Jakarta – Humas BRIN, Istilah Revolusi Industri 4.0 sudah satu dekade sejak pertama kali muncul, sejak diperkenalkan Profesor Wolfgang Wahlster, Director and CEO of the German Research Center for Artificial Intelligence, saat berpidato pada upacara pembukaan Hannover Messe Fair April 2011. Konteks penggunaan istilah tersebut adalah bagaimana perusahaan dapat sukses di wilayah dengan upah tinggi pada persaingan global. Dia menyarankan bahwa kita harus siap menghadapi Revolusi Industri ke-4 yang didorong oleh Internet.

Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Laksana Tri Handoko memandang, penerapan Artificial Intelligence (AI) di industri kreatif meningkat drastis dalam lima tahun terakhir. Hal tersebut seperti dua sisi mata uang, satu sisi kita ingin memastikan bahwa AI akan memberikan begitu banyak manfaat dalam meningkatkan produktivitas para pekerja, penyedia, ilmuwan, dan insinyur di sektor industri kreatif, untuk menanamkan inovasi ke setiap sudut kepentingan misi dalam menciptakan pertumbuhan ekonomi, kepuasan pelayanan pelanggan/konsumen, dan meningkatkan standar hidup masyarakat.

“Di sisi lain, kita harus menyadari bahwa laju cepat Revolusi Industri 4.0 dapat menciptakan beberapa kecemasan terutama karena dapat dipahami bahwa hal itu membawa lebih banyak ancaman daripada kepercayaan kepada anggota masyarakat yang lebih lemah, yang tidak dapat beradaptasi akan perubahan yang cepat. Ribuan profesi manual dan pekerja kasar akan segera berkurang, atau upah pekerja biasa mungkin dengan cepat dinilai memiliki kekuatan yang lebih kecil untuk mengimbangi kenaikan biaya,” jelas Kepala BRIN pada Pembukaan ASEAN Workshop on 4th Industrial Revolution: Artificial Intelligence Implementation in Creative Industry, Kamis (25/11).

Handoko menyambut baik akan adanya peran ASEANS’ Committee on Science, Technology, and Innovation (COSTI) – sebagai badan yang berwenang untuk mengelola sains, teknologi, dan inovasi dalam badan formal ASEAN, yang berkomitmen untuk fokus pada upaya mempersiapkan masyarakat ASEAN menghadapi fenomena disrupsi teknologi akibat Revolusi Industri ke-4. “Saya percaya bahwa krisis ekonomi di seluruh dunia yang sedang berlangsung membawa tantangan yang lebih untuk menggugah pikiran kita semua membantu kawasan ASEAN membangun kembali perekonomian,” lanjut Handoko.

Menurut Handoko, penurunan laju ekonomi bersama yang dialami negara ASEAN saat ini sebenarnya membawa peluang lebih besar bagi para inovator teknologi untuk menawarkan solusi tajam bagi pemerintah untuk mendengar, karena kita lebih termotivasi untuk mendengar ide-ide inspiratif baru yang hanya dapat ditawarkan oleh masyarakat ilmiah. Melalui “Peta Jalan ASEAN untuk Penelitian dan Pengembangan Kecerdasan Artifisial”, Kepala BRIN meyakini program tersebut akan secara efektif untuk membangun peran kontributif bersama mengatasi masalah mendasar tentang kekhawatiran perubahan yang cepat oleh Revolusi Industri 4.0.

“Saya yakin bahwa ASEAN COSTI dapat memimpin transformasi kawasan melalui berbagi keahlian dan pelatihan kelas dunia. Saya yakin ASEAN-COSTI memiliki niat untuk menghadirkan kolaborasi penelitian mutakhir dengan menarik talenta terbaik dunia di luar ASEAN sebagai cara untuk membuka solusi bagi masyarakat kita untuk menjadi pusat perhatian gerakan Revolusi Industri 4.0,” ujar Handoko.

Pada tanggal 10 November 2021, BRIN baru menyelenggarakan konferensi virtual dan pameran bernama Artificial Intelligence Innovation Summit (AIIS) 2021. Kami menyadari bahwa orkestrasi penelitian kecerdasan buatan dan inovasi, yang merupakan salah satu inisiatif dalam Strategi Nasional Kecerdasan Artifisial yang disusun oleh BRIN, sangat penting untuk adopsi teknologi AI di Indonesia.

“Dalam hal ini, saya mendukung ASEAN COSTI untuk melihat bagaimana divisi teknologi regional dapat bekerja secara sinergis untuk lebih menopang sektor industri kreatif kita. Sehingga, masyarakat ASEAN dapat menikmati sepenuhnya janji teknologi canggih yang diterapkan pada sektor ini sebagai representasi nyata dari Revolusi Industri 4.0,” jelasnya.

Sementara itu Director of ASEAN Integration Monitoring Directorate, ASEAN Economic Community Departement, Ahmad Zafarullah Abdul Jalil, mengungkapkan negara kawasan ASEAN diberkahi dengan kekayaan warisan budaya yang dapat didorong menumbuhkan kreativitas bersama dalam agenda transformasi digital saat ini. “Jika semua itu bisa kita kembangkan bersama dengan AI, maka akan menumbuhkembangkan potensi pada industri kreatif di ASEAN. AI perlu dipandang sebagai kolabolator, AI dapat dijadikan sebagai sarana untuk meningkatkan konten kreatif mendukung ekonomi industri kreatif,” paparnya.

“Bersama kita perlu memajukan dan mengeksplor akan apa yang dapat ditawarkan AI, seperti efisiensi, relevansi perkembangan teknologi, dan konektivitas global. Melalui agenda ini saya menantikan peran dan dukungan kita bersama dalam pemanfaatan AI pada Industri Kreatif dan ekonomi regional,” ucap Ahmad Zafarullah. (Ap)