SIARAN PERS
Nomor : 82/SP/HM/BKKP/V/2021

Jakarta – Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Laksana Tri Handoko melaksanakan pertemuan dengan Duta Besar Australia untuk Indonesia YM Penny Wiliams, melalui video conference (6/7). Pada Kesempatan tersebut, Handoko menyampaikan ucapan selamat atas penugasan Duta Besar Penny di Indonesia. Ia menilai Australia merupakan salah satu mitra strategis bagi Indonesia khususnya dalam bidang Iptek dan Inovasi.

“Tentu saja Australia merupakan mitra penting bagi Indonesia, hal ini dibuktikan dengan banyaknya kolaborasi antara peneliti, universitas dan juga lembaga penelitian yang terlibat antara Indonesia maupun Australia sejauh ini, saya sangat mengapresiasi hal tersebut” ungkap Handoko.

Selanjutnya, Handoko menjelaskan fokus utama riset BRIN ke depan termasuk upaya mengintegerasikan lembaga litbangjirap yang ada di Indonesia.

“BRIN saat ini sedang berfokus untuk mengintegrasikan lembaga litbang pemerintah seperti LIPI, BPPT, BATAN, LAPAN dan termasuk lembaga litbang yang ada di Kementerian/Lembaga (K/L). Ada sekitar 48 unit riset yang akan bergabung dalam BRIN. Selain itu, setidaknya dalam jangka pendek-menengah, kami akan berfokus dalam bidang digital green blue economy khususnya sumber daya alam dan keanekaragaman yang kami miliki termasuk keanekaragaman hayati, geografi, serta seni dan budaya,” jelas Handoko.

Oleh karena itu, Handoko menilai sangat penting untuk memiliki dan terus meningkatkan kolaborasi dengan mitra internasional seperti Australia. Terlebih untuk peningkatan kapasitas peneliti atau sumber daya manusia melalui skema mobility program antara Indonesia dengan Australia seperti Post-Doctoral Fellowship.

“Saya akan menjadikan BRIN sebagai enabler untuk kegiatan riset dan akan membuka banyak global open platform pada fasilitas riset yang kita miliki, diantaranya Cibinong Science Center yang akan menjadi global platform untuk bidang biodiversity, Pusat Observasi Keantariksaan di Kupang dan pegembangan kapal-kapal riset,” terang Handoko.

Senada dengan Handoko, Duta Besar Australia untuk Indonesia YM Penny Wiliams juga mengungkapkan bahwa Australia dan Indonesia memiliki komitmen yang besar dalam menjalankan hubungan bilateral. Hal ini terlihat dari Kedutaan Besar Australia di Indonesia yang merupakan salah satu yang terbesar saat ini, dengan memiliki Konsulat Jenderal di Makassar, Surabaya dan Bali. Ia juga menekankan hubungan ekonomi kedua negara sebagai hal prioritas.

“Bagi Australia, keterlibatan ekonomi merupakan prioritas mutlak, dalam konteks yang luas bukan hanya perdagangan tetapi juga kolaborasi di dalamnya termasuk teknologi, investasi, riset, dan hubungan people to people terutama pada saat kita dihadapkan dengan tantangan pandemi Covid–19,” jelas Penny.

Bagi Penny, penugasannya sebagai Duta Besar Australia untuk Indonesia merupakan hal yang menyenangkan karena bisa “pulang kampung” setelah 40 tahun yang lalu ia mengikuti program AFS Exchange Student di SMA 1 PSKD Jakarta (1981-1982).

Duta Besar Penny menyambut baik pembentukan BRIN. Ia menilai hal ini merupakan sinyal komitmen dari Pemerintah Indonesia untuk melangkah lebih maju dalam mencapai ekonomi yang berbasis pengetahuan. Ia berharap kedepannya Australia dapat berkolaborasi lebih lanjut dengan BRIN.

Di samping itu, Duta Besar Penny juga menyampaikan perhatian para peneliti Australia terhadap regulasi perijinan penelitian Indonesia yang saat ini dinilai cukup birokratis dan dikhawatirkan akan menghambat kolaborasi yang sudah berjalan baik. Menanggapi hal tersebut, Handoko berjanji akan mengevaluasi dan mereformulasikan regulasi perijinan penelitan menjadi lebih sederhana untuk menciptakan kerja sama yang lebih baik dari sebelumnya.

Dalam pertemuan tersebut, Kepala BRIN turut didampingi oleh Sekretaris Utama BRIN, Mego Pinandito, Kepala Biro Kerja Sama dan Komunikasi Publik BRIN Nada D.S. Marsudi dan Ketua Tim Transisi BRIN Prakoso Bhairawa Putera. Sementara itu dari Pihak Australia, Y.M Penny Williams didampingi oleh Counsellor-Governance and Human Development Simon Ernest.

Biro Kerja Sama dan Komunikasi Publik
Badan Riset dan Inovasi Nasional