Jakarta-Humas BRIN. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) diharapkan dapat membangun database berbasis big data sebagai portal atau aplikasi satu pintu, untuk akses ke semua database manuskrip. Plt Kepala Organisasi Riset Arkeologi, Bahasa, dan Sastra (Arbastra) BRIN, Hery Yogaswara turut mendukung adanya upaya tersebut.

“Tentu saja keahlian ini perlu didukung juga dengan ekosistem riset yang lain, termasuk adanya database manuskrip. Saya menyambut baik pertemuan hari ini, yang berbicara tentang ekosistem riset secara keseluruhan,” kata Hery saat memberikan sambutan kegiatan Forum Diskusi MLTL Seri ke-3 secara daring, Rabu (25/05).

Seperti diketahui, berdasarkan Peraturan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) No. 12 tahun 2022, Pusat Riset Manuskrip, Literatur, dan Tradisi Lisan (PR MLTL), ditetapkan sebagai salah satu pusat riset di bawah Organisasi Riset Arkeologi, Bahasa, dan Sastra (OR Arbastra) – BRIN. Hery menyampaikan untuk menggerakan organisasi tersebut, ada tiga hal penting yaitu SDM unggul & kompeten, database, dan jejaring global.

“Saya melihat ada perkembangan penting dari manuskrip sebagai bagian dari knowledge production. Produksi pengetahuan itu dapat dilakukan pengembangan ilmu pengetahuan tentang manuskrip itu sendiri dan berkorelasi dengan ilmu-ilmu lainnya,” ungkapnya.

Bahkan, lanjut Hery, sekarang banyak hal terkait kebencanaan yang meminjam metode manuskrip. Dengan manuskrip juga bisa diketahui eksistensi dari sebuah komunitas dan sangat dibutuhkan keahlian dalam bidang manuskrip.

Forum diskusi ini menghadirkan dua pembicara yaitu Oman Fathurahman (Guru Besar Filologi Fakultas Adab dan Humaniora UIN Syarif Hidayatullah) dan Mu’jizah (Peneliti PR MLTL). Dalam paparannya, Oman berharap, BRIN mampu membangun lanskap penelitian, pengembangan, pengkajian, penerapan, serta invensi dan inovasi di bidang manuskrip. Sehingga tidak hanya melakukan penelitian saja, tapi juga melakukan sesuatu yang bisa berdampak luas kepada ekosistem yang ada.

Jika itu sudah terbangun secara simultan, lanjutnya, maka para peneliti bisa memproduksi ilmu pengetahuan berbasis sumber primer terpercaya. Produknya mengandung novelty (kebaruan) serta genuine (asli), sehingga diakui secara akademisi. “Peneliti jangan mengulang penelitian yang sudah ada!” ujarnya.

Menurutnya, seorang peneliti harus memiliki gairah untuk menghasilkan suatu kebaruan dan hal itu sangat potensial dilakukan di bidang manuskrip. Hal tersebut tentu saja menjadi harapan agar karya-karyanya bisa dikutip para mahasiswa atau peneliti, sehingga bisa diakui secara akademik.

Riset manuskrip dipengaruhi oleh berbagai bidang yang saling berkaitan dan saling mempengaruhi. Untuk itu kerja sama antar pihak serta pelaksanaan secara konsisten sangat menentukan keberhasilan di dalam membangun lanskap riset manuskrip itu sendiri.

Adapun unsur-unsur yang diperlukan dalam ekosistem riset manuskrip meliputi regulasi, pemilik manuskrip, konservasi, dan database berbasis big data. Unsur itu juga butuh dukungan SDM unggul berkualifikasi, jejaring global, media publikasi, serta advokasi. Namun di antara ekosistem tersebut, data base merupakan salah satu infrastruktur riset yang belum tersedia dengan baik.

Untuk itu, dia juga berharap BRIN bisa membangun database berbasis big data sebagai portal atau aplikasi satu pintu, untuk akses ke semua database manuskrip melingkupi seluruh Asia Tenggara, baik berdasarkan kategori bahasa, aksara, tema, dan sebagainya. Sistem satu pintu ini bisa diakses ke semua penerbitan, seperti artikel, buku, dan sebagainya tentang manuskrip nusantara.

“BRIN segera melakukan FGD untuk membuat roadmap penyusunan manuskrip di Indonesia supaya ada panduan untuk menyusun rencana kerja, yang sesuai dengan lanskap infrastruktur yang ideal,” usulnya.

Sependapat dengan hal tersebut, Mu’jizah menyampaikan dari sisi pemanfaatan, masih banyak naskah manuskrip di Indonesia yang tercecer. Keberadaan koleksi juga masih tersebar di mana–mana. Sementara, koleksi tersebut berisi pengetahuan yang sangat banyak dan bervariasi, yang tentunya berkaitan dengan hajat hidup orang banyak.

Padahal, setiap naskah mempunyai konteks kepentingan yang berbeda–beda pada zamannya. Sangat disayangkan jika tidak dikelola dengan baik ke dalam satu sistem big data. Dengan sistem tersebut maka akan mempermudah akses secara bebas oleh siapapun.

“Saya lihat manuskrip itu sebagai bidang yang spesifik, unik, serta mempunyai keberagaman tinggi. Banyak sekali etnis selaku pemilik budaya manuskrip,” ungkapnya.

Ia mengatakan, pengembangan pengetahuan yang ada di dalam manuskrip baik dari aspek wujud yang manapun sangat memerlukan perhatian seluruh masyarakat Indonesia. Sebab, menurut pendapatnya manuskrip itu merupakan kekayaan budaya yang menjadi identitas bangsa Indonesia yang bermartabat. “Karena kaum intelektual kita sudah mewarisi pengetahuan yang sangat kaya di dalam naskah tersebut. Sudah kewajiban kita mengangkat, mengembangkan, dan juga mengaktualiasikan,” jelasnya.

Mu’jizah menekankan, pemanfaatan infrastruktur manuskrip berdampak pada hasil penelitian menjadi lebih meningkat, lebih inovatif, dan berkelanjutan. Dengan pengembangan penelitian dan ekosistem yang sudah terbangun, para peneliti sudah bisa meningkatkan kualitas dan kuantitas dengan taraf mengglobal. Karena jaringan yang dibangun bisa terealisasi.

Ia memberikan contoh pemanfatan data manuskrip yang dilakukan secara multidisiplin dan interdisiplin, yang merupakan kekhasan kajian manuskrip yang sangat mungkin dilakukan. Hal itu bisa membuka peluang-peluang riset di bidang manuskrip. (NS)

Sebarkan