Jakarta – Humas BRIN. Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional Laksana Tri Handoko menyebutkan aktifitas riset masih belum populer di kalangan masyarakat. Padahal riset itu merupakan solusi dari permasalahan aktifitas sehari-hari. Maka dari itu, dia pun mendorong adanya grassroots inovations, atau inovasi yang datang dari akar rumput.

“Lahirnya BRIN untuk membuat semua orang aware terhadap riset. Ini yang akan meningkatkan nilai ekonomi,” ungkap Handoko saat diwawancari dalam acara “Podcast Di Atas Meja Makan” di Studio Viva, Pulogadung Jakarta Timur, Selasa (19/4).

Menurut Handoko, riset dan inovasi tidak harus datang dari akademisi. Akan tetapi, bisa dilakukan oleh semua orang termasuk individu, komunitas, hingga industri. Sehingga siapa saja bisa menjadi periset, bahkan bisa punya paten dan menambah nilai ekonomi. Hal ini yang menjadi basis kemajuan ekonomi.

“Di negara maju seperti di Jepang itu, separuh penghasil paten sederhana ya, bukan yang reguler. Itu merupakan ibu rumah tangga. Karena ibu rumah tangga banyak permasalahan di rumah. Itu sebabnya mereka menjadi penghasil paten terbesar di Jepang. Semakin banyak kita memiliki paten, negara kita akan semakin maju,” beber pria lulusan S3 Fisika Partikel Elementer Teoritik Hiroshima University tersebut.

Lebih jauh, Handoko menjelaskan fungsi BRIN diharapkan dapat membangun ekosistem riset yang jauh lebih baik. Satu tahun sejak terbitnya Perpres No 78 Tahun 2021, lanjutnya, BRIN berupaya melakukan konsolidasi menggabungkan lembaga riset dari hampir 74 Kementerian/Lembaga. Konsolidasi itu meliputi Sumber Daya Manusia (SDM), anggaran, dan infrastruktur riset.

“Sebenarnya ide menggabung lembaga riset itu sudah lama sejak zaman Bung Karno tahun 1960-an. LIPI dulu itu sendiri gabungan dari hampir 17 lembaga riset nasional saat itu. BRIN ini menuntaskan penggabungan yang belum selesai tadi,” ulasnya.

Di sisi lain, Handoko juga membuka masukan dan aspirasi masyarakat. Menurutnya itu menjadi bagian penting dalam memajukan riset dan inovasi. Hal yang lebih penting lagi, masyarakat juga akan lebih menjadi tahu, bahwa BRIN saat ini banyak memiliki skema fasilitasi yang bisa diakses oleh masyarakat.

Handoko berpesan agar masyarakat tidak perlu takut memiliki ide-ide yang berbeda, untuk menghasilkan invensi dan inovasi. “Yang terpenting jangan takut mencoba, apabila gagal, coba kembali. Karena basis inovasi itu kepekaan terhadap masalah dan kreatifitas untuk mencari solusinya,” tuturnya. (jml)

Sebarkan