Jakarta – Humas BRIN, Kerja sama riset dan inovasi melalui sharing sarana, prasarana, dan pendanaan menjadi salah satu topik yang dibahas pada preliminary Riset and Innovation Initiative Gathering (RIIG) G20. Melalui bahasan topik ini diharapkan menghasilkan rekomendasi yang mendorong terwujudnya green and blue economy.

Plt. Deputi Bidang Sumber Daya Manusia Iptek, Edy Giri Rachman Putra dalam paparannya mengatakan, pada dekade terakhir ini, konsep green and blue economy menjadi strategi prioritas bagi banyak negara. Konsep ini, menurutnya akan menjadi pendorong perubahan ekonomi berkelanjutan.  

“Dengan begitu, negara-negara ini akan siap menghadapi tantangan besar yang dihadapi seperti kekurangan sumber daya, perubahan iklim, ancaman keamanan lingkungan, krisis energi dan lainnya,” kata Edy Giri, pada preliminary RIIG G20, Kamis (24/02). Hal ini menjadikan peluang bagi para pemangku kepentingan di semua tingkatan dan menciptakan kemitraan dan kerja sama dalam menciptakan ide dan peluang yang inovatif.

Edy Giri dalam paparannya mengusung topik meningkatkan kerja sama riset dan inovasi melalui sharing sarana, prasarana, dan pendanaan, menganggap bahwa perlunya membangun skema kerja sama penelitian dan inovasi diantara negara anggota G20. Beberapa alasan yang mendasari perlunya dibangun skema kerjasama penelitian antara lain meningkatnya masalah dan tantangan yang dihadapi saat ini oleh negara anggota G20.

Alasan lainnya, adanya kebutuhan bersama di antara negara anggota G20 untuk mengatasi masalah dan tantangan secara global. Perlunya menetapkan target yang lebih ambisius termasuk di dalamnya kerangka penelitian keanekaragaman hayati secara global. Selain itu, adanya kesenjangan kompetensi yang sangat lebar di bidang penelitian diantara negara anggota G20.

“Kita perlu membangun ekosistem penelitian dan inovasi yang kuat serta menciptakan kolaborasi yang lebih solid antar pemangku kepentingan yang didukung oleh kebijakan yang relevan di negara-negara anggota G20. Untuk itu, kami sangat terbuka untuk kolaborasi penelitian dan inovasi di bidang tertentu seperti Biodiversity, Marine & Oceanic Research, New & Renewable Energy, dan Space & Earth Science; yang akan menjadi motor penggerak perekonomian dan kemakmuran, serta dalam mencari solusi atas permasalahan yang dihadapi umat manusia di muka bumi saat ini,” tegas Edy Giri.

Keanekaragaman Hayati

Sebagai negara yang memiliki kekayaan keanekaragaman hayati, Indonesia lanjut Edy Giri, terus berupaya menjaga kelestariannya dengan mendirikan setidaknya 42 Kebun Raya di seluruh wilayah Indonesia. Berbagai fasilitas penelitian baru telah dan sedang dibangun di Pusat Sains Cibinong, Laboratorium Bioproduk Terpadu, fasilitas Koleksi Kultur, Laboratorium Genomik, serta fasilitas lain yang terkait dengan biologi, mikrobiologi, good manufacturing practices (cara produksi pangan yang baik), dan lainnya.

“Pengembangan sarana dan prasarana tersebut dalam rangka membangun Pusat Nasional Keanekaragaman Hayati di Indonesia yang modern dan lengkap, serta terbuka untuk kegiatan penelitian kolaboratif di tingkat nasional dan internasional,” tambahnya.

Dengan luas wilayah perairan sekitar 62%, lingkungan laut Indonesia sangat kaya akan sumber daya alam hayati dan non hayati. Pengelolaan berkelanjutan terhadap sumber daya ini dan konservasi keanekaragaman hayati dan ekosistemnya menjadi isu penting, karena memiliki dampak langsung pada pembangunan sosial ekonomi negara.

“Saat ini, lima armada kapal penelitian kelautan, Kelas Baruna Jaya, mampu melakukan penelitian di bidang geosains kelautan, oseanografi, ilmu atmosfer, keanekaragaman hayati laut, dan pemetaan dasar laut, terutama untuk mempercepat upaya pemahaman laut dalam. ekosistem,” terangnya.

“Skema eksplorasi kelautan di Indonesia yang disebut Ekspedisi Widya Nusantara 2022-2024 juga telah disiapkan dan dibuka untuk peneliti nasional bekerjasama dengan mitra penelitian global sebagai upaya kami untuk secara signifikan mengembangkan kerjasama penelitian dengan lembaga ilmiah atau universitas asing,” ungkapnya.

Tidak hanya itu, tutur Edy Giri, dalam upaya mempertahankan keanekaragaman hayati, Indonesia juga meningkatkan Ilmu pengetahuan dan teknologi luar angkasa. Beberapa fasilitas dibangun untuk penelitian ilmu bumi dan penginderaan jauh dalam upaya membantu pemantauan tumpahan minyak, kualitas air, mangrove, terumbu karang, budidaya, zona penangkapan ikan potensial, hilangnya hutan/keanekaragaman hayati, dan pertumbuhan perkebunan kelapa sawit.

Menuju Zero Emission

Ketergantungan terhadap sumber energi yang bahan bakar fosil berdampak pada perubahan iklim yang belum pernah terjadi sebelumnya, dan mempercepat degradasi lingkungan serta hilangnya keanekaragaman hayati global. Perubahan iklim dan hilangnya keanekaragaman hayati, menyebabkan kerusakan parah pada ekosistem. Atas dasar fenomena itulah, energi bersih menjadi kebutuhan sangat mendesak secara global.

“Dalam transisi energi Indonesia, penekanan pengurangan emisi pada sektor industri dan transportasi akan menjadi yang paling signifikan. Untuk sektor industri, penelitian inovasi ekosistem pada sistem carbon capture storage (CCS), blue and green hydrogen untuk industri petrokimia, dan biofuel dalam hal bioenergi merupakan bagian penting dalam melindungi habitat makhluk hidup,” tutur Edy Giri.

Penelitian tentang energi terbarukan, khususnya energi nuklir memberikan peluang baru yang secara signifikan mendukung komitmen global untuk mengurangi emisi karbon hingga mencapai zero emission pada sekitar pertengahan abad, sebagaimana telah pada konferensi PBB tentang Perubahan Iklim ke-26. Ini menekankan pentingnya penelitian dan pengembangan tenaga nuklir, sebagai ujung tombak teknologi energi bersih.

“Energi nuklir diharapkan dapat memainkan peran yang lebih signifikan dalam mendorong pertumbuhan ekonomi hijau di tahun mendatang. Beberapa laboratorium energi terbarukan, termasuk reaktor riset dan laboratorium terkait untuk melakukan penelitian dan inovasi di bidang energi,” pungkasnya. (pur)

Sebarkan