Jakarta – Humas BRIN. Peraturan Presiden Nomor 78 Tahun 2021, tentang Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), mengamanatkan integrasi 5 entitas utama riset, termasuk LAPAN, dan unit kerja litbangjirap dari berbagai Kementerian/Lembaga ke dalam BRIN. Karena itu, salah satu aspek dari penyelenggaraan keantariksaan, yakni pelayanan data satelit penginderaan jauh, saat ini dilakukan oleh Pusat Data dan Informasi (Pusdatin) BRIN.

Kepala Organisasi Riset Penerbangan dan Antariksa (ORPA) BRIN, menyatakan, dalam rangka melaksanakan amanat UU Keantariksaan, SDM ex-LAPAN yang mempunyai peminatan dan kompetensi pelayanan data penginderaan jauh, ditempatkan di Pusdatin. Selain itu juga dilakukan pelatihan pada SDM Pusdatin lainnya oleh Pusat Riset Penginderaan Jauh (PRPJ) ORPA BRIN.

Dirinya menegaskan, BRIN menjamin keberlanjutan layanan data dan informasi penginderaan jauh bagi seluruh stakeholders.

“Atas sinergi yang sangat baik antara Pusdatin dan PRPJ, pelayanan data citra satelit penginderaan jauh untuk kebakaran hutan, zona potensi ikan, tutupan lahan pertanian, dll, nyaris tidak mengalami interupsi,” ungkap Heru, pada Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Citra Satelit Penginderaan Jauh, secara daring, Selasa (17/05).

Senada dengan Heru, Plt. Kepala Pusdatin BRIN, Hendro Subagyo menjelaskan, sebelumnya, seluruh penyelenggaraan kegiatan penginderaan jauh dikelola oleh Pustekdata dan Pusfatja LAPAN. Dengan integrasi LAPAN ke BRIN, maka proses bisnis penyelenggaraan kegiatan penginderaan jauh dilakukan oleh 6 unit kerja di BRIN.

“Terkait layanan data dan informasi tidak berbayar, dilakukan oleh Pusdatin. Sedangkan untuk risetnya sendiri dilakukan oleh pusat riset, yaitu PRPJ,” ungkap Hendro.

Kemudian untuk layanan tenaga ahli, bebernya, menjadi tugas Pusyantek. Layanan bimbingan teknis menjadi tugas Deputi SDM Iptek. Pengelolaan infrastruktur, sewa alat, dan laboratorium menjadi tugas Deputi Infrastruktur Riset dan Inovasi. Sedangkan terkait pemanfaatan dan kerja sama data dan informasi citra satelit dilakukan oleh Deputi Pemanfaatan Riset dan Inovasi.

Lebih rinci Hendro memaparkan, ada 2 jenis layanan data dan informasi citra satelit di BRIN, yaitu layanan data dan layanan informasi. Layanan data, meliputi data standar dan data pengolahan lanjut.

“Data standar, dengan data scene, level proses, resolusi rendah, menengah, tinggi, sangat tinggi, dengan sensor Optis dan SAR. Sedangkan data pengolahan lanjut, dalam bentuk Mosaik Bebas Awan Annual, Analysis Ready Data, Quick Respon Bencana, Landsat reflectance, dan user order (crop, Peta Citra Satelit (PCS), konversi 8 bit, Pansharphening).

Sedangkan untuk layanan informasi, terbagi menjadi 2 jenis layanan. Informasi standar, otomatis, atau rutin, bisa diakses melalui sistem informasi yang disebut dengan SIMBA. SIMBA menyajikan data peringatan dini bencana seperti kekeringan, sistem peringkat bahaya kebakaran, dan dampak bencana, seperti tumpahan minyak, dan daerah terbakar. Kemudian layanan informasi yang bisa diakses melalui sistem informasi lainnya, yaitu SIPANDA, terkait sumber daya wilayah darat, pesisir dan laut, dan air.

Saat ini, terang Hendro, BRIN menyediakan data optik resolusi rendah lebih dari 250 m dan resolusi menengah 15 hingga 30 meter. “Yang sekarang dalam proses lelang internasional untuk penyediaan data tahun 2022 adalah data optik resolusi tinggi 1,5 m, resolusi sangat tinggi kurang dari 50 cm, dan data SAR 3 m,” tuturnya.

Perkuat Kajian Riset Teknologi Penginderaan Jauh

Plt. Kepala PRPJ BRIN, Rahmat Arief menyebut, pihaknya telah merumuskan 3 program dalam kegiatan riset dan inovasi penginderaan jauh, yakni teknologi penginderaan jauh, metode pengolahan data penginderaan jauh, dan platform penginderaan jauh.

Riset terkait teknologi penginderaan jauh, sambung Rahmat, terkait dengan payload penginderaan jauh, compact/ smart ground station, ARD optis dan fusi data, radar dan pemodelan 3-D.

“Teknologi penginderaan jauh, meliputi kajian dan pengembangan satelit masa depan, yaitu dalam rangka meningkatkan layanan penyediaan data dan informasi dari citra satelit, yang mungkin saat ini kita masih mengadakan data. Kedepannya, Indonesia harus mampu meluncurkan satelit nasional dan mengoperasikan sendiri, dan kajian-kajian tersebut harus diperkuat oleh pusat riset,” pungkasnya (tnt).

#ReformasiBirokrasiBRIN

#ProfesionalOptimisProduktif

Sebarkan