Bandung, Humas BRIN. Transformasi Digital membawa peluang dan tantangan baru dalam berbagai kegiatan penelitian. Untuk itu, kolaborasi antara Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan Huawei diharapkan dapat berlanjut di masa depan. Hal ini untuk mendukung dalam percepatan transformasi digital serta memperkuat ekosistem digital.

“Komputasi saat ini memungkinkan dilakukannya penelitian-penelitian di berbagai bidang ilmu. BRIN menawarkan sumber daya manusia sains-teknologi dan infrastruktur penelitian yang terbuka bagi kolaborasi penelitian baik lokal maupun global untuk berkontribusi dalam sains dan teknologi. Transformasi digital yang dilakukan akan membawa manfaat bagi masyarakat dan sesuai dengan tujuan pembangunan berkelanjutan,” beber Kepala Organisasi Riset Elektronika dan Informatika BRIN, Budi Prawara dalam Huawei APAC Digital Innovation Congress 2022 yang bertema “Innovation for a Digital Asia Pacific” di Singapura, Kamis (19/5).

Dalam paparannya, Budi menyampaikan perihal integrasi unit penelitian dari 39 Kementerian/ Lembaga yang saat ini tergabung dalam Badan Riset dan Inovasi Nasional. Integrasi lembaga litbang yang dilakukan menjadi bukti dari kebijakan berbasis sains serta memperkuat ekosistem riset dan inovasi. Penguatan penelitian dan inovasi di Indonesia dilakukan dengan dukungan regulasi dan skema seperti mobilitas infrastruktur riset yang terbuka serta fasilitas riset dan inovasi.

“BRIN akan menjadi pembangkit untuk Riset dan Inovasi bukan hanya untuk peneliti BRIN, namun juga bagi akademisi, industri dan masyarakat lokal maupun global,” ucapnya.

Sejauh ini, BRIN telah berkolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan dalam pengembangan teknologi dan inovasi. Kolaborasi dengan Huawei telah dilakukan sejak tahun 2020 untuk pengembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) dalam rangka mendukung percepatan transformasi digital. Hal tersebut sejalan dengan perkembangan Strategi Nasional untuk kecerdasan buatan.

BRIN sendiri telah menerapkan platform pelayanan sains (e-scientific service), yang merupakan proses bisnis digital dalam wujud integrasi dari ribuan perangkat penelitian yang dapat diakses bukan hanya peneliti BRIN, namun juga pihak eksternal. Dengan demikian manajemen dapat mengatur perencanaan pemeliharaan dan penyediaan peralatan pendukung lainnya.

Selain proses bisnis, program riset yang mendukung transformasi digital di Indonesia yang dilakukan oleh BRIN, khususnya dilakukan oleh Organisasi Riset Elektronika dan Informatika, di antaranya program kendaraan listrik berbasis baterai khususnya kendaraan otonom, program sistem deteksi nirkabel, big data dan artificial intellegence untuk keanekaragaman hayati dan pencitraan satelit, bioinformatika dan komputasi untuk kehidupan dan kesehatan dan lainnya.

“Berbagai latar belakang dari peneliti BRIN secara aktif melakukan kolaborasi dalam kegiatan penelitian global, serta berkontribusi pada penelitian ilmu kesehatan-kehidupan yang sebagian besar sekarang membutuhkan daya komputasi berkinerja tinggi,” jelas Budi. (kg) 

Sebarkan