Pontianak – Humas BRIN, Badan Riset dan Inivasi Nasional (BRIN) sore ini, Jumat (01/04) melakukan pemantauan hilal di Pantai Kakap, Kecamatan Sungai Kakap, Kabupaten Kubu Raya, Pontianak untuk menentukan awal Ramadhan. Hasil pemantauan ini nantinya akan dijadikan bahan pertimbangan pada sidang isbat yang akan digelar pemerintah pada malam ini, Jumat, 1 April 2022.

Lalu apa saja yang perlu disiapkan oleh tim pemantauan hilal BRIN? Berikut penjelasan Koordinator Balai Pengamatan Antariksa, M. Laode Musafar K. yang sedang mempersiapkan peralatan.

Dijelaskan Laode, alat utama yang digunakan untuk pemantauan adalah teleskop. “Teleskop ini berjenis Sky Rover 70 mm F/6 APO PRO Refractor yang pengadaannya waktu itu tahun 2017 dan masih berfungsi dengan baik,” ujar Musyafar.

Teleskop ini berfungsi untuk mengamati benda langit dari jarak jauh menjadi terlihat lebih jelas. Melalui teleskop ini dapat diketahui posisi ketinggian benda langit seperti bulan terhadap garis batas horizon.

“Sebelum dilakukan pengamatan, teleskop harus dipreparasi, dipastikan bahwa alat telah berfungsi sempurna dengan akurasi yang tinggi,” imbuhnya.

Untuk mengoperasikan teropong ini setidaknya dibutuhkan dua orang dengan kemampuan teknis yang memahami cara kerja tekeskop mulai dari instalasi alat hingga pengoerasiannya. Untuk dapat membaca data hasil pantauan dari teleskop butuh orang yang setidaknya mengerti ilmu astronomi.

Perekayasa Ahli Pertama Balai Pengamatan Antariksa, Angga Yolanda Putra menjelaskan tahapan persiapan sebelum dilakukan pengamatan. “Yang pertama adalah memastikan teleskop berfungsi normal,” ujar Angga.

Selanjutnya memasang tripod di titik yang ditentukan dan dipastikan tidak miring posisinya melalui pengukuran dengan waterpass. Dilanjutkan dengan pemasangan mounting yang menopang teleskop selama pengamatan.

“Tahap berikutnya adalah memasang teleskop di atas mounting dan dilakukan kalibrasi untuk menentukan posisi matahari sudah berada pada posisi yang tepat. Tahap inilah yang menjadi bagian tersulit dan sangat menentukan keakuratan data yang diperoleh,” kata Angga.

Perekayasa Muda, Balai Pengamatan Antariksa, Hadi Rasidi, membenarkan pendapat Angga, kalibrasi menjadi kunci dalam kegiatan pengamatan hilal. Keberhasilan kalibrasi posisi matahari sangat dipengaruhi dari faktor cuaca saat pengamatan, ketika matahari tertutup awan maka posisi matahari sulit dikalibrasi oleh teleskop.

“Jadi yang terpenting adalah kondisi cuaca atau awan tidak menutupi obyek yang diamati meskipun dilokasi pengamatan turun hujan, masih dapat dilakukan kalibrasi,” kata Hadi.

“Sebaliknya, meskipun di lokasi pengamatan tidak hujan namun matahari tertutup awan, maka akan sulit dilakukan pengamatan,” tambah Hadi.

Dikatakan Hadi, dalam kondisi normal, peparasi teleskop termasuk melakukan kalibrasi untuk teleskop yang berbasis manual dibutuhkan waktu 30 menit. Lain halnya bila menggunakan teleskop yang digital dan serba otomatis, untuk melakukan kalibrasi tidak dibutuhkan waktu yang lama.

Hadi berharap, pengamatan hilal kali ini dapat berjalan lancar. “Semoga cuaca hari ini bagus dan pengamatan dapat dilakukan dengan baik,” pungkasnya. (pur)

Sebarkan