Jakarta – Humas BRIN, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menutup tahun 2021 dengan menggelar Webinar Akhir Tahun sekaligus Penganugerahan Jurnalis dan Media BRIN Tahun 2021, Rabu (15/12). Kepala BRIN, Laksana Tri Handoko menjelaskan riset dan inovasi menjadi salah satu dari empat pilar pembangunan Indonesia 2045, yang diharapkan dapat mendukung pembangunan ekonomi di masa depan.

“Harapanya tahun 2024 kita dapat menciptakan pondasi ekonomi berbasis riset yang lebih kuat,” ucap pria kelahiran Malang, 7 Mei 1968 itu.

Handoko mengatakan webinar akhir tahun ini dalam rangka refleksi sekaligus melihat masa depan apa yang sudah dan apa yang akan dilakukan. Dalam menjalankan program kerjanya, BRIN melakukan evaluasi dan refocusing sesuai dengan 3 arah dan 7 target. Namun dengan tetap memakai Rencana Induk Riset Nasional (RIRN) sebagai pedoman.

Refocusing riset dilakukan dengan mengeksplorasi nilai tambah dari berbagai sumber daya alam lokal, dan keanekaragaman hayati, geografi dan seni budaya. Hal ini diharapkan membuat Indonesia menjadi pusat platform riset global yang berbasis sumber daya alam dan keanekaragaman lokal.

Untuk mencapai tujuan itu, BRIN memiliki tiga strategi dalam membangun ekosistem riset di Indonesia. Pertama menciptakan regulasi yang ramah riset. Hal itu sudah dilakukan tahun lalu dengan adanya insentif super tax deduction. Memang regulasi pendukung ini diperoleh jika sudah melakukan aktifitas. “Bagaimana kita menciptakan insentif bagi yang akan masuk, itu yang akan dilakukan oleh BRIN,” ujarnya.

Kedua menciptakan infrastruktur riset terbuka sebagai open platform. Fasilitas riset akan terbuka dan dapat diakses melalui website elsa.brin.go.id, sehingga stakeholder baik perguruan tinggi, industri maupun masyarakat umum bisa melihat dan menggunakan fasilitas riset yang dimiliki oleh BRIN.

Ketiga, membina dan menyemai SDM Riset yang dilakukan sejak mahasiswa. Ini dilakukan dengan memanfaatkan program yang ada, baik melalui program jalur magang riset, entrepreneur berbasis riset, serta menyiapkan skema beasiswa by riset maupun postdoc, hingga merekrut kembali menjadi periset BRIN.

BRIN juga fokus dalam mendukung green, blue and digital economy. Dalam mendukung green economy, hal ini tercermin dengan indonesia yang merupakan negara besar sehingga perlu peningkatan jumlah produksi yang basisnya ada di indonesia termasuk dukungan teknologi yang lebih ramah lingkungan, dan juga teknologi daur ulang.

Sedangkan untuk blue economy, ini mendukung dengan jumlah luas laut di Indonesia yang 60 persen, sama sekali belum banyak dieksplorasi. Dimana pemanfaatan potensi kekayaan di laut tidak hanya untuk kebutuhan pangan tapi juga dapat dimanfaatkan untuk kesehatan dan energi baru terbaru, misalnya pemakaian alga untuk energi berbasis hidrogen untuk energi masa depan.

“Kita ingin menciptakan teknologi kunci sehingga bisa memanfaatkan lebih baik potensi laut di Indonesia, dan juga mitigasi kebencanaan. Dengan memahami laut kita tidak hanya bisa memahami apa saja yang ada di dalamnya tetapi juga untuk mitigasi bencana yang ditimbulkan,” bebernya.

Di lain sisi, di era disrupsi dan pandemi yang terjadi, digital economy menjadi penggerak utama perekonomian. Adanya transformasi digital yang bergerak cepat, banyak hal yang perlu dieksplorasi lebih jauh. “Kita punya citra data satelit yang banyak itu potensi bisnis berbasis data. Kita punya data genomik protein dan DNA, itu juga digital untuk dipakai menjadi basis pembuatan obat baru. Itu yang menjadi target dan fokus kita,” jelasnya. (jml)

Sebarkan