Maros, Humas BRIN. Sebanyak 42 ASN Balai Penelitian Tanaman Serealia (BPTS) telah beralih ke BRIN. Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Laksana Tri Handoko mengatakan, awal Juni 2022 akan disegerakan pelantikan fungsional peneliti eks Kementerian Pertanian dan Kementerian Kelautan dan Perikanan. Sebelumnya, periset yang bekerja di Balitbang diberikan opsi, tidak dipaksa pindah. Badan Kepegawaian Negara (BKN) dan BRIN mensyaratkan para periset yang ingin pindah ke BRIN menulis surat kesediaan pindah dan bermaterai, sebagai bukti resmi.

Mengenai kunjungannya ke BPTS, Handoko menyampaikan bahwa ia dan jajarannya ingin memastikan kondisi aset infrastuktur riset. “Modal utama kita adalah sumber dya manusianya, bukan asetnya. Tidak mungkin BRIN menerima SDM tanpa disertai aset yang mendukung riset,” ujarnya saat berdialog dengan para periset BPTS di BPTS Maros (25/5).

BRIN menurutnya, tidak mungkin melakukan pembelian aset. BRIN tidak akan memelihara aset yang tidak dimanfaatkan secara produktif oleh para perisetnya. “BRIN tidak menggunakan manajemen operasional. Kita melakukan manajemen ASN berbasis kinerja, bukan sekedar administratif,” imbuhnya.

Handoko menekankan konsep bahwa BRIN akan melakukan riset jika ada perisetnya. Terkait alat dan laboratorium (lab), ia yakin BRIN bisa melengkapinya. Konsep lainnya, periset bisa melakukan kolaborasi dengan industri atau perusahaan swasta yang memiliki bidang yang sama. Misalnya perkebunan PTPN, dan lain-lain.

“Basis kinerja kita adalah output murni. Untuk mendapatkan hasil optimal, maka perlu kolaborasi. Kita dibayar untuk melakukan sesuatu untuk masa depan. Untuk melakukan riset, bisa menggunakan lab yang tersedia,” imbaunya.

Kepala BRIN menegaskan, kampus (kantor dan fasilitas riset) yang dibangun oleh harus menjadi center of excellent, satu-satunya yang ada di Indonesia. “Kita BRIN, dibentuk untuk bermanfaat bagi bangsa Indonesia, bukan untuk BRIN sendiri. Periset tetap bisa melakukan riset di level apapun. Tidak harus selalu punya kebun untuk melakukan riset perkebunan. Di Cibinong ada bebagai jenis greenhouse, dan itu bisa dimanfaatkan oleh periset dari manapun,” paparnya. “Periset BRIN harus menjadi enabler bagi periset di luar BRIN lainnya. Karena infrastruktur BRIN lengkap dan terbuka,” ungkapnya.

“BRIN melakukan pengelolaan anggaran yang efektif dan efisien. Untuk itu kita sudah melakukan work from anywhere by sistem, bukan karena pandemi,”lanjut Handoko. “BRIN juga menetapkan target kinerja. Untuk itu ada kewajiban yang harus dipenuhi oleh para periset,” pungkasnya. (drs)

#ReformasiBirokrasiBRIN #ProfesionalOptimisProduktif #ASNBerAkhlak

Sebarkan