SIARAN PERS
BADAN RISET DAN INOVASI NASIONAL
Nomor : 137/SP/HM/BKPUK/IX/2021

Jakarta – Bandara antariksa adalah pembangunan besar sebagai bentuk investasi modal dan melibatkan konsorsium penanaman modal yang besar. Kesiapan lahan dan investor adalah dua syarat pembangunan itu dimulai. Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Laksana Tri Handoko menyatakan, jika kedua syarat tersebut sudah jelas, BRIN akan memulai pembangunan roket pengorbit satelit. “Kita akan bermitra dengan konsorsium swasta. Bandara ini nantinya bukan sekedar fasilitas negara untuk riset tetapi juga untuk bisnis peluncuran satelit,” tuturnya dalam sebuah wawancara media (25/9).

Handoko mengakui, sudah ada beberapa konsorsium yang menyatakan minat. Namun karena sifatnya yang confidential, hal itu tidak dapat disebutkannya. Bisnis ini multinasional sehingga membutuhkan kerjasama internasional.

Lebih lanjut, Handoko mengatakan, posisi geografis Indonesia lebih menguntungkan untuk meluncurkan satelit. “Ada potensi penghematan bahan bakar karena gravitasi di Indonesia lebih mendukung dan lebih menguntungkan daripada India. Indonesia berharap memiliki kemandirian dalam meluncurkan satelit untuk komunikasi, surveilans, mitigasi perubahan iklim, mitigasi bencana, dan sebagainya,” jelasnya.

Mengenai Space X yang dikabarkan pernah berkomunikasi dengan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), Kepala Organisasi Riset Penerbangan dan Antariksa BRIN (sebelumnya adalah LAPAN) Erna Sri Adiningsih menegaskan bahwa komunikasi yang pernah berlangsung dengan Space X bukan dalam konteks pembangunan antariksa. “Space X saat itu membantu memetakan lokasi penerbangan penumpang komersial antarbenua dengan menggunakan roket agar lebih hemat energi dan waktu dibandingkan jika menggunakan pesawat,” terangnya.

Sebelumnya, Erna melanjutkan, LAPAN sudah melakukan studi feasibilitas pada lahan untuk kepentingan penelitian dan pengembangan di Biak. “Lokasi Biak diketahui sudah sesuai dalam hal teknis dan lingkungan secara fisik. Namun utk luasannya harus diperluas karena belum memenuhi persyaratan minimum 1000 hektar untuk kebutuhan yang lebih besar, selain itu ada aspek sosial budaya yang harus difikirkan secara serius,” ungkapnya. “Stasiun bumi di Biak sudah ada sejak lama sebelum BRIN terbentuk. Posisinya berbeda dengan lokasi yang diisukan akan dibangun bandara roket pengorbit satelit,” sambungnya.

Dalam kesempatan tersebut, Kepala BRIN juga menyampaikan bahwa Morotai adalah salah satu dari beberapa lokasi lainnya yang dipilih sebagai alternatif lokasi bandara roket pengorbit satelit. “Biak bukan satu-satunya lokasi ideal dan BRIN belum investasi apapun. Saat ini BRIN masih melakukan evaluasi terhadap perencanaan awal. Kajian serupa juga sudah dilakukan di beberapa lokasi lainnya,” tandasnya. (drs)

Biro Komunikasi Publik, Umum, dan Kesekretariatan
Badan Riset dan Inovasi Nasional