Jakarta-Humas BRIN. “Riset yang utama itu adalah bapak dan ibu sendiri, sebagai SDM unggul. Harus kreatif harus sensitif, peka melihat apa yang sudah dimiliki,” imbuh Kepala Badan Riset dan Inovasi (BRIN), Laksana Tri Handoko dalam Apel Pagi (14/3).

Handoko menyatakan, para periset BRIN harus peka melihat problem yang ada, baik problem riset atau problem apapun. Kemudian juga menurutnya, periset juga harus kreatif memakai berbagai apa yang sudah dimiliki. Misalnya, ia menyebutkan, data dari bahan yang sudah bertahun-tahun dikumpulkan, infrastruktur untuk membuat riset, melaksanakan riset sesuai bidang yang kuasai.

“Secara personal, sebagai periset harus fokus pada riset dan pada keluaran atau output riset apa yang mau dilakukan. Jadi tidak boleh menunggu DIPA atau komando, harus proaktif,” lanjutnya. Kepada Kepala Organisasi Riset (OR) dan Kepala Pusat RIset  (PR), Handoko mengharapkan untuk  segera menfinalkan perencanaan program riset dan strategi pelaksanaannya.

“Untuk beberapa OR atau Kawasan teretentu yang memang perubahannya sangat besar, akan saya prioritaskan untuk internalisasi secara khusus,” terangnya. Ia mengatakan, akan langsung datang ke lokasi yang dianggap strategis, karena waktu yang tersedia tidak banyak.

Handoko memprioritaskan riset yang konteks transisinya besar, baik dari sisi tata kelola risetnya maupun substansinya. “Jadi itu yang akan saya prioritaskan, pertemuan khusus dengan Kepala OR dan Kepala PR nya”, ungkapnya.

Lebh lanjut Handoko menyampaikan, untuk para Kepala OR perlu ada beberapa target kuantitatif yang sangat sederhana. “Harus menjadi perhatian semuanya, khususnya peningkatan kualitas SDM dan keluaran riset, program kerja sama, dan global engagement,” paparnya.

“Khusus untuk energi dan manufaktur menjadi perhatian saya. Salah satu yang saya prioritaskan untuk internalisasi langsung adalah di Puspiptek. Karena saya lihat sebagian besar dari program  di PR terkait energi dan manufaktur, memang sangat berbeda jauh dari isi substansi maupun dari aktifitas riset nya,” ujarnya. Untu itu, dirinya ingin diskusi mendalam bersama para Kepala PR terkait.

Pada Apel Pagi ini disampaikan pula tentang Seleksi  Terbuka untuk Kepala PR, bahwa beberapa posisi Kepala PR kosong, tidak ada kandidat yang dipanggil. Hal ini disebabkan jumlah kandidat yang memenuhi persyaratan kurang, sehingga seleksi terbuka untuk posisi tersebut akan diulang Kembali.  Sementara bagi yang tidak terpilih sebagai kandidat Kepala PR, menurut aturan, bila jumlah kandidat yang memenuhi persyaratan lebih dari 3, maka dilakukan perangkingan berbasis pada rekam jejak manajemen riset. (ns/ ed:drs)

Sebarkan