Cibinong, Humas BRIN. Wilayah Indonesia bagian Timur tepatnya di Nusa Tenggara Timur, sedang mengalami serangan hama belalang kembara. Serangan belalang kembara ini berdampak pada kondisi pertanian yang dapat membahayakan ketahanan pangan di daerah dan berdampak sangat besar dalam cakupan nasional. 

Kepala Organisasi Riset Pertanian dan Pangan (ORPP) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Puji Lestari mengatakan perlu kajian yang serius untuk merumuskan kebijakan dari pemerintah pusat dan daerah dalam penanganan serangan hama belalang kembara, baik dalam waktu jangka pendek maupun jangka panjang.

“Saat ini banyak teknologi yang tersedia untuk melakukan mitigasi pencegahan dan pengendalian selain dengan pengendalian fisik dan kimia,” ujarnya saat membuka webinar “Sharing Session Pengendalian Hama Belalang Kembara”, pada Rabu (25/5).

Dirinya menyampaikan sharing session ini diharapkan dapat memberikan informasi terkait inovasi teknologi di daerah untuk pengendalian hama belalang kembara. Puji menyebutkan pemerintah akan berupaya untuk melakukan mitigasi dan adaptasi serta membuka kolaborasi seluas-luasnya dengan perguruan tinggi ataupun institusi riset nasional/internasional yang sangat terkait dengan pengendalian hama belalang kembara.

“Kami harap dalam waktu dekat BRIN dan pemerintah daerah akan melihat fenomena secara langsung di lapangan dan mencari solusi jangka pendek untuk mengatasi serangan lanjutan dan mempercepat pemulihan tanaman yang terserang,” ucapnya.

Peneliti Ahli Bidang Entomologi Pusat Riset Zoologi Terapan BRIN, Ikhsan Guswenrivo menjelaskan belalang kembara (Locusta migrotoria manilensis Meyen) merupakan satu-satunya spesies belalang yang mengalami transformasi dari 51 spesies anggota Acrididae.

Belalang kembara juga menyerang hampir seluruh tanaman hortikultura. “Belalang ini terkenal rakus dan menyebabkan kerusakan ekonomi yang sangat besar,” ungkap Ikhsan dalam paparannya sebagai salah satu narasumber.

Ikhsan menjelaskan belalang kembara memiliki tiga fase populasi, yaitu fase soliter (populasi belalang yang rendah dan mempunyai perilaku individual), fase transisi (populasi belalang yang cukup tinggi dan mulai membentuk kelompok-kelompok kecil), dan fase gregarius (populasi belalang yang telah bergabung dan membentuk gerombolan besar yang sangat merusak).

“Belalang kembara memakan daun-daun tanaman, mengurangi luas permukaan daun dan mengganggu fungsi fisiologis tanaman yang berpengaruh terhadap produktivitas tanaman,“ sambung Ikhsan.

Lebih lanjut Ikhsan menyampaikan manajemen pengendalian atau early warning system, dimana sistem pengendalian yang dilakukan sedari dini, tepat dan terkontrol. Seperti dengan penggunaan pestisida dan formulasi yang berbahaya bagi lingkungan harus dikurangi, pemetaan informasi geografis dan pemetaan lingkungan populasi belalang akan membantu mengatur, mengarahkan survei dan tindakan pengendalian, serta field monitoring yaitu dengan survey lapangan secara teratur dan berkala untuk memantau tahap perkembangan belalang dan fasa.

“Perlu dilakukan juga analisa struktur genetika populasi belalang, sebagai dasar informasi sebaran dan mengetahui sebab terjadinya outbreak berasal dari populasi lokal atau migrasi dari luar daerah/region. Kajian entomologi eksperimental yang meliputi kajian perilaku dan fisiologi, serta pengujian tingkat kerentanan terhadap berbagai jenis insektisida,” jelasnya.

Ikhsan menyampaikan terdapat dua tahapan utama kajian “outbreak” belalang kembara, yaitu tahap pertama, pengumpulan data dasar dan penyusunan strategi pengendalian, data dasar meliputi informasi dinamika populasi sebaran, informasi iklim, serta survei dan wawancara dengan dinas terkait dan petani terdampak.

“Strategi pengendalian difokuskan pada usaha menurunkan populasi secara cepat menggunakan berbagai pendekatan, seperti pengendalian kimiawi (aplikasi pestisida yang tepat), biologi (predator alami), dan sosial-ekonomi (belalang olahan sebaga isumber protein alternatif),” jelasnya

Tahap kedua, pengumpulan data tingkat lanjut dan penyusunan strategi mitigasi untuk mencegah berulangnya outbreak. Data tingkat lanjut meliputi data struktur genetik populasi belalang, yang di peroleh dari spesimen belalang di empat kabupaten terdampak di Pulau Sumba NTT (Sumba Barat, Sumba Barat Daya, Sumba Tengah, dan Sumba Timur). Pemeliharaan serangga uji di Laboratorium untuk kajian ekperimental, yaitu pengujian tingkat kerentanan (susceptibility) belalang terhadap beberapa jenis bahan aktif insektisida.

“Data struktur genetika populasi, hasil kajian perilaku dan fisiologi belalang kembara sangat penting untuk perumusan strategi mitigasi dan metode pengendalian berkelanjutan yang efektif,” ungkap Ikhsan.

Sebaga informasi webinar ini menghadirkan narasumber lainnya, yaitu Direktur Direktorat Perlindungan Tanaman Pangan, Dirjen Tanaman Pangan, Kementerian Pertanian, Mohammad Takdir Mulyadi; Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, Kementerian Pertanian, Nyoman Widiarta; Kepala UPT Proteksi Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Nusa Tenggara Timur, Gabriel G. Ben, dan Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura Kabupaten Sumba Barat Daya, Marselinus Salomon Reda Lete, serta dimoderatori oleh Kepala Pusat Riset Tanaman Pangan BRIN, Yudistira Nugraha. (wt/ ed. sl)

Sebarkan