatif untuk mencari solusi atas masalah itu,” kata Handoko pada wawancara dengan Okezone, Senin (10/01).

Dirinya mengatakan, periset itu bukan dunia eksklusif dari ilmuwan. Siapapun bisa jadi periset, siapapun boleh punya paten.

“Kalau dunia ilmuwan memang beda, karena dunia ilmuwan mensyaratkan berbagai hal,” tambahnya.

Karena itu, ia menginginkan generasi muda di Indonesia mau jadi periset di berbagai bidang.

“Karena periset itu perilaku profesional, bagaimana proses berpikir dan peka terhadap masalah, kemudian kreatif menemukan solusi. Dan (solusi) itu akan jadi produk barang atau jasa kalau dia entrepreneur atau di dunia industri,” ucapnya.

Saat ditanya mengenai riset terkait penanganan Covid-19, Handoko mengatakan, BRIN masih tetap melanjutkan pengembangan vaksin Merah Putih, dan juga layanan surveilans mutasi varian Covid-19 berbasis Whole Genome Sequencing.

Banyaknya informasi yang  beredar di media sosial, seperti informasi mengenai pandemi Covid-19, membuat masyarakat bebas beragumentasi sehingga muncul “efek samping” hilangnya kepakaran. Menanggapi hal tersebut, Handoko mengaku prihatin.

Namun, ia memandang sisi positif bahwa keberadaan media sosial membuat masyarakat peduli dan teredukasi.

“Yang bisa kita lakukan adalah membuat informasi alternatif. Sehingga masyarakat, terutama generasi muda mampu memilah informasi yang benar secara mandiri. Saya yakin masyarakat kita semakin pintar. Yang terpenting adalah masyarakat bisa menerima, memilah, dan memahami informasi, itulah bagian dari proses literasi iptek,” tuturnya (tnt).

Sebarkan