Jakarta – Humas BRIN. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) ingin mempertajam dan membawa Research and Innovation Initiative Gathering (RIIG) ke tingkat yang lebih tinggi dari program yang dapat ditindaklanjuti. Kondisi pandemi Covid-19 yang saat ini masih dihadapi oleh negara anggota G20 dan di waktu bersamaan juga dituntut mengambil tindakan nyata terhadap perubahan iklim. 

Terkait dengan dua hal tersebut, Kepala BRIN, Laksana Tri Handoko menegaskan, tidak perlu dipertanyakan lagi betapa pentingnya peran riset dan inovasi. “Maka, sudah saatnya kita semua menekankan peran riset dan inovasi di panggung forum G20. Ini juga akan menjadi kunci yang memungkinkan untuk mengubah pertemuan informal kami menjadi kelompok kerja permanen di KTT G20 dalam waktu dekat,” ungkapnya saat membuka Preliminary Meeting RIIG (24/2) secara daring.

Di masa pandemi sejak 2020, Handoko mencermati, dunia banyak belajar bagaimana riset dan inovasi berperan sangat signifikan dalam memerangi COVID-19. Di sisi lain, ia juga menyoroti perubahan drastis komunitas sains, khususnya di bidang medis, untuk berjuang bahu membahu melawan pandemi. Ada begitu banyak pekerjaan sukarela dan sukarelawan lintas batas, termasuk munculnya kesadaran untuk membuka data untuk kepentingan rakyat. Misalnya, platform GIS-AID untuk berbagi data genomik COVID-19 ke seluruh dunia.

“Dengan pertimbangan tersebut, kami telah mengusulkan dua agenda besar untuk dibahas selama RIIG kami tahun ini. Agenda pertama, kami ingin meningkatkan kerja sama riset dan inovasi melalui sharing sarana, prasarana dan pendanaan,” sebutnya. “Agenda ke dua, pemanfaatan keanekaragaman hayati untuk mendukung green and blue economy,” sambungnya.

“Saya ingin menekankan beberapa poin mengapa BRIN menganggap kedua isu tersebut penting bagi semua negara anggota G20. Pertama, Keanekaragaman Hayati dan pemanfaatannya, termasuk riset kesehatan dan medis, adalah kunci masa depan kita,” tuturnya.

Kedua, ia melanjutkan, isu ini juga merupakan komponen kunci dalam upaya global memerangi pandemi dan perubahan iklim. “Berkenaan dengan perubahan iklim, tidak dapat dihindari untuk mempertimbangkan laut dan ekosistemnya. Oleh karena itu, penelitian kelautan lintas batas dan pemahaman mendalam kita tentang laut dan ekosistemnya harus menjadi pengubah permainan di masa depan,” urainya.

Ketiga, di sisi lain, Handoko menyayangkan belum adanya mekanisme yang mapan dan kesepakatan bersama untuk melakukan riset global tentang keanekaragaman hayati. “Dukungan pemanfaatan keanekaragaman hayati yang lebih masif sangat diperlukan melalui kolaborasi berbasis kesetaraan untuk kemakmuran umat manusia,” ujarnya.

Indonesia, sebagai salah satu negara megabiodiversitas, percaya bahwa kita harus membentuk semacam skema Global Biodiversity Research Partnership (GBRP) untuk mengambil tindakan yang lebih konkrit guna mendorong pemanfaatan keanekaragaman hayati global dan kolaborasi global di dalamnya. 

Dalam kesempatan itu Handoko menyampaikan bahwa Indonesia saat ini lebih dari siap untuk berkontribusi secara progresif untuk mewujudkan GBRP. “Oleh karena itu, saya mohon dukungan dan kontribusi para negara anggota G20 untuk mewujudkan inisiatif ini dalam waktu dekat,” imbuhnya.

Kepala BRIN melihat beberapa negara anggota G20 sudah akrab dengan skema GSO-GRI (Group of Senior Officials on Global Research Infrastructures) yang berfokus infrastruktur riset untuk mendukung big science. “Mungkin, kita dapat mengadopsi beberapa praktik terbaiknya untuk mewujudkan Kemitraan Riset Keanekaragaman Hayati Global sesegera mungkin. Kemitraan itu nantinya diharapkan mempercepat riset dan inovasi berbasis keanekaragaman hayati yang lebih maju dan global di masa depan,” tegasnya.

Apresiasi Delegasi G20 

Menanggapi kedua usulan yang disampaikan BRIN, para Ketua Delegasi RIIG G20 dari beberapa negara memberikan mendukung dan mengapresiasi terhadap kedua usulan tersebut. Delegasi Italia dan Jepang mendorong adanya kerjasama pada kedua bidang tersebut dan harus dituangkan ke dalam program yang lebih spesifik berupa konsep atau platform konkrit yang bersifat global. 

Para delegasi sepakat untuk berdiskusi lebih lanjut terkait pentingnya konsep Open Science, dengan mendorong ketersediaan data dan fasilitas yang dapat dimanfaatkan dan dikembangkan oleh sesama anggota. Keempat area (biodiversity, marine and ocean, space and renewable energy) yang diusulkan oleh BRIN dalam hal ini juga menjadi prioritas bagi negara-negara G20, terutama terkait isu biodiversity yang sangat erat kaitannya dengan kesejahteraan manusia, perubahan iklim, isu sosial dan lingkungan.  Italia sangat setuju bahwa biodiversity adalah hal yang sangat penting untuk umat manusia dimana dalam hal ini blue dan green economy memegang peranan yang sangat besar. 

Delegasi dari Kanada juga memberikan dukungan terhadap kedua usulan BRIN. Konsep green and blue economy yang telah diimplementasikan oleh Kanada bergantung pada penggunaan sumberdaya berkelanjutan yang menyediakan fungsi yang lebih baik untuk regulasi perubahan iklim, aspek sosial dan lingkungan. Kanada akan mendukung BRIN dalam hal tersebut termasuk didalamnya membangun kolaborasi internasional baik antar pemerintah, akademisi, maupun sektor swasta. 

Sementara itu, delegasi Inggris tertarik untuk mempertimbangkan hubungan antara sektor keanekaragaman hayati dengan bidang lain seperti pertanian dan pangan, kehutanan, penggunaan lahan dan sebagainya.  Begitupun keterkaitan antara marine and ocean research dengan berbagai sektor tersebut. 

Dalam kaitannya dengan marine and ocean research, delegasi Amerika Serikat menyarankan untuk melihat kembali kepada sejumlah international agreements dan kerjasama dengan stakeholder terkait yang sudah ada agar tidak terjadi tumpang tindih dalam kerjasama dan kolaborasi di tingkat global. 

Dukungan juga diberikan delegasi Australia dalam hal ini mengemukakan bahwa pihaknya selama ini telah memiliki sejumlah mekanisme pendanaan guna mendukung kolaborasi riset dan teknologi dan terbuka untuk berdiskusi lebih lanjut guna mendukung kerjasama internasional di bidang tersebut dengan anggota G20. Senada dengan delegasi Australia dan Brazil melihat bagaimana peluang negara-negara G20 dalam mendorong sharing mechanism baik itu informasi, data maupun pendanaan di area blue dan green economy. Brazil mencontohkan selama ini pihaknya sudah berbagi data dan informasi dalam ranah biodiversity melalui Global Biodiversity Information Facility (GBIF). 

Sementara itu, delegasi China menekankan diantara keempat sub topik (biodiversity, marine and ocean, space and renewable energy) perlu diperjelas kembali di ranah mana para anggota G20 harus berkontribusi. (drs,aps/ed:pur)

Sebarkan