Surabaya, Humas BRIN. Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Laksana Tri Handoko melihat langsung perkembangan model peralatan proses pemurnian garam dengan skala produksi 40.000 ton per tahun, di site plan PT Garam, Gresik, Jawa Timur. Kunjungan ini bertujuan untuk memberikan evaluasi terhadap kerja sama yang sudah berlangsung sejak 2019. “Program ini jangan sampai berhenti di pilot plant, dan risetnya harus sesuai dengan kebutuhan stakeholder,” jelas Kepala BRIN.

Hubungan PT Garam dengan BRIN sebelumnya diawali dengan pilot plant pengembangan kualitas garam industri di Indonesia yang pada tahun lalu dicanangkan, dilaksanakan oleh BPPT melalui pembangunan model peralatan proses pemurnian dengan skala produksi 40.000 ton per tahun. Di era BRIN, nampaknya program yang menjadi satu di antara empat program super prioritas riset nasional ini akan disesuaikan.

Dalam sambutannya, Kepala BRIN menekankan bahwa periset BRIN harus memposisikan diri sebagai R&D mitra. Hal ini dirasa penting agar riset tetap jalan dan terasa kebermanfaatannya, tanpa menempatkan periset BRIN di luar batas kepakarannya. “Oleh karena itu saya usul ini dilanjutkan dengan skema hibah, atau kerjasama tiga pihak, PT Garam sebagai pemangku utama, BRIN sebagai pemilik teknologi, serta swasta sebagai operator,” paparnya.

Direktur PT Garam Achmad Didi Ardianto menyambut baik usulan tersebut. “Secara umum akan lebih ringkas dan lincah,” tandasnya. Hal ini guna menjawab tantangan di lapangan yang cukup variatif. Mulai dari kualitas yang dihasilkan petani, serapan, hingga daya saing output produk PT. Garam itu sendiri.

Kepala BRIN berharap kolaborasi PT Garam dengan BRIN dapat terus terjalin.  Kepala BRIN berpesan, sebuah riset, terlebih riset seperti ini, tidak boleh berhenti di skala pilot plan. “Riset ini harus lanjut di skala industrial, sehingga terasa betul manfaatnya, hadirnya swasta sebagai operator, akan membuat BRIN bisa fokus pada pengembangannya saja, sebagaimana kapasitasnya,” tegas Handoko.

Adapun industri garam secara umum di Indonesia, masih memerlukan berbagai sentuhan. Catatan Kementrian Perindustrian, total kebutuhan garam di tahun 2021 mencapai 4.606 554 ton, di mana hanya 1.528.653 ton yang mampu dipenuhi oleh lokal, sedangkan sisanya impor.

Kunjungan ini merupakan rangkaian kunjungan kerja maraton Kepala BRIN di Jawa Timur, tidak lama berselang, di hari yang sama, Kepala BRIN berturut-turut mengunjungi PT. PAL dan Balai Teknologi Hidrodinamika Surabaya. OR Pasuruan dan Kebun Raya Purwodadi. Tampak bersama Kepala BRIN segenap pimpinan diantaranya, Deputi Infrastruktur Riset, Dr. Yan Rianto, M.Eng, Plt. Direktur Pengelolaan Armada Kapal Riset, Dr. Nugroho Dwi Hananto, M.Si. serta Kepala Plt. Kepala Biro Komunikasi Publik, Umum, dan Kesekretariatan, Driszal Fryantoni, M.Eng. Sc. (gst/ ed:drs)