Bogor – Humas BRIN. Di tengah isu lingkungan yang terus bergulir, krisis energi turut mengemuka dalam perbincangan dunia. Dalam upaya memberikan solusi, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melalui Pusat Riset Konservasi Tumbuhan, Kebun Raya, dan Kehutanan bekerjasama dengan beberapa pusat riset di lingkungan Organisasi Riset Hayati dan Lingkungan melakukan kolaborasi riset dengan Universitas Kyoto, Jepang.

Kerja sama tersebut dilakukan melalui SATREPS (Science & Technology Research Partnership for Sustainable Development). Sejak 2016, telah dirintis kajian pengembangan energi alternatif dengan memanfaatkan ketersediaan biomassa. Proyek SATREPS tersebut didukung dan didanai pula oleh pihak Japan International Coorporation Agency (JICA) dan Japan Science and Technology (JST).

Saat membuka The 6th SATREPS Conference, Kepala BRIN Laksana Tri Handoko menandaskan tentang kiprah riset. “Konferensi ini dapat membuka cakrawala baru dari sisi sains dan teknologi, terutama dalam pemanfaatan biomassa bagi solusi energi alternatif, demi keberlanjutan kehidupan dan ekosistem yang lebih baik,” ungkapnya, Jum’at (25/3).

Fokus riset dalam proyek tersebut, Handoko menjelaskan, utamanya mengembangkan teknologi dalam meningkatkan produktifitas lahan yang ditumbuhi alang-alang/marginal. Caranya, dengan memanfaatkan biomassa dalam produksi energi dan material terbarukan.

“Dalam rentang enam tahun kegiatan, tentunya berbagai capaian telah di raih, antara lain metode aplikasi pupuk untuk tanaman yang menghasilkan biomassa energi tinggi, protokol dalam memperbaiki lahan terdegradasi, dan teknologi ramah lingkungan,” ujar Kepala BRIN. Metode tersebut, menurutnya, untuk memproduksi bahan berbasis lignoselulosa menggunakan tanaman sorgum dengan sistem intercropping. Ia menyebutkan, hasil telaah tersebut akan terdokumen dalam bentuk publikasi ilmiah.

Handoko menegaskan bahwa kegiatan SATREPS sejalan dengan tujuan Sistem Nasional Riset dan Teknologi Indonesia, yaitu pengembangan, kemitraan, pemanfaatan dan kompetensi riset dan teknologi. Ia menegaskan, kolaborasi riset juga harus menjawab tantangan global, kompetensi global, pengembangan kapasitas dan juga peningkatan perekonomian nasional.

Sementara itu Kepala Organisasi Riset Hayati dan Lingkungan Iman Hidayat mengatakan, teknologi efisien yang dapat mengubah biomassa menjadi energi masih perlu dikembangkan. “Hasil kajian menunjukkan bahwa biomassa lignoselulosa dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi alternatif, karena ketersediaan bahan yang cukup banyak. Namun, penyediaan materi secara terus menerus masih menjadi tantangan utama,” terang Iman.

Lebih lanjut Iman mengatakan, Konferensi SATREPS ke-6 akan menjadi model yang baik untuk memperkuat dan mengembangkan kemitraan penelitian antara Indonesia dan Jepang. Konferensi ini menjadi forum yang menarik untuk berbagi dan mendiskusikan kemajuan kegiatan SATREPS.

Sebagai informasi, kesinambungan Proyek SATREPS ini akan dilakukan melalui kerjasama penelitian dan inovasi pemanfaatan teknologi dengan beberapa pihak swasta. Antara lain, perusahaan bahan bakar nabati, perusahaan produksi biomaterial, Pembangkit Listrik Tenaga Listrik, Perusahaan Listrik Negara, dan pemangku kepentingan lainnya. (mkr/ed: drs)

Sebarkan