Jakarta – Humas BRIN, Dunia riset masih didominasi oleh kaum lelaki. Namun kiprah periset perempuan juga tidak kalah dalam menorehkan prestasi dan meraih penghargaan internasional.

Dalam webinar Talk to Scientists, Selasa (08/03), Neni Sintawardani, periset bidang Teknologi Lingkungan di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) berbagi pengalamannya selama berkiprah di dalam penelitian sejak tahun 1983.

Perempuan peraih The Underwriters Laboratories-ASEAN-US Science Prize for Women 2021, kategori peneliti senior ini menceritakan awal mulanya melakukan penelitian dalam pengembangan teknologi pengolahan limbah hingga bio toilet untuk sanitasi.

Saat studi S3 di University of Hohenheim, Stuttgart, Jerman, penelitian Neni berfokus pada pengembangan teknologi anaerobic reactor untuk pengolahan limbah dari agroindustri. Penelitiannya lantas dilanjutkan dengan mengembangkan reaktor-reaktor sejenis untuk pengolahan limbah di lingkungan, seperti limbah tahu dan tapioka.

Teknologi anaerobic plant skala pilot sudah berhasil diaplikasikan pada pengolahan limbah cair dari 10 pabrik tahu skala kecil di Sumedang. Teknologi ini bahkan menghasilkan biogas yang telah dimanfaatkan oleh 89 kepala keluarga.   

Seiring berjalannya waktu, Neni banyak melakukan kerja sama riset dengan pihak internasional, salah satunya bekerja sama dengan Japan International Cooperation Agency (JAICA) dalam mengembangkan bio toilet atau composting toilet. Riset yang ia lakukan ini untuk mengatasi permasalahan sanitasi di daerah-daerah yang sulit air.

Bio toilet yang merupakan desain toilet sistem kering menggunakan matriks serbuk kayu sebagai media penangkap dan pengurai tinja dan urin. Limbah dari WC kering atau bio toilet ini dapat dimanfaatkan untuk kompos.

“Jadi kita mengembangkan konsep recycling. Artinya dari ‘buangan’ kita sendiri (tinja dan urin) diolah (dengan bio toilet), dan bisa digunakan (sebagai kompos) untuk memproduksi pangan. Pangan kita makan dan kemudian kita kembali membuang kotoran. Konsep recycling ini kita butuhkan untuk membentuk masyarakat yang suistanable dalam lingkungan,” jelasnya.

Periset berprestasi lainnya, Yenny Meliana, menceritakan kisah suksesnya dalam melalukan penelitian terkait teknologi nano-emulsi, terutama dari bahan-bahan alam. Teknologi ini telah  diaplikasikan dalam berbagai produk, seperti kosmetik, pestisida, hingga hand sanitizer.

Dipaparkan Yenny, pertumbuhan pasar untuk kosmetik sejak pandemi, paling tinggi di wilayah Asia Pasifik yang mencapai 43 persen. Potensi untuk kegiatan riset dalam pengembangan kosmetik ini tentu saja sangat besar.

Teknologi nano-emulsi dan nano-enkapsulasi sudah diaplikasikan untuk memformulasikan agen anti selulit dari ekstrak tanaman pegagan dan jahe. Formulasi tersebut diaplikasikan dalam bentuk produk lotion (anti-cellulite emugel) dan dikonsumsi dalam bentuk kapsul (anti-cellulite nanoencapsulation).

“Begitu diaplikasikan, produknya bisa mengurangi kekasaran kulit hingga 25 persen, kedalaman kerut berkurang sampai 6 persen, elastisitas kulit kembali sampai 82 persen, dan kelembapan kulit meningkat 27 persen. Untuk produk kosmetik memang tidak ada yang kembali normal sampai 100 persen,” urai Yenny.

Teknologi nano-emulsi dari formulasi bahan alam juga diaplikasikan pada produk anti-aging serum dan parfum. Teranyar, peraih Hitachi Award 2021 ini juga mengembangkan formulasi antiseptic gel nanosilver dan essential oil untuk pembuatan hand sanitizer. Penelitian ini diarahkan pada produk hand sanitizer yang membuat kulit lembut namun tidak mengurangi efektivitas kinerja dalam membunuh virus.

“Hasil uji skrining spike inhibitor SARS-COV-2, hand sanitizer dalam penelitian ini berpotensi mencegah penyebaran virus SARS-COV-2 hingga 88,2 persen,” terangnya (tnt).

Sebarkan