SIARAN PERS
BADAN RISET DAN INOVASI NASIONAL
NO: 41 /SP/HM/BKPUK/IV/2022

Melalui INASA, BRIN Turut Menangani Penyelenggaraan Keantariksaan Internasional

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) telah membentuk sekretariat Indonesian Space Agency (INASA). Sebelumnya, INASA berada di bawah LAPAN (Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional) yang kini telah terintegrasi ke dalam BRIN. INASA secara hukum berada di bawah BRIN dan bertanggung jawab menangani urusan keantariksaan internasional termasuk salah satunya menjadi focal point pada kegiatan United Nations Committee on the Peaceful Uses of Outer Space (UNCOPUOS).

Jakarta – 11 Mei 2022.  BRIN telah membentuk Sekretariat INASA pada Maret 2022. INASA dibentuk untuk mewakili Indonesia pada sejumlah pertemuan internasional yang terkait dengan keantariksaan, yang sebelumnya dilakukan oleh LAPAN. Selain itu, INASA dibentuk untuk melakukan beberapa kewajiban internasional, di antaranya mendaftarkan benda-benda antariksa milik Indonesia.

Sekretariat INASA-BRIN dipimpin oleh Erna Sri Adiningsih sebagai Direktur Eksekutif yang sekaligus berperan sebagai National Focal Point (NFP). Ia menyebutkan, sebagai institusi yang mendapatkan mandat dalam penyelenggaraan keantariksaan, peran utama BRIN adalah melakukan koordinasi dengan instansi-instansi. “Koordinasi yang dilakukan INASA terkait mempersiapkan delegasi Indonesia, menyiapkan dan merumuskan policy paper bersama kementerian/lembaga terkait, dan mengoordinasikan partisipasi Indonesia dalam kegiatan United Nations Committee on the Peaceful Uses of Outer Space (UNCOPUOS). UNCOPUOS merupakan Komite PBB untuk Pemanfaatan Damai Ruang Angkasa, seperti persidangan, working group, dan lain sebagainya,” papar Erna.

UNCOPUOS sendiri, kata Erna, memiliki tugas utama untuk meninjau dan mengedepankan kerja sama internasional dalam penggunaan pemanfaatan luar angkasa secara damai, serta mengeluarkan hukum-hukum terkait penjelajahan luar angkasa. “UNCOPUOS memiliki arti penting bagi Indonesia, karena melalui UNCOPUOS Indonesia dapat menyampaikan agenda-agenda yang memuat kebijakan Indonesia yang mendukung kepentingan nasional dan juga sebaliknya,” tegasnya.

Sebagai informasi, salah satu aktifitas pertama dari sekretariat INASA pada tahun 2022 adalah berpartisipasi sebagai anggota delegasi pertemuan forum Legal Sub-Committee (LSC) of UNCOPUOS yang dilakukan secara hybrid pada 28 Maret – 8 April 2022. Delegasi Indonesia sendiri dipimpin oleh Duta Besar Indonesia di Wina, Damos Dumoli Agusman yang juga sekaligus merupakan Utusan Tetap Indonesia untuk PBB (Permanent Mission to the UN).

Erna menjelaskan, terdapat 3 fokus agenda yang disampaikan Indonesia pada forum LSC, yakni pembahasan mengenai Pengertian dan Pembatasan Ruang Angkasa (Definition and Delimitation of Space), Geostationary Orbit (GSO), dan Aktifitas Satelit Kecil (Small Satellite Activities).

Selanjutnya, Erna menjelaskan, pada pembahasan agenda pertama, Indonesia menyampaikan kembali pendiriannya tentang diperlukannya penetapan 100-110 km sebagai batas legal ruang, yang didasarkan pada karakteristik ilmiah atmosfer, kapasitas ketinggian pesawat tertinggi, dan perigee pesawat luar angkasa terendah. “Dalam hal ini, kepastian mengenai peraturan batas ruang yang diakui secara internasional sangat diperlukan untuk penerapan hukum udara (kedirgantaraan) dan ruang angkasa,” tuturnya.

Kemudian terkait agenda kedua, ia melanjutkan, Indonesia menyampaikan bahwa karena karakteristik orbit geostasioner  (GSO) yang spesifik dan terbatas, maka diperlukan adanya suatu rezim hukum khusus (sui generis regime) terhadap GSO yang merupakan spesialisasi/kekhususan dari rezim hukum internasional yang telah ada atau telah mengatur sebelumnya. Hal itu menurutnya, untuk memastikan adanya akses yang merata dan adil bagi negara-negara berkembang. “Penggunaan GSO diharapkan dapat diterapkan secara adil dan memperhatikan kepentingan negara-negara khususnya negara yang memiliki karateristik alamiah yang unik dengan GSO,” tegas Erna.

Dan terakhir dijelaskannya, pada agenda ketiga, Indonesia membahas terkait penggunaan satelit kecil yang lebih banyak dibutuhkan oleh negara-negara berkembang. “Oleh karena itu, akses untuk aktifitas dari satelit-satelit tersebut perlu dijamin, dengan mempertimbangkan trend perkembangan dan kondisi mega rasi bintang dan puing-puing luar angkasa,” ungkapnya. Pada kesempatan yang sama, Indonesia juga menyampaikan bahwa di tahun 2022 akan menjadi tuan rumah dari perhelatan Space20, yang merupakan side event dari pertemuan G20 terkait pemanfaatan teknologi keantariksaan untuk perekonomian. Serta pertemuan The 4th Ministerial Conference on Space Application for Sustainable Development in Asia Pacific yang merupakan kegiatan di bawah koordinasi United Nations Economic and Social Commission for Asia and the Pacific (UNESCAP).

Sebarkan