Jakarta – Humas BRIN. Fenomena ‘brain drain’, di mana talenta nasional memilih pergi dan bekerja di luar negeri, seolah menantang Indonesia untuk berupaya mempertahankan dan memanggil pulang diaspora. Menjadi leading sector dalam Gugus Tugas Manajemen Talenta Nasional yang dibentuk Presiden Joko Widodo, bagaimana Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menyikapinya?

Kepala BRIN, Laksana Tri Handoko menjelaskan, Gugus Manajemen Talenta Nasional terdiri dari tiga sektor. “Posisi dan peran BRIN ada pada riset dan inovasi, olahraga di Kemenpora, serta seni dan budaya Kemendikbudristek,” jelasnya dalam wawancara Radio Idola (7/2) melalui sambungan telepon.

Mengalirnya talenta nasional ke luar negeri, Handoko mengajak untuk melihat dahulu apa objek yang mereka riset. “Jika memang tidak atau belum tersedia di Indonesia, maka tentu risetnya tidak bisa dilakukan di sini,” tuturnya.

Ia mengatakan, sejak 2019 BRIN sudah berhasil menarik diaspora. “Tahun lalu kami membuka 325 formasi kandidat berlatar belakang S3. Ke depan, 500 orang setiap tahun,” terangnya.

Menurutnya, ada dua hal yang membuat agar mereka (diaspora) mau kembali pulang.  “Pertama, lingkungan. Ekosistem yang membuat mereka melanjutkan passion sesuai bidang dan kepakarannya. Alat dan manajemen riset minimal sudah harus mendekati standar global,” sebutnya. “Ke dua, tidak bisa dihindari tentang finansial. Saat ini jika dibandingkan Malaysia kita sudah kompetitif bahkan lebih menarik karena di sini bisa dapet permanen posisi. Kalo dari sisi total take home pay sudah mirip,” ulasnya.

Belum lama, Presiden Jokowi meminta Ainun Najib bisa kembali ke Indonesia dan berharap pemikirannya dapat memberi kontribusi lebih untuk Indonesia. Mengenai hal itu, Handoko menanggapi bahwa pada kasus tertentu bisa saja kontribusi dari luar, tidak harus selalu balik ke Indonesia. “Ekosistemnya sudah mendukung belum untuk bidang dan kepakarannya? Itu yang harus dipastikan dulu,” tegasnya.

Handoko berpendapat, apa yang disampaikan presiden itu salah satu contoh, bukan semata Ainun harus balik. “Presiden ingin menunjukkan ada (SDM) yang bagus di sana (Singapura). Jika ekosistem tidak mendukung malah bisa hancur. Dia di sana juga bagian dari suatu sistem. Nah, apakah di sini sudah ada sistem serupa dan mendukung (bidang dan kepakarannya)?” imbuhnya.

Mengenai membangun ekosistem riset, Handoko mengungkapkan bahwa Indonesia sudah mulai melakukannya. “Kita sudah, sedang, dan akan terus melakukannya sangat cepat, tapi bidang kepakaran kan sangat banyak. Untuk riset, kita sudah melakukan cukup baik, lebih siap,” urainya.

“Kita terus berupaya dan upaya menarik sebanyak mungkin (diaspora) sudah betul. Ada banyak kasus juga mereka tidak perlu balik tapi kita minta agar diajak berkolaborasi, jadi harus dilihat kasus per kasus,” paparnya.

Di akhir wawancara, Handoko menandaskan, cara mempertahankan dan menarik talenta bangsa kita adalah membangun ekosistem riset yang terkait dengan bidang mereka. Di BRIN, sebutnya, tidak hanya talenta dalam negeri, tetapi juga talenta asing. “Semua negara melakukan itu, kalau kita tidak melakukan itu juga nanti kita ketinggalan. Untuk kasus riset, periset harus melakukan risetnya di sini, itu yang terbaik,” pungkasnya. (drs)

Sebarkan