Jakarta – Humas BRIN. Lahan Basah telah menjadi salah satu pilihan manusia sebagai hunian sejak dahulu kala. Banyak situs arkeologi yang ditemukan di daerah lahan basah dan mempunyai karakter untuk peradaban tersendiri.

“Dari sisi produksi ilmu pengetahuan, luas lahan basah mencapai 20 % dari daratan Indonesia,” ungkap Kepala Organisasi Riset Arkeologi, Bahasa, dan Sastra (OR Arbastra), Herry Yogaswara dalam Webinar Series #2 secara daring dengan tema Prospek Arkeologi Lahan Basah dalam Riset Arkeologi dan Pendayagunaan Kekayaan dan Budaya, Jumat (27/5).

Di sisi lain, lanjut Herry, jika bicara tentang kebijakan, sebetulnya ada hal lain yang belum disentuh di dalam prosesnya. Sebagai contoh dengan ditemukannya berbagai tinggalan di daerah rawa atau daerah gambut yang ada di wilayah Muaro Jambi dan sekitarnya.

Menurutnya, pemerintah juga harus memberikan perlakuan khusus terhadap tinggalan atau situs-situs yang ada di suatu wilayah tertentu. Hal itu untuk menjaga keberadaan tinggalan atau situs-situs yang ada di wilayah tersebut, termasuk dari ancaman kebakaran hutan dan lain-lain.

Hal demikian bukan hanya persoalan bagi Sumatera tetapi juga wilayah-wilayah gambut lainnya, seperti Kalimantan, khususnya Kalimantan Timur dan daerah-daerah lain yang akan berdampak pada pembangunan Ibukota Negara. “Jadi pengetahuan tentang berbagai arkeologi, termasuk juga temuan dan juga hal-hal yang terkait dengan situs yang ada di daerah lahan basah ini perlu dieksplorasi lebih jauh,” tegasnya.

Peneliti Ahli Utama Pusat Riset (PR) Arkeologi, Fadlan S. Intan menjelaskan lahan basah dikenal sejak adanya Konvensi Ramsar pada tahun 1971 yang dihadiri oleh 18 negara. Konvensi Ramsar adalah perjanjian internasional untuk konservasi dan pemanfaatan lahan secara berkelanjutan. Kemudian oleh pemerintah Indonesia pada tahun 1991 telah dirativikasi dengan Keppres No. 48 Tahun 1991 tentang Pengesahan Convention On Wetlands Of International Importance Especially As Waterfowl Habitat.

Sebagai negara yang telah meratifikasi Konvensi Ramsar, maka Indonesia berkewajiban tidak hanya melakukan perlindungan terhadap lokasi lahan basah yang terdaftar dalam Situs Ramsar. Namun juga Pemerintah bisa merencanakan pembangunan untuk memanfaatkan lahan basah di wilayah – wilayah tersebut secara bijaksana.

Dalam paparannya yang berjudul “Situs Air Sugihan: Jejak Sungai Purba di Lahan Basah”, Fadlan menjelaskan tentang Situs Air Sugihan Sektor Banyubiru. Lokasi sektor Banyubiru termasuk wilayah Desa Banyubiru, Kec. Air Sugihan, Kab. Organ Komering Ilir (OKI), Prov. Sumatera Selatan, yang termasuk area Transmigrasi Air Sugihan Kanan.

Posisi Air Sugihan yang berada di muara sungai di jalur pelayaran, memungkinkan adanya komunikasi dengan daerah luar sejak awal. “Wilayah tersebut merupakan pintu masuk pengaruh budaya dari luar yang nantinya akan menumbuhkan peradaban besar di bagian barat Nusantara,” kata Fadlan.

Sejumlah penelitian di wilayah Air Sugihan pantai timur Sumatera Selatan di awali tahun 1988 dengan ditemukannya berupa guci dari Dinasti Sui (6-7 M), manik-manik (kaca Indo-Pasifik, kaca emas, dan batu komelian) yang berasal dari Mesir (abad ke 4-11 M). Berdasarkan temuan ini, menurut Fadlan, menguatkan dugaan bahwa telah ada permukiman kuno pra-Sriwijaya di wilayah Air Sugihan.

Bagi arkeolog, lahan basah (wetland) ibarat sebuah buku yang setiap halamannya berisi tentang budaya masa lalu dengan segala tingkat peradabannya. Peneliti Senior Puslit Arkenas, Nurhadi Rangkuti mengistilahkan dengan “Arkeologi Lahan Basah” atau Wetland Archaeology. Ia mengungkapkan tentang adanya peradaban kuno yang muncul dari lahan basah, sehingga sudah tiba waktunya memprioritaskan penelitian, pelestarian, dan pemanfaatan situs-situs arkeologi di lahan basah.

Kegiatan yang dilaksanakan oleh PR Arkeometri – OR Arbastra ini juga menghadirkan narasumber Bambang Budi Utomo selaku Peneliti Senior Arkeologi Lahan Basah di Indonesia. Melengkapi paparan Fadlan, Bambang membahas prospek pengembangan riset arkeologi lahan basah di Indonesia, khususnya Pantai Timur Sumatera.

Sementara untuk menjawab tantangan pengembangan riset di bidang tersebut, kegiatan ini juga menghadirkan pembicara Pierre-Yves Manguin yang merupakan Peneliti Senior di Ecole Francaise d’Extreme-Orient (EFEO). Manguin membahas tentang kerja sama arkeologi lahan basah antara BRIN dengan EFEO (French School of Asian Studies). (arial)

Sebarkan