Karanganyar, Humas BRIN. Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Laksana Tri Handoko melakukan audiensi dengan peneliti BRIN yang sebelumnya tergabung di Balai Penerapan Standar Instrumen Lingkungan Hidup dan Kehutanan (BPSILHK), Karanganyar, Kamis (24/3). Menurut Handoko, peneliti BRIN harus menyesuaikan dengan bidang kepakarannya masing-masing dalam organisasi riset yang sudah ditetapkan oleh Kementerian PANRB.

“Peneliti dari BPSILHK yang baru bergabung ke BRIN harus memilih organisasi riset yang sesuai dengan keahliannya,” ujar Handoko.  Oleh sebab itu, ia menekankan bahwa ke depan peneliti yang semula berasal dari satu lembaga tidak dapat bersama-sama lagi karena akan berpindah sesuai dengan kepakaran yang terdapat dalam organisasi riset yang sudah dipilihnya.

Disamping itu, kunjungan ke BPSILHK sekaligus bertujuan meninjau secara langsung fasilitas riset yang ada di sini. Kepala Organisasi Riset Pertanian dan Pangan BRIN, Puji Lestari mengatakan, SDM peneliti dan infrasturuktur riset merupakan satu kesatuan. “Logikanya, ada keterlibatan antara peneliti dengan laboratorium dimana ia bekerja. Oleh karenanya, kami perlu memastikan apakah infrastruktur riset yang ada di BPSILHK masih layak atau tidak untuk digunakan,” terang Puji.

Dalam kesempatan ini, Kepala BPSILHK Yoyok Sigit Haryotomo menyampaikan jumlah SDM BPSILHK yang sudah bergabung di BRIN adalah sebanyak 22 orang peneliti, serta 1 orang teknisi. “SDM tersebut terdiri dari 2 Profesor riset, 5 peneliti ahli utama, 9 peneliti ahli madya, 4 peneliti ahli muda, serta 4 kandidat peneliti atau CPNS yang baru saja direkrut,” imbuh Yoyok.

Ia menghimbau agar para peneliti yang telah bergabung di BRIN tersebut dapat berinovasi. “BPSILHK merupakan satu-satunya lembaga di Indonesia yang menangani konservasi air serta melakukan kajian tentang mitigasi banjir. Selain itu, BPSILHK memiliki tupoksi baru yaitu sebagai pemasok untuk standar dan instrumen,” ungkap Yoyok. Karenanya, ia memerlukan dukungan dan kolaborasi dengan tenaga ahli lainnya di lingkungan BRIN.

Yoyok mengakui bahwa problem riset yang sering dialami adalah adanya keterbatasan anggaran. “Ini menjadikan perawatan terhadap aset riset tidak dapat maksimal dan banyak kegiatan penelitian terdahulu jadi terbengkalai,” paparnya. Ia berharap BRIN memiliki sistem manajemen riset yang baik, agar peneliti dapat lebih produktif, memfasilitasi periset di wilayah strategis dan dekat dengan masyarakat sebagai pengguna hasil riset.

Kepala BRIN juga berkesempatan meninjau fasilitas laboratorium tanah dan hidrologi yang masih berfungsi hingga kini. (ky an).    

Sebarkan