Jakarta – Humas BRIN. Profesor Riset bidang Hubungan Internasional, Siswanto dari Pusat Penelitian Politik Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) telah di kukuhan sebagai Profesor Riset pada Kamis, 23 Desember 2021.  Dalam prosesi pengukuhan, Siswanto berorasi dengan topik “Pengembangan Model Mediator Rasional Berbasis Perubahan Kebijakan Amerika Serikat dan Aksi Mediasi dalam Sengketa Irian Barat”.

Bidang Hubungan Internasional inilah yang melatar-belakangi untuk memupuk ketertarikan pada peminatan dunia penelitian, dan mengembangkan pengetahuan atas keingintahuan pada negara adidaya yaitu Amerika Serikat (AS).

Menurut Siswanto, kajian tentang kebijakan luar negeri AS , perlu dilakukan agar dampak kebijakan globalnya tidak merugikan kepentingan nasional. “Sebaliknya justru Indonesia perlu punya kemampuan membangun strategi diplomasi yang dapat mengubah potensi konflik menjadi potensi kerja sama dengan AS,” ungkapnya. “Jadi,upaya memahami perubahan kebijakan AS dalam sengketa Irian Barat, dilakukan melalui perpektif historis-evolusi dan pendekatan empirisme, yaitu dengan memahami fakta-fakta sejarahnya,” imbuhnya.

Topik kajian menjadi perhatian karena memang pada kenyataannya konflik Papua itu sampai hari ini belum selesai dan berlarut-larut. Hal ini disampaikan Siswanto. “Dalam perspektif lain, agar orang mengetahui sejarah  integrasi Papua, dengan tidak menilai kondisi Papua seperti saat ini,” sebut Siswanto. Serta melihat pada kondisi Papua sebelumnya, dimana poses ini terjadi apakah hanya melibatkan Belanda dan Indonesia atau juga melibatkan negara lain.

“Studi, menunjukkan ada faktor lain yang juga penting dalam persoalan Papua yaitu peran Amerika Serikat yang sangat signifikan dengan berhasil menggiring Indonesia dan Belanda menuju ke meja perundingan di Virginia, tepatnya di kota Middleburg. Dalam perundingan ini menghasilkan kesepakatan bersama tentang Papua yang menuju pada perjanjian New York di tahun 1962,” ungkap Siswanto.

Dalam masalah penyelesaian sengketa Papua, dikatakan Siswanto ada dua faktor penting, yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internalnya adalah bagaimana para elit politik di Amerika Serikat, khususnya di era Presiden Kennedy itu memberikan rekomendasi kepada pemerintah Amerika Serikat untuk perlu mengubah kebijakan atas sengketa Irian Barat (saat ini Papua), dimana sebelumnya pasif netral menjadi aktif mediasi.

Adapun, faktor eksternalnya dengan meningkatnya eskalasi konflik antara Belanda dan Indonesia, di awal 1962 yaitu dengan adanya Trikora. “Dimana  Amerika Serikat melihat eskalasi konflik ini yang nantinya akan terjadi perang terbuka. Dan dikhawatirkan oleh Amerika Serikat dengan masuknya komunis ke Indonesia melalui Uni Soviet,” pungkas Siswanto. (suhe/ed:mtr)

Sebarkan